SIAPAKAH IMAM MUHAMMAD AL-MAHDI AL-SANUSI

Ustadz Luqman Al-Hakim • 12 September 2024

SIAPAKAH IMAM MUHAMMAD AL-MAHDI AL-SANUSI

SIAPAKAH IMAM MUHAMMAD AL-MAHDI AL-SANUSI?


Dikutip dari: Man Huwa al-Imām Muhammad al Mahdi al-Sanūsī?

Figur yang didambakan di masanya, para khalifah Istanbul berusaha mendapatkan dukungannya, orang-orang Arabi dan Mahdi dari Sudan ingin mendapatkan pertolongannya, dan membuat Eropa khawatir, mengirimkan mata-mata dan tentaranya untuk menyelidiki dan menyingkap rahasianya... Dia adalah al-Mahdi, ayah dari Raja Idris.

-------------------------------------------------------------

Dia adalah putra pertama Imam Muhammad bin Ali al-Sanusi dan ibunya bernama Fathimah binti (Ahmad bin Farajallah al-Fayturi), dari penduduk Suq al-Juma'ah, Tripoli. Dia lahir pada hari Senin pertama bulan Zulqaidah, 1260 Hijriah, bertepatan dengan 11 November 1844 Masehi, di Zawiyah Al-Bayda (sekarang dekat kota Al-Bayda), dan saat itu ayahnya tidak berada di sana, di Derna, untuk membangun Zawiyah, dan kemudian dia pergi ke Hijaz.


Ketika Sayid Al Mahdi berusia enam tahun pada tahun 1850 M, ayahnya di Mekkah mengirimnya untuk menghafal Al-Quran dalam dua riwayat dan bergabung dengan ayahnya lagi (kembali ke Jaghbub) pada usia empat belas tahun, tepatnya pada tahun 1274 H yang bertepatan dengan tahun 1858 M.


Ketika ayahnya meninggal sekitar dua tahun kemudian, sebuah dewan perwalian yang terdiri dari sepuluh syekh dibentuk untuk mengurus tarekat Sanusiyyah hingga al-Mahdi dewasa. Ketika ia mencapai usia enam belas tahun, Ikhwan Sanusi berbaiat kepadanya atas semua urusan tarekat, dan ia mengurus administrasi dan mengatur pergerakan Sanusiyah, sementara saudaranya, Sayyid Muhammad al-Syarif, mengabdikan dirinya untuk urusan pendidikan.


Sayyid al-Mahdi tetap tinggal di Jaghbub, mengelola urusan tarekat dan seruannya selama tiga puluh enam tahun, di mana negara ini menyaksikan stabilitas dan keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kemudian, pada tahun (1312 H - 1895 M), ia membuat keputusan mendadak untuk memindahkan pusat Sanusiyyah dari Jaghbub ke Kufra, di mana ia membangun beberapa zawiyah (cabang tarekat) di pinggiran kota untuk tetap berada di zawiyah Taj, sehingga mendahului kedatangan para penjajah Eropa dan misionaris ke daerah-daerah tersebut.


Pada masa kepemimpinannya (1859 M - 1902 M), Dakwah Sanusiyyah mencapai puncak kekuatannya dan menyebar ke dalam dan luar negeri, dan dapat dikatakan bahwa Eropa - dan Prancis khususnya - tidak terganggu oleh seorang tokoh dari Timur tidak sebagaimana mereka terganggu oleh sosok Al-Mahdi (Sudan).


Dari Kufra, dakwah Sanusiyyah - yang tidak pernah menggunakan kekerasan untuk mendukung pekerjaan dakwahnya - membawa Islam ke negara-negara di luar Pegunungan Tibesti dan daerah-daerah yang tidak dikenal di Sudan, dan jutaan penyembah berhala sub-Sahara masuk Islam di tangan para Da’i dan Syekh Sanusiyah. Hal itu tidak menyenangkan Prancis dan segera melancarkan serangan militer ke pelosok-pelosok Sanusiyyah, maka Sayyid al-Mahdi segera pindah ke Wadi, bertahan hingga wafatnya di Koro, Chad, pada hari Ahad, 24 Safar 1320 H, bertepatan dengan tanggal 2 Juni 1902 Masehi.


Pada saat wafatnya Sayyid al-Mahdi (1902 M), Sanusiyyah memiliki 146 zawiyah yang dirincikan sebagai berikut: Cyrenaica (45), Mesir (21), Hejaz (17), Tripoli (18), Fezzan (15), Kufra (6), Sahara Selatan (14).