MACET
Syekh Akbar M. Fathurahman, M.Ag • 03 Oktober 2024
Kemacetan bisa membuat orang tidak nyaman dalam perjalanan. Jika ada orang yang betah/nyaman berlama-lama dalam kemacetan pertanda ia tidak normal. Sebab ia tidak mau cepat-cepat sampai ke tujuan.
Perjalanan ruhani pun bisa mangalami kemacetan, yakni kemacetan yang menghalangi ibadah, disebabkan tidak khusyu', malas, gelisah, kacau pikiran, dll.
Seorang Sufi terkenal, Abu Yazid Al Bustami rhm suatu ketika pernah mengalami kemacetan ibadah karena tidak bisa merasakan kelezatan bermunajat kepada Allah. Lalu ia mencari-cari penyebabnya, tapi tidak ketemu. Hingga akhirnya ia mengeluhkan hal tersebut kepada ibunya tentang apa sebenarnya yang menjadi sebab itu semua. Sang ibu baru teringat bahwa ketika Abu Yazid masih kecil ia pernah memberinya sesuap makanan syubhat yang didapat dari sebelah rumahnya karena dalam kondisi minus. Maka segera ia datangi dan meminta halal kepada si empunya. Ketika itu juga terurailah kemacetannya dalam bermunajat kepada Allah.
Demikianlah contoh kemacetan ruhani yang dialami oleh orang pilihan. Kemacetan ruhani secara umum disebabkan oleh tebalnya hijab (penghalang) dosa dan hawa nafsu. Dalam tasawuf, Ruhani yang macet tersebut dibersihkan dengan proses takhliyah (tazkiyatun nafs) agar segala kekotoran batin yang menjadi penyebab kemacetan bisa disingkirkan. Perjalanan ibadah pun akan terasa nyaman tanpa halangan berarti.
Jika seseorang tekun membersihkan penghalang perjalanan tersebut maka ia akan terhindar dari segala sebab kemacetan. Sebaliknya bagi yang meremehkan dan tidak mau menyingkirkan faktor kemacetan bersiaplah menuai kesengsaraan perjalanan yang akan dialaminya. Misalnya, sudah beribadah tapi masih gelisah dan hampa, kehidupannya berjalan tanpa arah, anugerah kenikmatan tidak mampu ia manfaatkan, musibah kecil membuatnya kelabakan, dsb.
Sementara, suasana perjalanan ruhani tanpa kemacetan akan diiringi rasa kebahagiaan batin nan indah berupa khusyu', kelapangan hati dan rasa syukur. Kebahagiaan demi kebahagiaan selalu menghiasinya menuju kepada tujuan perjalanan, Mardhatillah.