KAJIAN

ARTIKEL


ISRA MI'RAJ DALAM PERSPEKTIF TASAWUF




idrisiyyah.or.id | 

(Mutiara Qini malam ke-3)

Syekh Muhammad Amin al Kurdi Rhm mendefinisikan Tasawuf dengan:

عِلْمٌ يُعْرَفُ بِهِ اَحْوَالُ النَّفْسِ مَحْمُوْدُهَا وَمَذْمُوْمُهَا وَكَيْفِيَةُ تَطْهِيْرِهَا مِنَ الْمَذْمُوْمِ مِنْهَا وَتَحْلِيَتُهَا بِالْإِتِّصَافِ بِمَحْمُوْدِهَا وَكَيْفِيَةُ السُّلُوْكِ وَالسَّيْرِ اِلىَ اللهِ تَعَالٰى وَالْفِرَارِ اِلَيْهِ.

"Ilmu untuk mengetahui kondisi jiwa manusia, kondisi yang terpuji maupun yang tercela, mengetahui bagaimana cara membersihkannya dari kondisi yang tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat yang terpuji serta untuk mengetahui tata cara/proses perjalanan menuju kepada Allah SWT". (Tanwir al Qulub fi Mu`amalah `Allam al Ghuyub, hlm. 406)

Ada beberapa kesamaan peristiwa Isra Mi'raj dengan definisi Tasawuf tadi,

1. Proses pembersihan hati, sebagai persiapan menghadap kepada Allah. Sebelum Isra Mi'raj dada Nabi Saw dibersihkan dan didandani oleh Jibril As. Sebagai umatnya kita perlu membersihkan hati dari sifat-sifat yang kotor (takhliyyah) dan menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji (tahliyyah). Untuk menghadap kepada Allah diperlukan hati yang bersih. Ini yang menjadi dasar Ilmu Tasawuf.

2. Tujuan Mi'raj adalah menghadap Allah. Maka bagi setiap murid harus punya goal (hadf). Bagaimana bagi setiap murid menjadikan Allah sebagai tujuan. Maka dalam Qur'an disebutkan, "berlarilah kalian kepada Allah ...". Hijrah hati dari mengejar dan menyukai dunia menjadi mengejar Allah. Apabila hati sudah dikuasai dunia (makhluk) betapa berat hati untuk menghadap Allah.

Ada kisah seorang ulama sufi bernama Malik bin Dinar, yang berasal dari keluarga bangsawan. Hobinya berburu di hutan. Suatu waktu ia akan berburu beserta pengawal-pengawalnya. Di tengah perjalanan ia melihat seekor gagak hitam. Sampai pada akhirnya gagak itu turun di satu tempat. Di situ ada seseorang yang dikerangkeng tangan kakinya diikat. Lalu gagak itu menyuapi mulut orang itu makanan. Lalu Malik bin dinar bertanya kepada orang itu, "Sudah berapa lama ia diikat dan siapa yang memberi makan selama ini?" Lalu dijawab oleh orang itu, "Sudah lama aku diikat dan burung gagak itulah yang memberikan aku makan". Mendengar pengakuan orang itu bergetarlah hati Malik bin Dinar. Ternyata ia selama ini gelisah terhadap rezeki. Padahal Allah telah menjamin rizki setiap makhluknya. Hatinya tersentuh dan tumbuh kesadarannya. Maka sejak itu Malik bin Dinar pergi meninggalkan rumahnya dan pergi mencari Allah dengan perbekalan seadanya. Selama 15 tahun ia berpisah dengan anaknya sampai menjadi ulama sufi. Lalu anaknya bertanya kenapa engkau meninggalkan aku? Lalu dijawab, "aku hijrah meninggalkan makhluk karena 'terbang berburu' mencari kecintaan Allah. Dan aku tinggalkan anakku yatim karena ingin memandang-Mu ya Allah". Itulah perjalanan ekstrim dalam perjalanan spiritualnya mencari Allah. Akhirnya ia menjadi orang yang makrifat kepada Allah.

Datang ke tempat Guru adalah dalam rangka hijrah, dari hati yang dikuasai dunia/makhluk kepada Allah. Usaha memalingkan hati dari makhluk agar menghadap merupakan dasar Ilmu Tasawuf. Allah dijadikan sebagai tujuan, Allah yang menjadi cita-cita, berharapnya kepada kehidupan akhirat, sehingga ketika kita beraktivitas di dunia hati tidak tertipu oleh kesenangan dunia.

Nabi Ibrahim As sebelum dikaruniai anak berusia 80 tahun. Yang dilakukannya adalah hijrah kepada Allah SWT. Buah dari hijrahnya kepada Allah, Nabi Ibrahim As dikaruniai anak.

3. Proses perjalanan ruhani menuju kepada Allah, hingga diperlihatkan Kebesaran dan Keagungan Allah melalui ciptaan-Nya. Mujahadah dan Riyadhah merupakan kunci menghadap kepada Allah. Proses tersebut harus istiqamah. Mujahadah berjuang menundukkan hawa nafsu, Riyadhah melatih jiwa. Menundukkan hawa nafsu merupakan jihad yang besar. Berlangsung seumur hidup. Jihadun nafsi agar nafsu naik levelnya. Jika tidak dilatih, selamanya nafsu berada di level bawah (kelas anak kecil). Nafsu amarah itu seperti anak kecil, menurut para Ulama.

Nafsu Lawwamah, kalau Ammarah hijrah memerangi nafsu. Lawwamah ini sudah mulai ada penyesalan ketika berbuat dosa. Nafsu Mulhimmah, mendapatkan ilham yang positif. Nafsu Mutmainnah, jiwa yang tenang. Nafsu Radhiyah, ridha kepada hukum, takdir Allah. Menerima sekalipun diberi musibah oleh Allah. Nanti akan diberi hikmahnya. Nafsu Mardiyyah, jiwanya diridhai oleh Allah. Ucapan dan tindakannya diridhai-Nya (rodhiyallaahu 'anhu wa rodhuu 'anhu). Rodiitu billaahirobbaa, wabil islaami diinaa, wabi Muhammadin nabiyyaw warosuulaa.

Ending kehidupan adalah panggilan Allah: 'Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan dengan hati yang ridhai dan diridhai, maka bergabunglah ke dalam jajaran hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku". (Q.S. Al Fajr: 27-30)

Ayat ini menunjukkan bahwa ruh yang diberi nikmat (muna'amah) saat kembali tidak sendirian, sebagaimana dijelaskan dalam kitab Ar Ruh, karya Syekh Ibnul Qayyim al Jauziyyah. Nabi Saw juga menyebutkan al mar'u ma'a man ahabb (seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya). Adapun ruh yang disiksa (mu'adzabah) dalam keadaan sendirian.

Allah memberikan nikmat yang kekal dan tak terhingga, padahal hidup manusia hanya sebentar saja. Sebagaimana dikisahkan di zaman Bani Israil, ada orang yang telah membunuh 99 orang dan menggenapkannya dengan membunuh seorang pendeta. Allah menggerakkan batinnya ingin bertaubat, dan pada akhirnya ia masuk surga hanya beda sejengkal lebih dekat kepada tempat hijrah yang akan ditujunya.

- Yang berbahaya adalah orang Alim yang tanggung daripada Tabib yang tanggung, seperti pendeta yang dibunuh dalam kisah di atas, karena salah memberikan petunjuk. - Kisah ini menggambarkan betapa Allah Maha Pengampun bagi hamba yang bersungguh-sungguh dalam taubatnya.

Nafsu Kamilah, adalah nafsu para Nabi dan Mursyid. Kita berharap ketika kembali kepada-Nya nafsu berada di level muthmainnah, radhiyyah, mardhiyyah.

Pejuang Sanusiyyah yang bergelar Singa Padang Pasir, Umar al Mukhtar, ketika ia akan dihukum gantung, beliau membaca ayat ini, yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah, irji'ii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah fadkhulii fii 'ibaadii wadkhulii jannatii. Setelah berjuang maksimal, hatinya mencapai ketenangan dan ridha.

@MK_IDRISIYYAH Kampoeng Futuh, 6 Maret 2021/22 Rajab 1442 H