KAJIAN

ARTIKEL


HAKIKAT HIJRAH




idrisiyyah.or.id | 

Pengajian Arbain, 15 Agustus 2021

Umat Islam telah memiliki kalender sendiri, yaitu kalender hijriyyah. Pengambilan istilah hijriyah dari proses perjalanan hijrah Nabi Saw bersama Sahabat Ra adalah agar momentum yang sangat sulit, pahit dan prihatin dapat dikenang oleh umat Islam sepanjang masa. Hijrah merupakan pengalaman yang pahit, di mana umat sewaktu di Mekkah mengalami embargo, sehingga harus hijrah meninggalkan kampung halaman, usaha, keluarga, dan harta benda.

Penduduk Madinah yang merupakan kaum Anshar, menjadi penolong bagi kaum yang hijrah. Salah satu sahabat Nabi Saw yaitu Abdurrahman bin Auf, hijrahnya tidak membawa apa-apa. Kaum Anshar menawarkan harta, rumah bahkan istri kepada Abdurrahman bin Auf. Tapi Sahabat ini berucap 'alhamdulillah' lalu mendoakan lantas bertanya, "Tunjukkan di mana pasar!", lalu dia berniaga hingga akhirnya sukses.

Disebutkan dalam Surat At Taubah ayat ke 20,

ٱلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَجَٰهَدُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ بِأَمْوَٰلِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ ٱللَّهِۚ وَأُوْلَٰئِكَ هُمُ ٱلْفَآئِزُوْنَ.

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, dengan harta dan jiwa mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.

Menerima amanah dari Allah SWT merupakan seberat-beratnya ujian. Pertama ujian yang paling berat adalah para Nabi. Kedua adalah Al Ulama. Karena mereka membawa risalah Allah. Menyampaikan risalah Allah itu berat karena bertolak belakang dengan keinginan hawa nafsu manusia. Maka pantas Nabi Saw harus hijrah saking mendapat tantangan dan permusuhan dari kaum kafirin dan musyrikin, hingga dianiaya, diusir dan dibunuh. Apa yang dilakukan oleh Nabi Saw dan para Sahabat Ra adalah uswah terbaik bagi kita.

Tantangan di zaman ini bukan berhadapan dengan musuh, tapi dengan kelompok yang menginjak-injak agama Allah. Di tengah-tengah kehidupan modern ini perkembangan ilmu dan teknologi melalaikan manusia dari mengingat Allah.

Keimanan itu tumbuhnya didalam hati. Maka hati harus dirawat. Keimanan itu bercabang-cabang, puncaknya adalah kalimat laailaha illallah. Kalimat ini adalah kalimat tertinggi. Ucapkan dengan kekuatan yang Sempurna pejamkan matanya, supaya kalimat itu bersinar menyinari hati kita. Hatinya menjadi terbimbing, maka pikiran dan gerakan kita akan diwarnai dengan kalimat laailaha illallah.

Point dari surat At Taubah di atas adalah:

1. Keimanan. Selain iman kepada Allah, diwajibkan beriman kepada kehidupan dunia ini. Beruntung kita mendapatkan iman. Maka setelah itu perlu dijaga dan dirawat. Iman itu selalu berubah-ubah, bisa bertambah bisa berkurang bahkan hilang. Salah satu menumbuhkannya adalah dengan duduk di majelis ilmu dan dzikir.

2. Hijrah. Hijrah secara lahir batin. Hatinya harus selalu menuju kepada Allah. Syekh Ibnu Athaillah berkata, "Janganlah engkau (wahai murid) pergi dari makhluk menuju kepada makhluk, maka engkau akan menjadi seperti keledai yang digunakan untuk mesin penggiling gandum. Ia hanya bergerak, berputar dari satu tempat ke tempat yang sama (semula). Akan tetapi hendaknya engkau pergi dari makhluk menuju Sang Pencipta Allah SWT." Hati Wali-wali Allah bergerak dari makhluk menuju Allah. Hatinya tertuju kepada Allah, cita-cita dan goalnya Allah. Bukan makhluk atau jabatan.

Waktu semakin sempit, kapan lagi mau hijrah menuju Allah. Jangan sepelekan dosa walaupun kecil, karena setiap perbuatan walaupun sebesar dzarrah (atom) sekalipun akan dibalas oleh Allah. Persiapkan akhirat dengan cara hijrah dalam berbagai aspek, masuk ke dalam sistem Islam. Makna hijrah adalah hijrah dari hati dan sistem kehidupan. Di dalam tarekat itu ada suluk, yaitu perjalanan hamba menuju Allah. Tarekat adalah perjalanan yang khusus bagi para salik yang melangkah menuju Allah.

Dalam pengajian untuk mengenang wafatnya ayah Andy Arsyil tadi malam yang dilakukan secara zoom, dibahas tentang 'menyongsong kematian yang indah'. Kematian itu ada dua, (1) Kematian yang indah (husnul khatimah). Untuk meraih kematian yang indah:

- hatinya bersih (qalbun salim), tidak ada penyakit hati, tidak ada permusuhan.

- nafsunya sudah mutmainnah. Malaikat sebelum mencabut nyawa lemah lembut, senyum, mengucapkan salam dan mempersilahkan masuk surga.

Sejak sekarang tata dan persiapkan akhirat sehingga ketika mati, matinya indah. Bagi para pemuda, jangan membebani diri dari urusan dunia. Sederhanakan hidup agar menjadi tenang. Kalau jiwa kita ingin tenang, maka bersandarlah kepada Allah. Jangan bersandar kepada makhluk.

(2) Mati yang konyol (su'ul khatimah)

Peristiwa hijrah itu banyak hikmahnya. Ada planing dan strategi yang matang. Sebab para algojo mengepung dan siap untuk membunuh Nabi Saw. Lalu Nabi Saw melempar pasir dan seketika algojo pada tidur. Lalu Nabi Saw menugaskan Sayidina Ali Kr Wjh untuk tidur di posisi tempat tidurnya. Begitu algojonya terbangun maka langsung melihat ke dalam dan kaget yang dilihat adalah macan. Lalu para algojo langsung bergegas keluar mengejar Nabi.

Strategi Nabi pergi ke Madinah bukan lewat jalan biasa, tapi jalan yang tidak biasa. Kafirin musyrikin mencari Nabi tidak ketemu sampai bertanya kepada dukun yang paling sakti dan memberitahu bahwa Nabi Saw ada di gunung Tsur. Mereka mengejar Nabi ke sana. Ketika sampai di mulut gua Tsur, Allah datangkan pertolongan dengan makhluk yang paling lemah, yaitu laba-laba dan burung merpati yang sedang bertelur. Sayyidina Abu Bakar As Shiddiq Ra sedih musuh hampir mengetahui. Sabda Nabi, "Jangan gelisah, tenang saja. Allah beserta kita". Sikap batin Nabi Saw teruji, tenang bersama Allah.

3. Jihad. Terbagi 4:

(1) Jihadun nafsi. Sepanjang hayat harus mampu menundukkan hawa nafsu. Yang dikhawatirkan Nabi Saw bukan ketika umat miskin, tapi ketika kaya. Bukan berarti tidak boleh kaya. Tapi berhati-hati ketika dibukakan dunianya. Syekh Ibnu Athaillah menyatakan, "Bila dunia disempitkan, itu adalah hari raya bagi para murid." Allah menguji kalian dengan kelapangan dan kesempitan, lalu kepada Kami kalian kembali.

(2) jihad kafirin wal munafiqin

(3) jihadus syaiton

(4) jihadun mubtadi'in

Jihad itu baik dalam keadaan. lapang atau sukses dan sempit maupun rugi. Dengan harta (amwal) hanya kita dan jiwa (anfus), di jalan Allah SWT. Sepanjang hidup adalah kesempatan berjuang di jalan Allah. Amat rugi kalau sisa hidup lewat begitu saja tidak menjadi amal kebaikan.

Kalau seorang muslim mempunyai pembimbing maka hidupnya akan terbimbing. Hijrahnya akan terarah. Maka carilah seorang mursyid sebagaimana yang diterangkan dalam Al Quran surat Al Kahfi: 17.

Syekh Ibnu As Sakandari mengatakan, Jika kamu mencari sang qari (ahli qiroah) maka pasti kamu dapat menjumpainya tak terhitung, jika kamu mencari seorang tabib (dokter) maka pasti kamu menemukannya banyak sekali, jika kamu mencari seorang ahli fiqih maka pasti kamu menjumpainya banyak juga dan jika kamu mencari seseorang yang senantiasa menunjukkanmu kepada Allah serta memberitahukanmu terhadap aib-aib pada dirimu maka kamu tidak akan menemukannya kecuali sedikit sekali, maka jika kamu dapat menjumpainya maka peganglah ia dengan kedua tanganmu. (Tajul 'Arus Al Hawi Li tadzhib An Nufus)

A'zhomu darojatan 'indallah adalah orang-orang yang tinggi derajatnya dan menjadi pemenang di sisi Allah. Maka kalau ingin mengamalkan surat At Taubah: 20, carilah Wali Mursyid.

Allah mempersilahkan kepada setiap diri manusia untuk mendapatkan peluang menjadi a'zhomu darojatan indallah bagi siapa saja. Lebih sulit peluang menjadi presiden yang hanya buat seorang.

@MK_IDRISIYYAH Kampoeng Futuh, 6 Muharram 1423/15 Agustus 2021