img
TANYA JAWAB

Pertanyaan Umum

Thariqah secara bahasa adalah metode, jalan khusus, kedudukan, dan agama. Thariqah dalam istilah ilmu tasawuf adalah:


اَلسَّيْرَةُ الْمُخْتَصَّةُ بِالسَّالِكِيْنَ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ قَطْعِ الْمَنَازِلِ وَتَرَاقِي فِي الْمَقَامَاتِ


“Jalan khusus orang-orang yang melakukan pengembaraan spiritual (salikin) menuju kepada Allah, berupa memutus manazil (hawa nafsu yang levelnya rendah dan buruk) dari sifat-sifat yang rendah dan buruk kemudian menaiki tangga-tangga atau pilar-pilar (maqam) seperti tawakal, ikhlas, dan lain-lainnya”. Sehingga thariqah adalah praktik dari ilmu tasawuf dimana ilmu tasawuf adalah formulasi ajaran ihsan yang domainnya adalah hati merasakan hadirnya Allah atau merasakan tatapan Allah dalam seluruh rangkaian ibadahnya. Dalam meraih hakikat ihsan ini memerlukan pembimbing yaitu Mursyid yang telah sukses menerima bimbingan dari Mursyid sebelumnya, kemudian dari Muryid sebelumnya sampai kepada Rasulullah Saw. Selain itu memerlukan ada mujahadah wa tazkiyah al-nafs (mendidik dan membersihkan jiwa dari sifat-sifat Syaithaniyah, dan binatang), riyadlah (melatih hati untuk selalu menghadap kepada Allah) dengan dzikir, dan berbagai ibadah yang wajib dan sunah. Kemudian dalam thariqah diperlukan komunitas atau jama’ah yang mendukung seseorang fokus dalam melaksanakan aktivitas tersebut, sehingga thariqah dalam pandangan umumnya para peneliti memahaminya sebagai pelembagaan tasawuf atau persaudaraan para Shufi.

“Ilmu tasawuf adalah ilmu untuk mengetahui kondisi jiwa manusia, kondisi yang terpuji maupun yang tercela, mengetahui bagaimana cara membersihkannya dari kondisi yang tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat yang terpuji serta untuk mengetahui tata cara/proses perjalanan menuju kepada Allah SWT”.


قال القاضي شيخ الإسلام زكريا الأنصاري رحم الله تعالى ( التصوف علم يعرف به أحوال تزكية النفوس وتصفية الأخلاق وتعمير الظاهر والباطن لنيل السعادة الأبدية ) هامش الرسالة القشيرية


“Al-Qadhi Al-Syaikh Zakaria Al-Anshari berkata: Ilmu tasawuf adalah ilmu yang dapat menunjukkan keadaan bersihnya hati seorang manusia, dan penjernihan perilaku, dan menggerakkan zahir dan batin (tubuh dan hati) untuk beribadah kepada Allah SWT, untuk meraih kebahagiaan yang abadi.”

Syarat jadi murid yaitu:


1. Memiliki kesadaran hati menghadap kepada Allah dan akhirat dan berpaling hati dari tipu daya dunia dan makhluk.
2. Mempercayai wali mursyid sebagai pewaris Nabi Saw.
3. Ingin dibimbing lahir dan batin.
4. Taubat nasuha dari segala dosa dan maksiat.
5. Mendapatkan talqin dzikir dan ijazah wirid.
6. Menjalankan suluk tarekat.

Idrisiyyah adalah sebuah pergerakan Islam global dengan manhaj tarekat Shufiyah yang intens dalam proses pembersihan jiwa, pembeningan hati, dan pembentukan akhlaq al-karimah. Bergerak di bidang dakwah, pendidikan, ekonomi dan sosial kemasyarakatan.

Talqin maknanya adalah pengajaran agama, terutama pokok agama, yaitu kalimah thayyibah. Ijazah artinya mengabsahkan seseorang untuk mngamalkan wirid sebuah tarekat karena sebelumnya telah diajarkan apa itu wirid, darimana wirid tersebut, bagaimana kaifiat (tata cara)nya dan sebagainya. Sedangkan Baiat adalah suatu proses menjadikan mursyid sebagai imam dalam agama, khususnya dalam pengamalan syariat. Tujuan baiat adalah mengamalkan ajaran Nabi Saw tentang urgennya baiat dan supaya murid belajar berkomitmen terhadap seluruh syariat dan sunah Nabi Saw.

Perbedaan ketiganya; Talqin adalah wilayah pengajaran dan bimbingan, Ijazah adalah pengabsahan mengamalkan suatu amalan dzikir, sedangkan Baiat merupakan wilayah pengangkatan pemimpin dalam mengamalkan syariat.

Wirid/Dzikir Tarekat Idrisiyyah bersumber dari al Quran dan doa-doa Nabi Saw (termasuk Hafizah Nabawiyah), juga doa-doa orang shaleh. Maka siapa pun boleh mengamalkannya asalkan didasari keikhlasan ingin mendekat kepada Allah lewat bacaan wirid tersebut.

Dalam ajaran tasawuf seseorang yang akan memasuki perjalanan spiritual harus berpasrah diri lahir batin kepada bimbingan seorang mursyid, sehingga jika mengamalkan banyak tarekat dalam arti memperoleh bimbingan dari berbagai mursyid maka ia akan mengalami kebingungan, selain tidak akan bersedia seorang mursyid memberikan bimbingan kepada seseorang yang sudah memiliki mursyid.

Mendapat ijazah dan talqin lewat streaming boleh pada masa pra talqin, di mana pra talqin di Idrisiyyah dilakukan secara kolektif. Setelah tahap awal tersebut, ia bisa melakukan talqin kembali yang lebih khusus dengan berjumpa langsung dengan Mursyid (inilah yang lebih utama). Adakalanya, Mursyid melakukannya dengan kaifiat (cara) tertentu, yakni menjabat tangan murid (laki laki) atau anggota badan murid (laki laki) dengan melafazkan dzikir tertentu, kemudian diikuti oleh si murid.

Kewajian seorang murid:


1. Melaksanakan adab suluk yaitu : taubat nasuha, mengamalkan wirid wajib harian, membersihkan hati,menghiasi hati, menjaga panca indra dari dosa, melaksakan kewajiban/ ibadah kefardhuan dan istiqamah melaksanakan ibadah nafilah, serta menjaga pergaulan termasuk melaksanakan etika kepada Mursyid, kepada sesama murid, dan kepada sesama kaum muslimin.
2. Meningkatkan ketaqwaan dengan istiqamah mengikuti majlis taklim dan dzikir Mursyid.
3. Khidmah kepada agama Allah (tarekat).

Syaikh Yusuf Khathar Muhammad dalam al-Mausu’ah al Yusufiyyah menjelaskan beberapa tanda-tanda atau persyaratan menjadi seorang Mursyid, yaitu:


1. Mendapat mandat (izin) dari gurunya untuk memberikan petunjuk (membimbing) kepada yang lain (berdasarkan penunjukkan ruhani Rasulullah Saw).
2. Ma’rifat kepada Allah,
3. Mengetahui hal-hal yang bersifat fardhu ‘ain dan,
4. Mengetahui proses-proses pembersihan jiwa dan media-media dalam mendidik atau membimbing murid-muridnya.

Mengikuti pengajaran, bimbingan, program, dan uswah hasanah dari Mursyid, berakhlak mulia kepada Allah, Rasulullah, Mursyid, dan kepada seluruh kaum muslimin bahkan kepada non muslim serta makhluk lainnya. Kemudian ia meningkatkan kualitas ibadah dari sebatas fiqih menjadi diiringi dengan penghayatan, kekhusyuan, bahkan hati musyahadah kepada Keagungan Sifat-sifat Allah.

Tarekat menurut Surah Jin ayat 16 adalah metode bimbingan Rasulullah Saw kepada para Sahabat. Maka tarekat shufiyah sebagai kelanjutan bimbingan Rasulullah Saw memiliki komponen-komponen seperti pada masa Nabi Saw dan sahabat Ra, demikian generasi tabiin dan seterusnya, yaitu:


1. Sumber ajaran: Al Quran, as Sunah, ijtihad dan ilham yang diterima oleh Mursyid.
2. Pembimbing: Mursyid dengan syarat-syaratnya.
3. Murid atau jamaah.
4. Prosedur memasuki tarekat: talqin, ijazah dan baiat.
5. Praktikum: suluk, mujahadah, riyadloh, dalam rangka meningkatkan kualitas ketaqwaan kepada Allah.

Murid adalah orang yang memiliki keinginan kepada Allah dan Akhirat, sehingga memerlukan bimbingan dari orang yang telah wushul/makrifat kepada Allah dan ditugaskan untuk membimbing umat pada zamannya. Sehingga murid yang benar niatnya dan sungguh-sungguh mengikuti langkah-langkah Mursyidnya sebagai wasilah yang haq kepada Allah akan diwushulkan pula oleh Allah.

Manfaat lainnya adalah meningkatnya kualitas nafsu mencapai nafsu muthmainnah, nafsu yang tenang damai beserta Allah, artinya nafsu yang mendapatkan kebahagiaan hakiki sepanjang hidupnya. Dan ketika akan wafatnya ia akan mengalami kebahagiaan dan husnul khatimah. Malaikat maut mengucap salam sebelum mencabut nyawanya dan ketika ruh di tenggorokan akan diperlihatkan amal-amal ibadahnya dan tempat kembalinya di surga sehingga sakaratul mautnya dimudahkan dan tidak dirasakan penderitaan sama sekali. Allah SWT menginformasikan:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam (kelompok) hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku! [Q.S. Al-Fajr/89:27-30]

Dengan bertarekat seorang murid sudah melaksanakan kewajiban dengan memiliki imam dalam agama, figur uswah hasanah dalam amaliyah agama, dan rujukan dalam berbagai permasalahan hidupnya.

Ijazah terbagi dua:

1. Ijazah wirid disebut pula idznun fi'lan artinya, izin untuk mengamalkan wirid dan sah menjadi murid tarekat,
2. Ijazah tarekat atau disebut istikhlaf atau idznun tarbiyah adalah pengangkatan kemursyidan yang melanjutkan Mursyid sebelumnya atas petunjuk ruhani Rasulullah Saw. Di Tarekat Idrisiyyah ijazah tidak dimaknai sebagai kelulusan seorang murid dari tarekat karena kelulusan murid adalah bersama-sama dengan Mursyid, Masyaikh tarekat dan bersama Rasulullah Saw di tiga tempat: dunia, barzakh dan akhirat. Sehingga murid tidak berhak mentalqinkan (pengajaran khusus) atau mengijazahkan wirid terlebih mengijazahkan tarekat kpd orang lain kecuali sebatas memperkenalkan wirid atau tarekat, atau pengajaran keilmuan semata.

Murid harus selalu mendapatkan bimbingan Mursyid baik bimbingan ruhaniah maupun bimbingan lahiriah. Bimbingan ruhaniah akan diterima oleh murid yang selalu menjaga keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah, menjalankan adab suluk tarekat, mengamalkan wirid wajib harian, dan menghubungkan hati murid kepada hati Mursyid dengan istimdad dan rabithah.

Selain itu seorang murid Tarekat Idrisiyyah harus mengikuti bimbingan lahiriahnya, dengan mengikuti majlis dzikir dan ilmu mursyid baik di pusat maupun di zawiyah, jika tidak mampu mengikuti seminggu sekali, maka setiap Arbainan. Karena keimanan murid akan melemah ketika tidak berjumpa dengan mursyid selama lebih dari 40 hari. Maka wajib mengikuti majlis ilmu dan dzikir Mursyid via media yang disediakan oleh tarekat. Bahkan murid yang tempat tinggalnya sangat jauh wajib mengikuti kegiatan Qini Nasional, 3 kali dalam satu tahun supaya dapat bermujalasah dengan Mursyid.

Tarekat idrisiyyah sebagai manhaj dalam Islam untuk memahami dan mengamalkan/mengaplikasikan ajaran Islam (tauhid, fiqih dan tasawuf) dalam kehidupan, ketiganya merupakan basis dalam setiap pergerakan dakwah, pendidikan, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan. Pada masa awal masuknya Idrisiyyah ke Indonesia tahun 1932, Idrisiyyah melakukan gerakan anti kolonialisme dengan dibentuknya laskar kompi istimewa hizbullah. Persamaannya dengan lembaga keagamaan lainnya yaitu sebagai manhaj dalam Islam dan juga memiliki pergerakan-pergerakan, namun perbedaannya (sekaligus keunggulannya) adalah keterpaduan antara ajaran aqidah shahihah, fiqih/syariah dengan tasawuf/hakikat.

Agama Islam tidak membeda-bedakan antara laki-laki dan wanita dalam beribadah dan meraih derajat yang tinggi di sisi Allah serta meraih makrifat dan mahabbah kepadaNya. Bahkan tokoh masyhur dalam mahabbah kepada Allah di kalangan sufiyah disandang oleh Sayidah Rabi'ah al 'Adawiyah, meskipun dalam hukum fiqih yang berkaitan dengan persaksian, pernikahan, dan lainnya terdapat pengkhususan antara laki laki dan perempuan. Maka dalam bertarekat wanita yang sudah baligh dianjurkan bertarekat supaya terjaga kesucian ruhaninya, dan menjadi wajib bertarekat dalam rangka membersihkan dari penyakit penyakit hati dan sifat-sifat tercela nafsu. Apabila sudah bersuami maka seorang istri harus saling membantu dalam ibadah dan menjalankan kewajibannya termasuk membersihkan hati dan menundukan nafsu pasangannya dengan cara bertarekat, sehingga seorang istri tidak boleh menutup-nutupi tarekat yang sedang dijalaninya dari suaminya.

Seorang murid akan batal kemuridannya apabila: keluar dari agama Islam, atau melakukan perbuatan syirik, atau tidak taubat dari dosa-dosa besar. Karena hakikatnya dia sudah keluar dari jalan menuju Allah (thariqah). Selama murid berkeinginan dibimbing dan dipimpin ibadah oleh Mursyid maka kesempatan bertarekat akan terus diberi, sehingga apabila kepercayaan kepada Mursyid sudah hilang, terputuslah tarekat darinya.

Demikian jika murid tidak suluk dalam tarekat maka tidak akan memperoleh hasil yang besar dalam bertarekatnya karena sebatas murid lahir tidak menjadi murid yang hakiki.

Klasifikasi murid dalam seluruh tarekat hanya dua: murid shadiq (yang jujur dan ikhlas) dan murid kadzib (yang dusta lagi tidak tulus). Adapun senioritas dan junioritas dalam tarekat tidak berlaku. Terkadang seorang murid diberi amanah oleh Mursyid menjadi pengurus tarekat maka itu bukan kategori klasifikasi kemuridan akan tetapi bentuk bentuk khidmah semata. Sedangkan secara hakikat maka murid sangat beragam kelas kelas ruhaninya, karena terdapat 8 level kewalian khusus yaitu: imamaini, autadul ardl, as-sab'ah, abdal, nuqaba, nujaba, 'asha'ib dan mufridun. Maka murid kadzib pada hakikatnya tidak diakui statusnya sebagai murid dalam pandangan Allah, Rasulullah dan Mursyid.

Seorang murid Tarekat Idrisiyyah boleh belajar di lembaga pendidikan lainnya baik pendidikan formal, atau pun pesantren lainnya dengan izin dari Mursyid, seperti belajar ilmu Qawaid Arabiyah, Ushul, Tafsir, Hadis dan lainnya. Fungsi izin dari Mursyid adalah supaya ilmu yang diraih tidak menjadi hijab kepada Mursyid. Karena ilmu dapat menimbulkan kesombongan dan kebanggaan diri karena adanya syubuhat di dalamnya. Bahkan murid yang sudah mengenal (makrifat) kepada Mursyidnya mencukupkan belajar agama dan ilmu-ilmu lainnya dari Mursyid sebagai pewaris Nabi Saw. Karena ketika murid wushul kepada Allah maka akan diberikan ilmu yang ghair muktasab barakah bimbingan Mursyidnya.

Jenjang waktu dalam meraih murid yang shadiq itu tidak ditentukan lama dan sebentarnya tapi tergantung dari segi keimanan, mahabbah, taslim, dan ketaatan kepada Allah, Rasul dan Gurunya. Sehingga bisa jadi murid baru dengan keimanan dan semangat suluknya yang kuat dan keikhlasannya meraih derajat murid yang tinggi disisi Allah.

Beberapa jenjang dalam ketarekatan: jenjang kewalian dalam 8 level kewalian. Dari segi mujahadah an nafs dalam meraih level nafsu muthma`innah, radliyah dan mardhiyah. Dari segi riyadhah dengan keberhasilan menegakkan maqamat dan meraih kemakrifatan kepada Mursyid, Rasulullah, Allah dan agamaNya. Selama masih hidup seorang murid belum dikatakan lulus sehingga murid istiqamah dalam tarekat dan suluknya sampai wafat kembali kepada Allah. Karena bisa saja seorang murid telah meraih ahwal dan karamah kemudian gagal dari ujian Allah, Rasul, dan gurunya, sehingga jatuh derajatnya bahkan ada yang mundur dari tarekat. Adapula seorang murid yang shadiq, dan istiqamah dalam suluk, sampai mencapai level nafsu mardhiyah dan ma'rifatullah kemudian lulus dari ujian langsung dari Mursyid dengan ujian yang berat, sehingga Allah berkehendak menjadikannya sebagai pengganti Gurunya, setelah wafat gurunya. Maka setelah mendapatkan Istikhlaf menjadi hamba pilihan Allah akan senantiasa dibimbing dan dipelihara oleh Allah sampai wafatnya.

Mempelajari, memahami, mengamalkan dan merasakan kemuliaan ilmu tasawuf dalam bimbingan tarekat dapat dilakukan sejak usia dini, karena dalam tarekat sudah tersusun tahapan dalam riyadhah, mujahadah dan suluknya. Meskipun pentalqinan, dan pembaiatan baru dapat dilaksanakan setelah usia baligh. Penerapan ilmu tasawuf sejak dini dalam rangka mempertahankan kefitrahan ruhani anak, sampai dewasa dan sampai kembali kepada Allah. Mursyid yang ahli dalam mentarbiyah ruhaniah dan mengasah potensi murid muridnya akan menyesuaikan dalam memberikan keilmuan dan penerapan ilmu tasawuf sesuai dengan kejiwaan dan keilmuan murid muridnya. Mursyid akan senantisa mengasih, mengasah, dan mengasuh para murid sampai mencapai maqam kewalian yang mampu diraihnya, selama masih bisa ditingkatkan maka akan terus digali, jika tidak maka sampai akhir hayat muridnya.

Tauhid, fiqih dan tasawuf adalah 3 ilmu utama dari ajaran Islam yang wajib dipelajari dan diamalkan dengan terintegrasi. Jika dikatakan mempelajari dan mengamalkan tasawuf berat maka hal ini disebabkan tidak memasuki tarekat mu'tabarah atau karena tarekatnya menerapkan metode tarbiyahnya, riyadlah, suluk, dan mujahadahnya kaku, keras, atau jumud (statis). Wali mursyid yang kamil dan mukammil akan bijaksana dalam mentarbiyah murid-muridnya, sebagaimana Nabi Saw dalam mentarbiyah para Sahabat dan dalam penerapan syariat begitu bijaksana.

Dalam ilmu tasawuf istilah dunia itu adalah setiap yang menghalangi hamba dari Allah, bukan dimaknai materinya. Maka jika materi dunia, kehidupan dunia, permasalahan dunia menjadi hijab, maka disebutlah ad dunya. Maka seseorang yang dibimbing oleh Mursyid pewaris Rasulillah Saw, akan dimampukan mengetahui hakikat dunia yaitu memiliki dua sisi (sisi negatif dan sisi positif): sisi negatif dunia adalah kenikmatan yang sedikit dan penuh tipuan, dunia adalah permainan dan sendagurau sehingga harus produktif dan bermanfaat bagi diri dan orang lain, dan tidak boleh lalai. Ketika kita semua pemain maka Allah adalah wasitnya yang akan menentukan siapa pemenangnya, hakikat dunia juga adalah memberikan dampak sombong, melalaikan, sehingga harus waspada dari ekses ekses negatifnya. Dari segi positifnya Dunia juga hakikatnya adalah tempat ujian, tempat ibadah, sehingga bagaikan jembatan yang menghubungkan ke Akhirat, maka janganlah membangun bangunan di jembatan tsb, tapi bangunlah istana kita di Akhirat yang dikekalkan oleh Allah. Sehingga murid yang terbimbing akan semangat mencari harta untuk berjuang ibadah di jalan Allah, dan meraih derajat yang tinggi dengan mengorbankan harta dan dirinya di jalan Allah. Maka dari segi motivasinya harus benar berdasarkan nilai-nilai keimanan demikian mu'amalahnya harus benar menurut fiqih.

Dan seorang murid yang terbimbing akan dimampukan menyikapi kehidupan dunia sebagai ujian dari Allah.

Seorang murid yang sering berbuat dosa tapi masih ada penyesalan dalam hatinya atas perbuatan dosanya maka ia berada dalam level nafsu lawwamah. Maka selama murid berusaha menjauhi maksiat meskipun sering terjerumus ke dalamnya, dan ia mengamalkan wiridnya yang salah satunya adalah membaca istigfar 100x setiap hari, dan ia masih percaya kepada Mursyid maka masih ada harapan untuk dimampukan melakukan taubatan nasuha dan menjadi murid yang shadiq. Murid yang tidak pernah menyakiti hati mursyid dan ikhwannya sesama murid dan sesama muslim Insya Allah akan dimampukan bertaubat, dan sadar dari kemaksiatan-kemaksiatannya, meskipun sampai di penghujung hidupnya.

Adapun murid yang sering berbuat dosa besar tanpa ada penyesalan dan rasa malu kepada Allah, Rasulullah dan Mursyidnya (karena rendahnya kepercayaan kepada Mursyid) maka ia sudah di luar dari status kemuridannya.

Mempelajari tasawuf dari buku-buku atau kitab-kitab diperbolehkan bagi murid tarekat Idrisiyyah dalam rangka menambah wawasan, akan tetapi yang menjadi pedoman dalam suluk adalah apa yang telah diformulasikan oleh Syaikh Mursyid. Kenapa demikian? Ada beberapa alasan:

1. Kitab-kitab tidak ada jaminan untuk terjaga orisinilitas kontennya, bahkan ada beberapa kitab yang disisipkan kata-kata yang bukan bersumber dari si penulis. Atau bahkan ada bab-bab yang dibuang oleh penerbitnya.
2. Kitab terkadang oleh si penulis tidak dimaksudkan untuk dipublikasikan (khusus internal suatu tarekat).
3. Tidak mengetahui situasi kondisi yang menyertai penulisan kitab tsb. Sehingga apakah masih relevan dengan sikon saat ini.
4. Pembaca tidak mengetahui apakah buku atau kitab tasawuf tsb membahas tentang mawahib ataukah makasib. Seperti kitab Hikam Syaikh Ibn Athaillah yang isinya menguraikan tentang mawahib yang Allah anugerahkan kepada penulis, sehingga orang yang mempelajarinya seolah-olah merasa telah meraihnya pula padahal ia cuma mengetahuinya lewat kitab tsb, bukan mencicipinya atau meraihnya. Adapula kitab tasawuf yang berisi makasib dalam menegakan maqamat dan mujahadah sehingga ketika dipraktekkan akan terasa berat. Berbeda dengan yang terbimbing oleh Mursyid, selain mendapatkan arahan dan bimbingan dalam mengamalkan tasawuf juga akan mendapatkan transfer kekuatan ruhaniah dalam melaksanakannya selain dapat bertanya apabila tidak faham.
5. Hikmah yang Allah berikan kepada para wali Allah selalu update, sehingga jika hanya mempelajari tasawuf dari ulama dan wali Allah terdahulu saja maka tidak akan memperoleh hikmah kekinian.

Seorang murid yang akan memasuki jalan kepada Allah (thariqah) supaya wushul kepada-Nya (hati selalu menghadap kepada Allah setiap waktu), maka ia harus mempersiapkan bekal yang cukup, yaitu: kesadaran kuat dari hati untuk kembali kepada Allah dan Akhirat dengan mengikuti bimbingan orang yang telah mengenal Allah dan agama-Nya (Syaikh Mursyid).

Modal selanjutnya adalah kejujuran dan keikhlasan dalam memasuki thariqah, bahwa dalam memasuki thariqah bukan bertujuan kepada makhluk, mencari kekayaan atau kedudukan karena tidak akan nyambung, meskipun dengan bertarekat dijanjikan akan mendapatkan limpahan air (rizki zahir dan batin) yang melimpah (barokah) sebagaimana disebutkan dalam surah Jin ayat 16.

Modal utama lainnya adalah memiliki cita-cita yang tinggi dalam bertarekat, yaitu mampu taubat nasuha, meningkatkan keimanan dan ketaqwaan, serta makrifatullah. Untuk meraihnya seorang murid harus belajar percaya, taat dan cinta karena Allah kepada Mursyidnya.

Tatacara dzikir Tarekat Idrisiyyah terdiri dari tatacara dzikir berjamaah:

1. Dzikir berjamaah setelah shalat fardlu, yaitu dengan dzikir jahar (dalam membaca istigfar, dzikir mulkiyah, dzikir makhsus, shalawat) dan khafi (tasbih, tahmid, takbir 33x), dzikir sirr (Allah/bi ismil mufrad). Posisi makmum dalam dzikir bershaf shaf.

2. Dzikir berjamaah setelah majelis ilmu dengan bentuk halaqah (melingkar). Di Idrisiyyah diterapkan 3 metode dzikir : 1. Dzikir jahar, 2. Khafi, dan 3 sirr. Selain itu posisi dzikirnya mengikuti bimbingan Al Quran: 1. Duduk, 2. Berdiri (melatih dzikir aktivitas), 3. Dzikir sebelum tidur dalam posisi berbaring.

Kaifiat dzikir dalam melafalkan dzikir thayyibah dibagi dua bagian, yaitu nafi (menafikan sembahan) dengan kalimat لا اله (menarik kepala dari bawah ke atas) kemudian itsbat (menetapkan di hati hanya Allah) dengan kalimat الا الله, sambil menurunkan kepala ke arah dada sebagai isyarat menghujamkan Nama Allah ke dalam dada/hati.