INFO TERKINI

ARTIKEL


BUKA BERSAMA SYEKH FATHURAHMAN REUNI DENGAN GURU DAN TEMAN SD




idrisiyyah.or.id | 

Ada yang tak biasa dari acara Buka Bersama kali ini. Selain bertepatan dengan Hari Kartini 21 April Seperti tercantum dalam jadwal Bukber, Rabu ini giliran Zawiyah Cilolohan, Tasikmalaya. Sebagaimana kita ketahui Cilolohan ini tempat Syekh Fathurahman menghabiskan masa kecilnya, Sekolah di SD Cilolohan 1 Kecamatan Tawang Tasikmalaya.

Ustadz Ahmad Faqih -adik Syekh Fathurahman yang sekolah SD-nya bareng dengan Syekh Fathurahman- menjadi pemandu jalan. Sedangkan Syekh di mobil yang lain bersama keluarga. Ustadz Faqih sengaja memilih jalan-jalan yang dulu pernah dijadikan sebagai sarana bermain waktu kecil. Melintasi Komplek Brigif Raider, dia merasa kaget karena sudah banyak perubahan, jalan yang seakan mengecil dan rumah-rumah yang bertumbuh.

"Ini tanjakan kok gak seseram dulu ya? Dulu perasaan naik sekali," ujarnya yang disambut gelak tawa rekan-rekan Sufis di dalam mobil yang sama. Begitu sampai Syekh Muhammad Fathurahman langsung mengisi ceramah bertemakan, "EMPAT PENGHALANG IBADAH Dunia, Mahluk, Setan dan Hawa Nafsu." Selesai menutup acara dengan doa, Panitia membisiki bahwa Ibu Hayati Guru SD Syekh ternyata hadir mendengarkan ceramahnya.

Bu Hayati terharu ketika menerima bingkisan, "Iya sih sudah kebayang waktu kecil Nunang (panggilan kecil untuk Syekh Fathurahman) akan menggantikan Ajengan Nasruddin ayahnya menjadi ulama, eh ternyata lebih dari itu yakni menjadi Guru Mursyid, Alhamdulillah, Allahu Akbar," ucapnya ditengah rintik airmata harunya. Dia senang Syekh Fathurahman masih mengenalnya, bahkan memberikan bingkisan.

Dikesempatan jamuan berbuka, Pak Mamat Guru olahraganya ikut duduk di samping Syekh ditemani Teman-teman sekolah Syekh Fathurahman. Mereka pun larut dalam nostalgia masa-masa SD. Main bola, kenakalan teman-teman pokoknya hebohnya anak-anak SD. "Kalau dulu itu guru menghukum pakai mistar (penggaris), wah kalau sekarang sudah diprotes melanggar HAM ya?!" ujar Ustadz Faqih. Ha ha ha .... seisi ruangan pun tertawa.

Pahlawan tanpa tanda jasa, begitulah kita menyebutnya. Ilmu yang mereka berikan menjadi bekal melangkah dalam kehidupan. Masa-masa SD adalah usia emas dalam pertumbuhan. Guru turut membentuk kepribadian kita.

Hidup terus berjalan, nostalgia itu ibarat kaca spion pada kendaraan sesekali kita tengok untuk menentukan arah perjalanan berikutnya. Tak hanya guru, sebagian teman-teman sekolah SD Syekh Fathurahman pun sudah ada yang pergi meninggalkan dunia, Wafat. Kita berdoa, semoga bisa berkumpul dengan guru-guru kita di yaumil akhir kelak. Amin yaa rabbal alamiiin.

Syekh Fathurahman memberikan teladan, menjadi apa pun kelak kita, jangan lupakan orang yang telah berjasa pada kita meski dia hanya seorang Guru SD.