MENIMBANG KEMBALI ISTILAH FALSAFI
Ustadz Luqman Al-Hakim • 01 Oktober 2024
Orang banyak membahas Tasawuf Falsafi. Padahal posisi falsafi di kepala (berfikir), sedangkan tasawuf di qalbu. Domainnya berbeda. Kenapa mesti ada tasawuf falsafi? Karena yang menelitinya bukan seorang sufi tapi filosof. Yang membuat disertasi tentang tasawuf Ibnu Arabi adalah seorang filosof bukan praktisi tasawuf (sufi). Mereka menganggap apa yang ada dalam kitab Ibnu Arabi Futūhātul Makiyyah itu filsafat semua. Tasawuf domainnya adalah qalbu. Filsafat ya filsafat dan tasawuf ya tasawuf. Berarti sudah melenceng. Seakan-akan kajian tasawuf falsafi itu adalah domainnya filsafat. Padahal tasawuf wilayahnya dzauq (rasa hati). Dalam kitab Futūhātul Makiyyah disebutkan, I’lamū anna ash-hābanā laysa min thorīqotil fikri wainna min thorīqotil faīdh (Ketahuilah sesungguhnya ilmu-ilmu kami bukanlah berasal dari jalan akal pemikiran, tapi dari jalan limpahan karunia batin). Ilmu tasawuf bukan berasal dari ilmu berfikir, tapi limpahan karunia qalbu (faidh atau irfani). Semua tasawuf berasal dari qalbu, tidak ada tasawuf falsafi.
Ruang lingkup ajaran Tasawuf itu terbagi dua. Makasib, wilayah usaha membersihkan hati, membangun maqāmāt (pilar-pilar ruhani) dalam qalbu. Dan Mawahib (anugerah), seperti ilham, kasyaf, waridat ilahiyah dan lainnya. Wilayah anugerah ini tidak bisa diusahakan. Al Quran menyebutkan,
"Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami." (Q.S. Al-Kahfi: 65)
Karya Syekh Ibnu Arabi, Hikam-nya Syekh Ibnu Athaillah, Al Insān al Kāmil Al Jili, dan lain-lain merupakan anugerah, bukan hasil renungan berfikir. Allah mencurahkan ilmu ke dalam qalbunya. Maka ilmu yang dihasilkan di luar jangkauan berfikir manusia. Ilmu yang ditransfer merupakan pancaran nur (cahaya). Itulah yang namanya Isyraqiyyah, terbitnya cahaya di dalam hati. Qalbu harus seperti bulan yang disinari cahaya matahari (Allah). Bulan tidak bersinar dengan sendirinya, tapi menerima cahaya dari matahari. Cahaya bulan pada akhirnya menyinari bumi. Al Faidh merupakan pancaran Nur Allah yang masuk ke dalam qalbu. Karunia ini dinamakan juga irfani atau laduni.
Jika filsafat merupakan usaha berfikir seseorang dalam menemukan kebenaran. Hasilnya bisa salah atau benar. Sedangkan irfani atau laduni tidak dicari tapi diberi (didatangkan) Allah ke dalam hati yang menjaga konsistensi kebersihan hati. Berbeda dengan filsafat, yang berusaha mencari. Pemberian anugerah Allah tidak ada yang salah. Kecuali jika orang yang menerimanya mengaku-aku (padahal bukan ahlinya). Jika Allah sudah memberi berarti itulah kebenaran. Jalan inilah yang dikejar oleh Imam Al Ghazali yang mengalami syak (ragu) dalam menimba ilmu zhahir dengan metode berfikirnya. Misalnya dalam Ilmu hadis ada yang menyatakan sahih dan lainnya menyatakan dhaif. Kebenarannya menjadi bertolakbelakang, bersifat tidak mutlak. Akhirnya ia ragu dan terjun ke dunia tasawuf. Lalu ia mendapatkan metode Isyraqi, sehingga kebenaran yang diperolehnya bersifat mutlak. (Bersambung)