MENCURI PERHATIAN TUHAN
Syekh Akbar M. Fathurahman, M.Ag • 01 Oktober 2024
Zaman sekarang adalah zaman ekspresi. Publikasi pribadi, kelompok bahkan sebuah negara merupakan kejadian setiap saat, tidak dibatasi waktu dan tempat. Hampir sulit membedakan mana yang 'syiar' negatif dan positif di dunia yang penuh dengan gelora informasi saat ini.
Satu view (tampilan) di media sosial bisa dinikmati dan direspon jutaan orang. Dalam sekejap seseorang bisa melambung namanya, atau bahkan menjadi tercoreng tiba-tiba. Di malam hari seseorang sedang asyik bersama keluarga, keesokan hari ia menginap di penjara karena dijemput KPK. Siang hari seseorang masih bebas bekerja, keesokan hari ia sudah kehilangan pekerjaan karena suatu kasus menjeratnya. Banyak hal, yang menyimpulkan bahwa publikasi media dapat mengubah nasib seseorang dalam sekejap.
Begitu besarnya pengaruh publikasi tersebut sehingga banyak dimanfaatkan untuk mencuri perhatian orang. Setiap waktu, saat dimanapun tempat selalu dimanfaatkan untuk mencuri perhatian orang. Niatnya bermacam-macam, meningkatkan status, popularitas, pengikut (followers), track record pribadi, dan sebagainya.
Manusia lupa bahwa tanpa update status, Allah telah menitipkan CCTV Ruhani yang tak lepas merekam jejak kemanapun ia pergi.
Seandainya manusia menyadari bahwa ketika ia merasa diawasi oleh Pemilik kehidupan ini tanpa lengah sedikitpun dari waktu ke waktu, dan ia memahami rekaman kehidupannya akan tersimpan rapi maka ia akan beralih untuk mencuri perhatian Tuhan daripada mencari perhatian manusia.
Orang-orang pilihan senantiasa merasa diawasi (muraqabah), dan menyadari jika rekaman Ilahi tersebut akan diputar ulang suatu ketika dan diperlihatkan kepada seluruh umat manusia.