KAJIAN

ARTIKEL


THARIQAH (JALAN) KEBAHAGIAAN




idrisiyyah.or.id | 

Mutiara Dzikrul Makhsus

Kebahagiaan itu terletak pada hati, bukan pada harta atau jabatan. Jalan kebahagiaan itu adalah:

Pertama, bebaskan hati dari perbudakan hawa nafsu dari kesenangan duniawi.

Syekh Ibnu Athaillah as Sakandari berkata, 'Engkau menjadi orang merdeka dari apa-apa yang menyebabkan engkau putus asa darinya. Dan engkau menjadi budak dari apa yang menjadi harapanmu'.

Ada kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan ada batasnya, sedangkan keinginan (hawa nafsu) tidak ada batasnya. Maka penuhi kebutuhan, bukan keinginan. Jika seseorang putus asa dari keinginan duniawi, maka ia tidak akan terjerat darinya.

Kesenangan duniawi adalah lawan dari ibadah. Belum tentu mengejar rezeki, berolahraga, dll itu adalah kesenangan duniawi.

Bebaskan diri dari perbudakan hawa nafsu. Manusia yang di penjara adalah mereka yang tidak bisa mengekang hawa nafsu.

Qanaah lawan dari thama'. Qanaah adalah Ridha terhadap pemberian Allah. Thama' berasal dari keserakahan hawa nafsu.

Kedua, buang rasa memiliki (kepemilikan) terhadap benda. Di satu sisi Ilmu Fiqih diatur kepemilikan benda, tapi di sisi tasawuf Allah memiliki segalanya. Kepemilikan dalam fiqih adalah majazi, sedangkan Allah Pemilik yang hakiki.

Jika seseorang semakin banyak rasa memiliki, maka siap-siap menjadi orang yang akan banyak kecewa. Sebab dunia ini fana dan akan berakhir. Kepada Allah semuanya akan dikembalikan.

Jadilah seperti tukang parkir yang tidak merasa memiliki, meskipun di tempatnya terdapat mobil yang mewah. Mobil mahal dan murah baginya sama. Sebab suatu waktu ketika ada yang mengambilnya ia tidak kecewa, karena merasa bukan miliknya.

Orang seperti ini adalah orang-orang yang bahagia, tidak merasa sedih ketika yang dipegangnya hilang dan tidak terlalu gembira terhadap nikmat yang digenggamnya. Wali-wali Allah demikian, tidak merasa takut dan sedih terhadap apa-apa yang hilang darinya.

Nabi Ayub As diuji dari orang yang kaya menjadi orang miskin. Harta, kesehatan, keluarganya hilang, tapi tidak membuatnya mengeluh. Malah bersyukur, semuanya berasal dari Allah (Pemilik yang absolut). Pada akhirnya semuanya dikembalikan lagi kepadanya.

Jasad adalah milik Allah, wajib menjaganya. Tidak boleh merasa memiliki diri sehingga tidak memedulikan dan mencelakakan diri sendiri bahkan orang lain.

Wali-wali Allah adalah orang yang merdeka dan bahagia, bebas dari rasa memiliki. Ia bersikap amanah terhadap apa yang dititipkan/dimiliki dan memanfaatkan sebaik-baiknya.

Hilanglah rasa bakhil, karena hatinya kosong dari dunia. Pulang kembali dengan penuh ketenangan. Inilah kebahagiaan Wali-wali Allah yang tidak diperbudak hawa nafsu.

@MK_IDRISIYYAH

Kampoeng Futuh, 3 Safar 1443 H/9 September 2021