KAJIAN

ARTIKEL


TIDAK INGIN PUJIAN




idrisiyyah.or.id | 

Pada masanya Imam Nawawi al Bantani (wafat 1314 H/1897 M) diakui keilmuannya oleh ulama ulama Timur Tengah. Banyak kitab berbagai disiplin ilmu baik Tauhid, Fiqih maupun Tasawuf yang telah dikarangnya. Beliau digelari sebagai Sayyidul Hijaz (pemimpin Ulama Timur Tengah) karena keilmuan dan kesalehannya.

Suatu waktu di Mesir terjadi kemarau yang panjang sekali. Telah banyak orang yang sudah berdoa dan melakukan shalat istisqo, tapi tidak juga turun hujan. Akhirnya ulama-ulama di sana bermusyawarah, bagaimana kalau menghadirkan Imam Nawawi, pemimpin Ulama Hijaz. Ketika diminta ia pun merasa malu. Tapi karena diperintahkan akhirnya ia jalankan juga. Maka berangkatlah ke sana.

Imam Nawawi memiliki postur tubuh umumnya orang Indonesia. Bila dibandingkan dengan postur orang Timur Tengah saat itu ia kelihatan kecil. Maka ia membawa muridnya yang tinggi besar. Hingga mereka datang ke Mesir, muridnya berada di depan sedangkan Imam Nawawi berada di belakangnya. Ia memerintahkan muridnya untuk berdoa, sementara dirinya mengaminkannya di belakang. Ia rela tidak dikenal, ikhlas untuk tidak diekspose. Berbeda dengan kelakuan orang zaman sekarang. Setiap perbuatan yang membawa keuntungan dirinya, ia ekspose seluas-luasnya di medsos. Bila perlu ia bayar buzzer atau influencer, agar menjadi viral.

Ketika selesai muridnya berdoa dan diaminkan oleh Sang Imam, seketika itu juga hujan turun dengan lebatnya. Orang-orang mengucapkan terima kasih kepada si murid (yang dianggap Imam Nawawi). Begitu selesai mereka pulang, dan Imam Nawawi tidak mengharapkan apapun atas apa yang telah dilakukannya.

Dalam berbuat kebaikan, beramar ma'ruf dan nahi munkar manusia harus melihat hal itu sebagai perintah-Nya. Apa yang didapat berupa cacian, ia terima dengan lapang dada dan tidak emosi. Ibadah tidak butuh penghormatan orang lain. Ketika makian yang berdampak pada dirinya tidak membuatnya menggerutu atau putus asa. Seorang sufi dipuji tidak terbang, dihina pun tidak bakal tumbang. Apapun yang dia sampaikan ikhlas karena Allah SWT.

(Sumber: Serambi Islami TVRI, Kajian Tasawuf Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag)