MERAIH KEBAHAGIAAN

Ustadz Luqman Al-Hakim • 02 Oktober 2024

MERAIH KEBAHAGIAAN

Dalam realitas zaman modern sekarang ini banyak orang kaya yang tidak menjalani hidupnya dengan bahagia. Bahkan ada yang menghabiskan milyaran rupiah untuk meraih kebahagiaan dengan berkeliling dunia. Mereka sudah menghambur-hamburkan kekayaan, bermabuk-mabukkan, tapi tidak juga menemukan kebahagiaan. Seakan-akan mereka kehilangan arah dalam meraih makna kebahagiaan.


Orang kaya menganggap orang sederhana seperti petani adalah orang bahagia dengan kesederhanaannya karena bisa menikmati keindahan tempat tinggalnya di pegunungan. Sebaliknya petani tadi memandang bahwa kebahagiaan itu disandang oleh orang kaya yang mengendarai mobil mewah. Sehingga kita menjadi sulit menentukan bahagia itu yang mana sebetulnya. Tasawuf-lah yang akan menjadi jalan untuk mendapatkan kebahagiaan.


Kebahagiaan itu merupakan kelapangan dalam memandang realita suatu kehidupan, dan tidak memandang dunia sebagai tujuan. Dunia yang diusahakan orang mencarinya dengan pontang panting, sehingga kepala dijadikan kaki dan kaki dijadikan kepala, hanyalah sebuah sarana saja. Dunia sebagai materi bukanlah satu-satunya cara untuk meraih kebahagiaan. Maka Tasawuf merupakan cara yang benar mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.


Banyak orang mencari kebahagiaan dengan cara yang salah. Mereka sudah mendapatkan posisi atau kedudukan yang baik tapi menempuh kebahagiaan dengan cara yang keliru, akhirnya masuk ke dalam penjara. Para pejabat yang korupsi menganggap di situlah kebahagiaan yang ia cari. Kebahagiaan yang awalnya ia harapkan ternyata berakhir di penjara. Hal itu karena dunia dijadikan sebagai tujuan. Jika dunia dijadikan sebagai tujuan, manusia selamanya tidak akan bahagia.


Tasawuf bisa digambarkan seperti ini: 'pada saat Allah memberikan ujian dan cobaan tidak putus asa dan sedih; apabila Allah memberikan kenikmatan tidak menjadi sombong'. Sehingga hidup ini dijalani dengan tenang. Harapannya keselamatan dunia dan akhirat. Maka jika ada orang yang menganggap tasawuf itu keliru menandakan ia tidak tahu dan tidak mempelajarinya. Orang yang mempelajari tasawuf sebagaimana yang dijelaskan akan memahaminya dengan baik.


Ilmu Tasawuf menjernihkan, melembutkan dan menenangkan hati, sehingga hatilah yang menjadi pionir setiap apapun dalam kehidupan ini. Sebagaimana sabda Nabi Saw:


Sesungguhnya, di dalam badan ini terdapat sekerat daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh badan, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh badan. Sesungguhnya, ia adalah hati. (HR Bukhari dan Muslim).


Hati-lah menggerakkan semuanya termasuk arah kebahagiaan. Kebahagiaan bukan terletak pada harta benda, tapi di hati.


Ilmu Tasawuf itu ilmu yang mengarahkan seseorang untuk melibatkan Allah dalam setiap langkah sehingga ketika ia mendapatkan nikmat tidak sombong dan ketika diberi ujian ia tidak membuatnya putus asa.


Jika Ilmu Tasawuf tidak diajarkan kepada kaum milenial atau generasi YZ - karena 80% kehidupannya tidak terlepas dari gadjet - maka generasi ke depan tidak bisa meraih ajaran Islam yang sebenarnya. Karena nilai-nilai yang diajarkan oleh Rasulullah Saw adalah ajaran Tasawuf itu sendiri. Generasi milenial sekarang perlu diajarkan tentang kehidupan, akhlak, keteladanan Rasulullah Saw melalui ajaran Tasawuf. Semoga kita dapat mendidik anak-anak kita dengan cara yang benar, yakni dengan cara bertasawuf.