KONSEP WAHABI TIDAK RASIONAL
Ustadz Luqman Al-Hakim • 24 September 2024
Wahabi tidak sadar diri dengan mengungkapkan identitas khawarij itu ditujukan kepada orang lain. Padahal ciri-cirinya tertuju kepadanya (yang suka menuding sesat kelompok lain). Mereka terus beranggapan kelompoknya yang paling benar.
Salah satu saksi Ulama yang hadir pada masa gejolak wahabi adalah Syekh Ahmad ash Showi (pengarang Hasyiyah Tafsir Jalalain). Beliau adalah salah satu penganut tarekat khalwatiyah yang lahir 60 th setelah kelahiran Syekh Muh. bin Abdul Wahab (pendiri Wahabi). Karenanya dalam salah satu kitabnya itu (Hasyiyah) menyebutkan bahayanya kelompok khawarij (Wahabi) yang menuding kelompok lain sesat. Padahal diri merekalah yang sesat.
Paham Wahabi seperti paham mulhid (atheis). Mereka beranggapan membacakan Yasin untuk ornag meninggal tidak ada manfaatnya, karena ruhnya telah tiada. Hadis: Iqro-ū ’alā mawtākum Yāsīn (Bacalah surat Yasin atas orang-orang yang meninggal).' HR. Abu Dawud, al-Nasa'i dan disahihkan oleh Ibnu Hibban) Mereka menganggap ’alā mawtākum (atas kematianmu) itu saat sakaratul maut. Dan bacaan Yasin itu supaya meringankan orang yang akan keluar ruhnya. Kalau dibacakan ketika sudah meninggal sudah tidak mendengar lagi, katanya. Pemahaman ini persis seperti orang mulhid. Sedangkan pemahaman ahlus sunnah, baik yang sedang sakaratul maut atau telah wafat itu dibacakan Yasin.
Orang-orang mulhid perkataannya seperti diungkap dalam Al Quran: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?” (QS. Yasin: 78) Karena dianggap mayat yang tinggal tulang belulang itu tidak bisa apa-apa.
Lantas jika manusia di alam kubur hanya tulang belulang dan tidak berarti, lalu siapa yang kita kunjungi ketika berziarah? Ucapan: ‘Assalamu’alaikum Ya Ahlal Qubur!’ ditujukan kepada siapa? Kepada jenazah atau ruh? Apakah Nabi Saw memerintahkan orang mukmin mengunjungi bangkai atau benda mati yang tidak ada harganya? Pemahaman wahabi yang tak rasional ini memperbodoh umat.