KAJIAN

ARTIKEL


TAREKAT MU'TABARAH




idrisiyyah.or.id | 

Mutiara Dzikir Makhsus

Pemerintah menetapkan PPKM sejak tanggal 3-20 Juli. Maka kita harus mendukung. Menolak kemadaratan adalah prioritas. Di samping itu kita juga harus menumbuhkan keyakinan bahwa segala sesuatu ada yang menggerakkan yaitu Allah SWT. Iradah dan Qudrah Allah berlaku atas segala sesuatu. Sehingga menghadapi segala sesuatu kita tidak akan panik. Bagi jamaah yang terpapar semoga diringankan, dan menjadi sebab diampuni dosanya dan bagi yang meninggal syahid.

Ke-mu'tabarah-an tarekat tergantung kepada Mursyidnya, bukan nama tarekatnya.

Mu'tabarah itu artinya diakui. Mu'tabarah itu bukan ditentukan oleh nama besarnya, akan tetapi ditentukan oleh mursyidnya. Kalau mursyidnya bukan sebenar-benarnya mursyid maka Tarekat itu tidak termasuk tarekat mu'tabarah.

Nama tarekat kita tidak hanya sebatas Idrisiyyah, akan tetapi bisa juga disebut Tarekat Qodiriyyah, Tarekat Syadziliyyah, Tarekat Sanusiyyah, atau bisa juga dinamai Tarekat Muhammadiyah karena dinisbatkan kepada Nabi Muhammad Saw.

Masalah nama itu tidak penting, hanya sebatas identitas. Ke-mu'tabarah-an sebuah tarekat sangat ditentukan oleh mursyid yang membawa Tarekat tersebut. Apapun nama tarekat itu kalau mursyidnya benar-benar tidak memenuhi persyaratan mursyid yang ditetapkan oleh para ulama, maka bukan disebut Tarekat Mu'tabarah.

Imam Al-Ghazali membagi ulama itu jadi dua. Pertama ulama dunia. Ulama dunia lebih jahat dari Dajjal. Kedua, ulama akhirat. Ulama akhirat adalah Mursyid. Mursyid inilah yang harus dicari.

Ibrahim ad Dasuki Rhm berkata, "tolabus syaikh fit-thoriq wajibun ala kulli murid walau kana min akabiril ulama". Artinya: "mencari seorang Mursyid dalam jalan menuju kepada Allah hukumnya wajib bagi setiap murid walaupun ia adalah seorang pembesar ulama". Maksudnya ulama yang hanya menguasai ilmu zahir saja.

4 persyaratan utama Mursyid dijelaskan dalam kitab Al Mausu'ah Al Yusufiyyah, yaitu:

1. ان يكون عالما بالفرائض العينية 2. ان يكون عارفا بالله 3. ان يكون خبيرا بطرائق تزكية النفس 4. ان يكون مأذونا بالتربية من شيخه 5. ان يكون ذا بينة في دعواه

1. Harus pintar dan menguasai perkara2 yang fardhu dalam agama, 2. Seorang Ahli makrifat. Makrifat di sini adalah mengenal Allah dengan penyaksian batin. 3. Menguasai secara dalam tentang proses pembersihan jiwa dan media pendidikan untuk peningkatan kualitas jiwa. 4. Mendapatkan tugas atau mandat untuk memberikan tarbiyyah dari mursyid sebelumnya sampai kepada Rasulullah Muhammad Saw. 5. (Tambahan): Memiliki bukti dalam pengakuannya (sebagai Mursyid).

Mursyid itu sedikit. Jangankan mursyidnya, muridnya aja sedikit. Mursyid itu bukan karena keturunan. Belum tentu kepada anaknya, akan tetapi kepada siapa saja yang dikehendaki oleh Allah. Bukan pula dengan pemilihan suara terbanyak atau demokratis voting suara terbanyak. Mursyid itu sendiri pun benar-benar tidak punya keinginan untuk jadi seorang mursyid, tapi dipilih oleh Allah.

Contoh: Ketika di masa Syekh Ahmad Syarif As Sanusi Ra Tarekat Sanusiyyah benar-benar menjadi tarekat yang terbesar ketika itu di Libya. Syekh Akbar Abdul Fattah ketika itu mencari guru mursyid dan akhirnya bertemu dengan Syekh Ahmad Syarif As Sanusi di Jabal Abu Qubais. Ketika Syekh Ahmad Syarif As Sanusi uzur, maka dipanggillah Syekh Akbar Abdul Fattah secara diam-diam di dalam kamar dan mengatakan bahwa Rasulullah Saw mengatakan kepadaku bahwa 'engkaulah penggantiku, lalu bawalah tarekat ini ke pulau Jawa lalu dakwahkan tarekat ini'.

Istikhlaf atau pemandatan ini tertutup, tapi nanti akan dibukakan oleh Allah di suatu hari nanti di akhir zaman bahwa pengganti Syekh Ahmad Syarif As Sanusi adalah Syekh Akbar Abdul Fattah Ra.

Kemursyidan itu otoritas Allah yang mengilhamkan kepada mursyid sebelum wafat. Setiap murid tidak bercita-cita menjadi Mursyid ketika menjadi murid.

Mencari Mursyid adalah kewajiban. Kemudian setelah menemukan mursyid maka wajib bersikap sami'na wa atho'na turut atas segala perintah Mursyidnya.

@MK_IDRISIYYAH Kampoeng Futuh, Dzulqa'dah 1442/1 Juli 2021