MANAQIB PERJUANGAN SYEKH AKBAR ABDUL FATTAH RA

Ustadz Luqman Al-Hakim • 29 September 2024

MANAQIB PERJUANGAN SYEKH AKBAR ABDUL FATTAH RA

Syekh Akbar Abdul Fattah adalah sosok ulama dan Mursyid yang banyak memberikan kontribusi untuk kemajuan Agama dan ikut berperan dalam usaha meraih kemerdekaan dan mencerdaskan bangsa, melalui gerakan pembaharuan Islam dengan manhaj Tarekat Sanusiyah yang dibawanya dari tanah suci Mekah.


Sejak kecil Beliau gemar menuntut ilmu di berbagai Pesantren, dengan kegigihan dan keuletannya dalam belajar, Beliau menjadi santri yang terpandai di Pesantren kala itu, sehingga gurunya, KH. Suja'i atau lebih dikenal sebagai Mama' Kudang menyebutnya dengan sebutan ‘si Linggis’.


Syekh Akbar Abdul Fattah memiliki keinginan yang kuat dalam mencari kebenaran, terbukti setelah Beliau mem-bahas tafsir Al Qur’an surah Al Kahfi ayat: 17, yang menjelaskan pentingnya mencari sosok Guru Mursyid, walau halangan dan rintangan sangat berat, Beliau tidak ragu untuk berkorban meninggalkan harta, keluarga dan kampung halamannya.


Dalam catatan kehidupannya, Beliau belajar kepada Ulama mujahid yang ditakuti bangsa penjajah Barat saat itu, Syekh Ahmad Syarif As Sanusi Al Khaththabi.


Selama belajar tarekat kepada Syekh Ahmad Syarif as Sanusi, ia sempat mengalami berbagai ujian. Dengan keyakinan yang kuat dan kebersihan hatinya, semua ujian berhasil dilewatinya. Rasa ridha sebagai murid ketika mengalami ujian demi ujian menunjukkan berlian dan keyakinan hati yang tegar bagaikan gunung.


Syekh Akbar membawa Idrisiyyah ke Indonesia dalam suasana penjajahan dan peperangan. Petunjuk Ruhani Rasulullah Saw telah mengabarkan bahwa dengan barokah masuknya Tarekat Rasulullah, maka kemerdekaan akan segera terwujud di negeri ini. Indonesia akan terbebas dari cengkeraman penjajah yang sudah berjalan selama 3 abad. Namun kabar gembira tersebut bukan menjadi sekadar angin segar yang melenakan dan menyebabkan menurunnya semangat Beliau dalam menegakkan kebenaran. Beliau terus memotivasi para Santri dan jamaahnya untuk terus berjuang untuk bertahan menghadapi kondisi tekanan penjajah saat itu.


Para santri saat itu terkenal dengan keberaniannya dalam melawan penjajah. Pasukan Hizbullah yang terdiri dari kaum santri disebut dan dikenal dengan Kompi Istimewa Kota Agung.


Suatu hari, dalam perang kemerdekaan, pasukan Hizbullah, yang terdiri dari para santri pimpinan Syekh Akbar Abdul Fatah, dibombardir oleh pesawat Belanda. Satu persatu bom jatuh ke halaman masjid namun, bom-bom itu tidak meledak. Saat bom-bom tersebut jatuh, santri-santri hanya berteriak ‘Madaaad Syekh Akbaar jangan meledaaak…’ Bom itu jadi diam tak bergerak. Ketika semua santri keluar menjauhi area berbahaya tersebut, barulah mereka berteriak kembali ‘Madaaad Syekh Akbaar … meledak’. Maka bom meledak satu demi satu, seakan ‘menuruti’ kemauan para santri ketika itu.


Para pejuang tarekat ini ikut bergerilya ke berbagai pelosok dalam rangka berstrategi melawan musuh dari luar dan dalam. Untuk membekali mereka, Syekh Akbar Abdul Fatah telah memberikan para santrinya curahan air keyakinan sebelum mereka merasakan curahan air karamah yang didoakan. Sebelum mereka berangkat mereka mandi dan meminum air karamah tersebut sehingga tidak mempan oleh peluru atau senjata tajam. Bahkan pejuang dari luar pun ikut merasakan keampuhan air karamah tersebut.


Pada masa sesudah kemerdekaan pun pasukan ini kembali beraksi melawan komplotan pemberontak DI/TII. Banyak Ulama di Jawa Barat terjebak dengan keputusan mendukung pemberontak yang akhirnya ikut dibasmi bersama. Pilihan Tarekat Rasulullah selalu berada dalam garis petunjuk dan bimbingan Allah sehingga di saat-saat genting tidak mengalami kesalahan fatal dalam mengambil setiap keputusan.