KAJIAN

ARTIKEL


EKSPRESI NORMAL




idrisiyyah.or.id | 

RENUNGAN.

Olimpiade Tokyo menyelipkan sebuah kisah indah di final lompat tinggi pria. Gianmarco Tambery dari Italy berhadapan dengan Mutaz Essa Barshim dari Qatar dan keduanya persis sama mencapai lompatan setinggi 2.37 meter. Keduanya diberi 3 kali kesempatan memperbaiki namun tidak ada yang berhasil melewati ketinggian itu.

Satu kali lagi kesempatan diberikan kepada keduanya tapi Tampberi mengalami cedera kaki serius. Ini kesempatan bagi Barshim karena tidak ada saingan sehingga dia bisa meraih emas sendiri. Namun Barshim bertanya kepada panitia apakah medali emas bisa bersama diraih bila saya tidak melakukan percobaan terakhir ? Panitia memeriksa dan menyatakan bahwa bisa dan dengan demikian medali emas akan dibagi bersama. Tanpa berpikir panjang, Barshim langsung menyatakan tidak akan mencoba lagi.

Lihat ekspresi Tambery, ia merasa bahagia hingga berguling-guling. Mungkin hampir setiap momen olimpiade menampilkan ekspresi normal, tidak hanya Tambery, semua pemenang akan menampilkan ekspesi yang kurang lebih sama. Menangis, berlari-lari, berteriak sekeras-kerasnya, berguling-guling seperti orang gila dianggap pemandangan biasa.

Sayangnya orang yang menikmati kenikmatan batin dianggap tidak normal. Orang yang mengalami jadzbah, wijlu, fana ketika berdzikir dianggap aneh. Bukankah orang yang mendapatkan kenikmatan (anugerah batin) di kala dzikir melebihi kenikmatan apapun. Para Nabi As dan Salihin mudah sekali meneteskan air mata. Tidak jarang mereka tersungkur menangis ketika mendengar ayat atau firman Allah dari kitab suci. Hal itu menunjukkan betapa kuat dan sensitif batinnya terhadap cita rasa wahyu yang didengarnya. Apabila tidak muncul ekspresi yang hebat, berarti dzikir yang dilakukannya belum menemukan kenikmatan, kegembiraan, keindahan yang spektakuler di dalam batinnya. Justru orang yang ekspresinya biasa saja ketika menerima sesuatu kegembiraan yang spektakuler, pertanda tidak normal.

Semoga renungan ini bermanfaat.

@MK_IDRISIYYAH