KAJIAN

ARTIKEL


4 KEUTAMAAN MAJELIS DZIKIR




idrisiyyah.or.id | 

Mutiara Dzikrul Makhsus, 11 Maret 2021

Malam Jum'at banyak keutamaannya. Di antaranya banyak para Wali Allah yang terbuka mata hatinya, terutama di majelis dzikir.

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمُ اللّٰهُ فِيْمَنْ عِنْدَهُ.

Rasulullah Saw telah bersabda: "Tiadalah suatu kaum duduk dan berdzikir kepada Allah kecuali Malaikat mengelilingi mereka dan rahmat menyelimuti mereka, ketenangan diturunkan atas mereka, dan Allah menyebut-nyebut (membangga-banggakan) mereka kepada makhluk yang berada di sisi-Nya". (H.R. Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, Muslim, At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Baihaqi)

1. Haffat-humul malaikah, dikerumuni para malaikat. Majelis dzikir disebut taman surga karena saking indahnya. Jangan berfikir taman surga itu seribu tahun lagi. Bagi orang yang dibisiki malaikat alam akhirat itu begitu dekat. Jika Allah kehendaki, esok kita dipanggil. Meski usia muda harus melakukan persiapan terus.

Para malaikat membisikkan kepadanya kebahagiaan berupa surga yang dijanjikan Allah SWT. Orang yang istiqamah gambaran surga berada di pelupuk matanya. Bahkan surga merindukannya. Jika sejak pagi gambaran surga tidak ada di benaknya, berarti surga tidak merindukannya.

Malaikat merupakan bagian makhluk yang gaib. Orang beriman wajib kepada yang ghaib, termasuk kepada para malaikat. Jika ada orang yang kurang percaya adanya malaikat karena matahatinya tertutup. Malaikat sayyaroh (tukang jalan-jalan) telah diperintah Allah untuk mencari majelis-majelis dzikir di muka bumi.

Ketika duduk di majelis dzikir malaikat juga akan membisikkan keteguhan kepada orang yang hadir.

2. Wa ghosyiyathumur rohmah, atmosfer Rahmat Allah akan dirasakan. Rahmat-Nya tidak bertepi. Terutama Rahmat dari Ar Rahim-Nya, yang diberikan khusus kepada orang-orang yang beriman. (Rahmat dari Ar Rahman diberikan kepada semua makhluk-Nya).

Rahmat Allah yang khusus akan dlimpahkan kepada mereka yang berdzikir berupa: a. Dimudahkan khusyu'. Al Quran menyebutkan: alam ya'ni lilladzina amanu an takhsya'a qulubuhum min dzikrillah. (Q.S. Al Hadid: 16) b. Wijlu, bergetar hatinya. Al Quran menyebutkan: innamal mu'minunalladzina idza dzukirallahu wajilat qulubuhum. (Q.S. Al Anfal: 2) Semakin besar Rahmat Allah yang khusus ini akan semakin bergoncang seluruh tubuhnya. Dalam kitab Al Anwar al Qudsiyyah karya Syekh Abdul Wahab asy Sya'rani, bergetar tubuhnya karena sedang menerima tumpukan waridat Ilahiyyah. Ada yang berputar, jatuh, dsb. Majelis dzikir bukan membaca sendiri-sendiri, tapi bersama-sama (berjamaah). Ada yang memimpin dan membimbing dzikir. Ada bacaan dzikir yang dibaca bersama-sama. Inilah majelis dzikir dalam pandangan Ilmu Tasawuf. c. Jadzbah, Tarikan Ilahi. Hatinya ditarik seakan-akan terbang kepada Allah. Batinnya mulai merasakan dua alam, zahir dan ghaib. d. Al Fana, lebur kesadarannya. Tenggelam hatinya dalam Samudera Tauhid. Tiada yang disadari kecuali Wujud Allah. Ia tidak sempat memikirkan dirinya apalagi orang lain. e. Mahabbah, tumbuhnya Kecintaan kepada Allah di atas segala-galanya. Ibadah menjadi indah ketika sudah mahabbah. Diperintah ibadah menjadi suatu kenikmatan. f. Syauq Ilallah, Kerinduan kepada Allah SWT. Rindu ingin berjumpa dengan mengisi waktu demi waktu dengan amal saleh. Hartanya dikekalkan di jalan Allah. Ia merasa kurang dalam beribadah. Selalu memperbaiki amal salehnya.

3. Wa nazalat 'alaihimus sakinah. Turun ketenangan ke dalam batin. Tidak gelisah, atau gundah gulana. Banyak orang yang mencari ketenangan dengan cara yang salah. Misalnya dengan narkoba. Ketenangan yang diperoleh di majelis dzikir adalah yang hakiki, ketenangan bersama Allah dan orang-orang yang shidiq keimanannya.

4. Wa dzakarahumullahu fiman indah. Orang yang berdzikir kepada Allah akan disebut-sebut Allah di antara para malaikat. Seseorang yang disebut oleh presiden saja di tengah para menteri senangnya bukan main.

Imam Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal dalam keterangan beberapa kitab, di antaranya Tanwir al Qulub disebutkan mondar mandir dan istiqamah duduk di tengah majelis dzikir ahli tasawuf. Ketika ditanya alasannya, dijawab karena di tengah majelis mereka terdapat pokok urusan, yaitu tumbuhnya ketaqwaan, dan mahabbah kepada Allah. Kesemuanya bukan urusan yang kecil.

Dalam kitab Al 'Iqdun Nafis fi Nuzhumi Jawahir al Taqdis, karya Syekh Ahmad bin Idris Ra, diceritakan Imam Ahmad berjumpa dengan Syekh Syaiban ar Ra'i, tokoh Sufi. Ketika bertemu Imam Ahmad bertanya, berapa zakatnya domba? Maka Syekh Syaiban menjawab, Apakah jawabannya menurut madzhab kalian atau madzhab kami? Menurut madzhab kalian setiap 40 ekor dikeluarkan zakatnya 1 ekor. Dan menurut madzhab kami, diri kami adalah milik Allah. Semua yang kami miliki adalah milik Allah. Maka zakat yang wajib adalah seluruhnya. Demikianlah, para Ulama Sufi menganggap dirinya adalah milik Allah.

Batin harus meraih hakikat, walaupun mengeluarkan sebagian harta, harus meyakini bahwa semuanya termasuk dirinya milik Allah. Itulah hati yang bertasawuf.

Sayidina Abu Bakar Ra menangis ketika turun ayat, Sesungguhnya Allah membeli diri dan harta orang beriman dengan surga. (Q.S. At Taubah: 111) Ia merasa malu dengan Allah, dan berkata bukankah diri ini adalah milik Allah?

Hisab Allah merupakan sesuatu yang wajib diimani. Tapi ada yang masuk surga tanpa hisab, seperti yang dijanjikan Rasulullah Saw. Mereka adalah umat Nabi Muhammad Saw, yang dbimbing Ulama Rabbani sehingga dimampukan: Pertama senantiasa berdzikir. Detak jantungnya senantiasa berdzikir kepada Allah. Gambaran dzikrul makhsus: La Ilaha Illah Muhammadur Rosulullah fi kulli lamhatin wa nafasin adada ma wasi'ahu 'ilmullah. Hatinya terlatih di majelis dzikir, ketika keluar beraktifitas senantiasa ingat kepada Allah. Kedua hartanya dipergunakan untuk berjuang di jalan Allah.

@MK_IDRISIYYAH Kampoeng Futuh, 11 Maret 2021/27 Rajab 1442 H