KAJIAN

ARTIKEL


PERBEDAAN ILMU TAUHID DAN TASAWUF DALAM MENETAPKAN SIFAT WUJUD ALLAH




idrisiyyah.or.id | 

Syekh Ibnu Athaillah as Sakandari mengatakan,

شَتَّانَ بَيْنَ مَنْ يَسْتَدِلُّ عَلَيْهِ: الْمُسْتَدِلُّ بِهِ عَرَفَ الْحَقَّ لِأَهْلِهِ؛ فَأَثْبَتَ الْأَمْرَ مِنْ وُجُوْدِ أَصْلِهِ، وَ الْاِسْتِدْلَالُ عَلَيْهِ مِنْ عَدَمِ الْوُصُوْلِ إِلَيْهِ وَ إِلَّا فَمَتَى غَابَ حَتَّى يُسْتَدَلَّ عَلَيْهِ وَ مَتَى بَعُدَ حَتَّى تَكُوْنَ الْآثَارُ هِيَ الَّتِيْ تُوْصِلُ إِلَيْهِ.

Betapa jauh bedanya antara orang yang berdalil bahwa adanya Allah menunjukkan adanya alam dan orang yang berdalil bahwa adanya alam menunjukkan adanya Allah. Orang yang menyatakan bahwa "adanya Allah menunjukkan adanya alam" adalah orang yang telah mengenal al-Ḥaqq (Allah) dengan kepatutan-Nya. Karena itulah, ia menetapkan keberadaan alam ini dari keberadaan pangkal (Dzāt) yang membuatnya ada. Sementara itu, yang berdalil bahwa "adanya alam menunjukkan adanya Allah" adalah orang yang belum sampai (wushul) kepada-Nya. Sebab, sejak kapan Allah itu gaib sehingga Dia harus dibuktikan dengan wujud alam dan kapan Allah itu jauh sehingga semesta ini harus menjadi pengantar menuju-Nya?

Sangat jauh perbedaan antara Ahli Tauhid dan Tasawuf dalam menetapkan wujudnya Allah. Ahli tasawuf membuat dalil adanya Allah menunjukkan adanya makhluk. Mereka makrifat kepada Allah terlebih dahulu, baru mengenal makhluk. Sedangkan ahli Tauhid mengetahui makhluk terlebih dahulu, sehingga dijadikan dalil adanya Allah.

Kelompok ahli tasawuf adalah ahli kebenaran (makrifat), yang menetapkan sesuatu dari wujud asalnya (Allah SWT). Kelompok ahli tauhid pertanda belum wushul kepada Allah, karena wujud makhluk dijadikan dalil adanya Allah (wujud Hakiki). Kalau demikian kapan Allah tiada dan kapan Allah jauh, sehingga membutuhkan makhluk sebagai media (adanya Allah SWT). Kelompok kedua ini termasuk kelompok awam.

Ahli tasawuf jiwanya terdapat maqam musyahadah, menyaksi bahwa itu semua ada karena Allah. Dan muraqabah, hatinya merasa diawasi oleh Allah. Dalam melihat virus covid-19, mereka menyaksikan Allah di dalamnya, dan tidak panik. Banyak manusia yang menyangka bahwa virus ada dengan sendirinya dan yang membuat mati adalah virus itu. Padahal jangankan virus, di balik adanya jagad raya saja ada karena adanya Allah. Segala urusan digenggam oleh-Nya.

Di dunia ini banyak yang atheis (mulhid) karena melihat kacamata yang zahir, melihat umat Islam tidak ditolong oleh Allah. Padahal karena tidak berpegang kepada Al Quran. Di Eropa banyak orang yang keluar dari agama karena pasturnya banyak yang memperkaya diri. Betapa berat tantangan keimanan. Padahal sekecil apapun keimanan akan mengantarkan seseorang ke surga.

Banyak yang percaya kepada Tuhan tapi tidak beragama, beragama tapi tidak mau menjalankan syariat. Agama dianggap pembelengguan. Kita di Indonesia harus bersyukur karena dasar negara yang pertama adalah Ketuhanan yang Maha Esa. Dan beruntung dilahirkan dari orang tua muslim. Tanpa usaha tanpa permohonan dan ini merupakan anugerah dari Allah SWT. Tinggal agama dipelajari baik Iman, Islam dan Tasawuf-nya.

Seyogyanya negara yang berlandaskan ketuhanan ini sudah tidak ada lagi korupsi dan kezaliman. Allah memerintahkan adil dan ihsan serta melarang fahsya (keji) dan munkar.

Negara yang berdasarkan ketuhanan harusnya menjadi negara yang maju (sejahtera) zahir dan batin. Buktikan keimanan dengan Islam, dan buktikan Ihsan dengan musyahadah (merasakan menyaksi kepada Allah) dan muraqabah (merasa diawasi oleh Allah).

Dengan tasawuf maka umat Islam akan maju peradabannya. Peradaban yang sesungguhnya adalah peradaban yang mengenal Allah dan mengikuti petunjuk-Nya. Kita punya tanggung jawab yang besar menunjukkan kebenaran Islam yang haq. Ummatan wasatho adalah umat yang seimbang, kemanusiaan dan ketuhanan, dunia dan akhirat, lahir dan batin. Kuasai ilmu pengetahuan dengan pondasi Iman, Islam, Ihsan yang kuat. Ilmunya menjadi bermanfaat. Ummatan wasatho itu harus menjadi saksi atas manusia, sebagai manusia menjadi saksi atas orang-orang yang beriman.

@MK_IDRISIYYAH Kampoeng Futuh, 15 Dzulhijjah 1442 H/25 Juli 2021