KAJIAN

ARTIKEL


AKIBAT JAUH DARI ULAMA




idrisiyyah.or.id | 

Mutiara Dzikrul Makhsus, Sampit, 7 Oktober 2021

Nabi Saw bersabda, "Akan datang menimpa umatku di mana mereka akan menjauhi ulama". Mereka jauh dari majelis Ulama dan majelis dzikirnya. Akibatnya:

1. Allah akan cabut keberkahan rizkinya. Di antara hilangnya keberkahan adalah rizkinya banyak tapi tidak bisa dipakai ibadah. Banyaknya harta malah membuat hatinya gelisah. Sementara rizki yang berkah adalah menjadi media beribadah kepada Allah.

Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lain. Manfaat yang membuat kebahagiaan dunia dan akhirat. Semakin bertambah rizkinya dan bertambah pula keberkahannya.

Hidup ini harus berada dalam bimbingan ulama, harus punya guru. Pembegal saja mempunyai guru (pimpinan). Dalam beragama pun harus punya guru (pembimbing).

2. Allah berikan pemimpin yang zalim. Yakni yang lebih mementingkan pribadi dan keluarganya saja, tidak amanah.

3. Ruhnya keluar tanpa membawa iman.

Ajal kematian Allah rahasiakan dalam umur. Manusia tidak akan bisa lari dari kematian. Kewajiban setiap orang adalah mempersiapkan kematiannya. Ada kematian yang mendadak, tanpa persiapan. Imam Syafi'i Rhm berkata, "hari ini adalah persiapan, hari esok adalah kematian". Kematian tidaklah menjadi mendadak bila ia dipersiapkan.

Kampung halaman sebenarnya adalah akhirat. Karena Nabi Adam As diciptakan di surga, kemudian diturunkan ke bumi dalam rangka mengembara. Dunia adalah tempat mengembara. Akhirat itulah yang harus dicita-citakan dan harus dipersiapkan. Persiapkan amal saleh yang ikhlas karena itulah yang akan dibawa ke akhirat. Kematian itu akan menjadi indah kalau dipersiapkan dari sekarang. Seperti firman Allah dalam surat Al Fajr ayat terakhir, "Wahai jiwa yang tenang...". Hati yang tenang adalah hati yang banyak dzikir kepada Allah. Ibarat duduk di kursi yang kokoh ia akan tenang. Sebaliknya kalau duduk di kursi yang reyot ia akan gelisah. Itulah gambaran hati yang bersandar kepada dunia. Tapi kalau bersandar kepada Yang Maha Segala-galanya maka akan tenang, pasrah total kepada Allah. Itulah deklarasi seorang hamba dalam shalat, "inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil alamin".

Ketahuilah para Kekasih Allah itu tidak takut dan sedih dengan urusan dunia. Tenang batin dan jiwanya. Shalatnya adalah penyerahan diri yang total kepada Allah. Hatinya benar-benar merasakan Agung-Nya Allah. Dengan shalat yang seperti itu barulah akan merasakan tenang dan dekat dengan Allah. Dengan shalat seperti itu maka akan mampu menjauhkannya dari perbuatan keji dan munkar. Maka keluarkan dari lubuk hati yang paling dalam gambaran dunia dan makhluk, maka Allah akan penuhi hatinya dengan makrifat.

Lihatlah tukang parkir yang tidak merasa sombong ketika datang mobil mewah. Dan ketika pergi pun tidak merasa sedih. Begitulah orang yang tidak merasa memiliki. Semua yang Allah titipkan akan hilang, berakhir. Orang yang menghilangkan rasa memiliki dunia ia akan tenang ketika datang kematiannya. Sebaliknya orang yang merasa memiliki bahkan mencintainya maka ketika datang kematiannya akan merasa sangat kecewa. Maka sebelum datang waktu itu keluarkan dari hati rasa memiliki terhadap dunia. Orang yang hatinya dibersihkan ketika diberi harta, jabatan akan menjadi orang yang amanah, kemanfaatannya akan dirasakan oleh agama dan umat.

Orang yang merdeka dan paling bahagia adalah yang hatinya bebas dari kepemilikan terhadap dunia. Sebaliknya orang yang merasa memiliki dunia adalah orang yang akan sangat kecewa sedalam-dalamnya kelak.

@MK_IDRISIYYAH