KAJIAN

ARTIKEL


JIHAD DAN PEMBAGIANNYA




idrisiyyah.or.id | 

Mutiara Dzikir Makhsus, 12 Agustus 2021

Dalam Al Qur'an banyak kata-kata jihad. Malah banyak yang salah. Secara bahasa artinya bersungguh-sungguh atau berkorban.

Menurut istilah jihad dibagi menjadi 4 bentuk. Imam Ibnul Qayim Al Jauziyah dalam kitab Zadul Ma'ad: 1. Jihad an Nafs (jihad memerangi hawa nafsu).

2. Jihadus Syaitan (jihad memerangi bisikan syetan).

3. Jihadul Kuffar wal Munafiqin (jihad memerangi orang kafir dan munafiq).

4. Jihadul Mubtadi'in (memerangi ahli bid'ah).

1. Jihadun Nafsi (Memerangi hawa nafsu). Kehidupan dunia ini adalah tempatnya ujian dan fitnah. Fitnah yang terbesar adalah diri sendiri. Dan yang tertipu adalah diri sendiri. Jihad ini adalah jihad yang besar karena tidak mengenal waktu. Rasulullah bersabda: "Tidak termasuk iman di antara kalian, sampai hawa nafsu kalian tunduk kepada apa yang aku bawa."

Bahayanya nafsu diterangkan dalam kitab Hikam Syekh Ibnul Athaillah As Sakandari bahwa asal atau sumber bentuk segala kemaksiatan dan kelalaian hati adalah:

(1) Ridha'anin nafsi (ridho terhadap nafsu) sendiri. Maksiat itu menentang dan melanggar perintah Allah. Manusia yang mengikuti hawa nafsunya tidak ada ubahnya seperti binatang yang kerjanya cuma "hardolin". Ridha terhadap hawa nafsu akan terus melakukan pelanggaran-pelanggaran. Dengan jihadun nafs maka hawa nafsu turut kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.

(2) Ghoflah (lalai) hatinya.

Asal dari setiap ketaatan adalah:

(1) tidak adanya ridha engkau terhadap hawa nafsu. Mampu melakukan jihad an nafs.

(2) yaqzhah, hati yang sadar (bangkit). Asal bangkitnya hati karena ada ketidakridhaan terhadap hawa nafsunya. Membangkitkan hati atau kesadaran dilakukan selama-lamanya.

Bermain game, menonton tontonan yang melenakan atau mendengarkan musik yang tidak karuan menunjukkan hatinya sedang lalai dari Allah. Maka penting untuk berada dalam lingkungan yang mengingatkan atau membangkitkan kesadaran. Sebab apa yang dilihat dan didengar akan mempengaruhi hatinya.

"Pada setiap manusia akan Kami kalungkan catatan amalnya pada setiap lehernya". Tidak akan luput catatan amal manusia dari pengawasan malaikat Raqib dan 'Atid. Setiap manusia akan sadar dan tahu sendiri akan ke mana nasib mereka, sehingga catatan amal itu tidak perlu dibacakan lagi oleh malaikat. Maka wajib hadir di majelis ilmu dan majelis dzikir supaya hati terbimbing.

(3) i'ffah, kemampuan menjaga diri dari syahwat nafsu.

Bersahabat dengan orang bodoh tapi mampu menjaga nafsunya lebih baik daripada bergaul dengan orang pintar tapi tidak mampu menahan hawa nafsunya. Apa gunanya berilmu kalau memperturutkan hawa nafsu.

Kita lihat orang-orang yang berbuat kejahatan di negara ini dari kalangan pejabat dan wakil rakyat, mereka semua adalah orang pintar. Tapi karena tidak mampu menahan hawa nafsunya akhirnya banyak yang jatuh kepada kemaksiatan. Mari kobarkan dalam jihad an nafs dalam diri selama-lamanya, karena hawa nafsu berada dalam diri sendiri.

@MK_IDRISIYYAH

Kampoeng Futuh, 4 Muharram 1423/12 Agustus 2021