KAJIAN

ARTIKEL


BEBAN PEWARIS NABI




idrisiyyah.or.id | 

Kondisi seorang khalifah Rasul itu seperti apa yang dirasakan Rasulullah Saw. Al Quran menggambarkan kondisi batinnya, Laqod ja'akum rosulum min anfusikum 'azizun'alayhi ma'anittum harishun'alaykum bil mu'minina ro-ufur rohim. ("Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keamanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (Q.S. At Taubah: 128)

Seorang Rasul dan khalifahnya menanggung beban umatnya di dunia, apalagi pertanggungjawaban akhirat. Ambisi (greget)nya adalah agar orang yang beriman mengalami peningkatan kualitas iman, islam dan ihsannya. Tapi tidak sedikit yang bersangkutan malah merasa puas.

Terkadang seorang Mursyid merasakan beban tersebut sehingga fisiknya terasa kurang fit. Hal itu bukan karena kurang olahraga atau gizi seimbang, tapi kondisi jiwa dalam membawa tugas. Misi mulia ajaran Islam sering bertolak belakang dengan realitas. Baik yang ada di lingkungan maupun global. Antara harapan Allah dengan tindakan manusia bertolakbelakang. Al Quran banyak mengungkapkan fenomena tersebut. Hanya sedikit saja yang menghadap Allah. Wa qolilum min'ibadiyasy syakur. (Dan sedikit hamba-hamba-Ku yang bersyukur). Walakinna aktsaron nasi yajhalun. (Kebanyakan bodoh dengan agama, tidak mengetahui agama yang sesungguhnya). Pengetahuannya ada yang sepotong-sepotong (tidak komprehensif).

Ibarat orang tua yang memiliki 6 orang anak. Yang satu suka mencuri, yang kedua suka 'main perempuan', ketiga suka mabuk-mabukan, keempat hobinya berjudi, kelima suka korupsi, dan keenam narkoba. Kesemuanya berengsek, kelakuannya tidak membuatnya bahagia. Maka otomatis ia tidak akan bisa nyenyak tidur. Bahayanya sudah dirasakan olehnya. Setiap hari ia dipanggil orang atau pihak berwajib karena ulah anaknya. Kalau tidak sebab anak pertama, anak keduanya berulah. Jika tidak, anak-anak lainnya yang menjadi sebab.

Begitulah kondisi jiwa orang yang mendapatkan mandat dakwah Islamiyyah, mengajarkan agama dan memberikan bimbingan pendidikan kepada umat, tidak bisa tenang melihat umat berada dalam kerusakan. Berbeda dengan Ulama atau ustadz yang tidak mendapatkan mandat (tugas). Ia masih bisa tenang tanpa beban, atau bebannya tidak seberat para Mursyid yang mendapatkan mandat dari Rasulullah Saw. Mursyid yang memiliki tugas senantiasa mengingat umatnya dengan doa-doanya, ' Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat, wal mu'minina wal mu'minat. allahummarham ummata sayyidina muhammad, " Ya Allah, ampunilah kaum muslimin dan muslimat, Ya Allah, sayangilah umat Sayidina Muhammad.

@MK_IDRISIYYAH

IBARAT, Analog Sufi Yang Mencerahkan dan Mencerdaskan, Syekh Akbar M. Fathurahman, M.Ag