SI PEMBERANI (Kisah 1)
Ustadz Luqman Al-Hakim • 15 September 2024
Napak Tilas Kehidupan Syekh Akbar M. Daud Dahlan Ra
Di saat kondisi Syekh Akbar dalam keadaan uzur di pembaringan, banyak pengurus yang menanti-nanti informasi tentang perjalanan Idrisiyyah ke depan. Di antaranya adalah Mursyid pelanjut kepemimpinan tarekat Idrisiyyah. 'Yang akan menjadi Khalifah Bapak nanti adalah murid yang berani,' ucapan Syekh Akbar Muhammad Dahlan itu disampaikan kepada salah seorang pengurus. Pengertian berani disini maksudnya dalam hal mengedepankan kebenaran.
Pernyataan itu bukan sekadar kata belaka. Tapi terbukti dengan beberapa fakta yang terjadi dalam sisi kehidupan tokoh yang akan kita bicarakan.
Kisahnya bermula ketika Syekh Akbar M. Daud (masih muda) hidup mengembara di Papua. Sosoknya yang ketika itu masih kurus namun tidak membuat ia menjadi takut berhadapan dengan lawan yang tubuhnya melebihi dirinya. Di sana ia pernah mengalami peristiwa yang membuat dirinya dikenal sebagai jagoan. Kenapa demikian? Karena ia mampu merobohkan seorang tentara (KKO) di sebuah perkelahian.
Ketika itu ada orang menceritakan bahwa dirinya dizalimi oleh seorang tentara. Ia tidak tahu kepada siapa harus mengadu, karena tidak berani cerita kepada orang lain. Lalu ia menceritakan duduk persoalannya yang membuat jiwa pemuda M. Daud terpanggil untuk membelanya. Ia lalu menunggu di tempat tentara itu biasa lari pagi. Dengan gaya petantang petenteng seorang militer di hadapan sipil, saat itu ia melihat pemuda M. Daud, dan meremehkannya. Terjadilah dialog yang berubah menjadi cekcok karena masalah tersebut. Adu mulut itupun berubah menjadi ajang adu jotos. Akhirnya terjadilah perkelahian yang tak terelakkan. Saat itulah tinju M. Daud berhasil memukul telak wajah tentara itu, dan mengakibatkan ia jatuh tersungkur tak berdaya. Karena itulah, keberaniannya melawan tentara menyebabkan ia menjadi buah bibir dan disegani di daerahnya. Ketika itu belum ada kejadian seorang sipil berani melawan orang militer apalagi sampai memukulnya jatuh di wilayah Papua. Setelah peristiwa itu orang-orang di lingkungannya menaruh hormat kepadanya. Ketika bertemu, orang-orang merasa segan dan memberi penghormatan.
Beberapa tahun berlalu, ketika Beliau sudah menjadi Khalifah ada seorang security (orang Papua) yang bekerja di sebuah kantor di Jl. Hayam Wuruk mengetahui keberadaannya di Batu Tulis. Ia menjadi saksi keberanian 'Abang Daud' (panggilannya terhadap Syekh Akbar) ketika meninju tentara hingga roboh. Ia bermaksud menemuinya. Ia ingin meminta restu karena dalam waktu dekat ia akan bertanding dalam sebuah kejuaraan tinju. Ia ingin sekali mendapatkan tips dari Abang Daud yang dikenalnya agar ia menjadi petinju yang sukses.
Ketika ia tanyakan hal itu, Syekh Akbar menjawabnya simpel. 'Gampang, ketika hendak memukul fokuskan pukulan kepada obyek yang akan dipukul. Lalu hantam sekuat tenaga. Pasti lawan akan jatuh'. Itulah resep berhadapan dengan musuh.' Tidak hanya itu, banyak beberapa orang bertanya-tanya bagaimana beliau sampai mengalahkan seorang tentara dengan sekali pukul. Menurutnya berkelahi itu simpel, tidak perlu banyak jurus, semua jurus hanya sebagai kembang saja.