Murid Mubtadi dan Muntahi: Perjalanan Spiritualitas dalam Tasawuf
MK IDRISIYYAH • 17 Desember 2024
Murid Mubtadi dan Muntahi: Perjalanan Spiritualitas dalam Tasawuf
Dalam dunia tasawuf, murid-murid dibagi ke dalam beberapa tingkatan, berdasarkan kemajuan mereka dalam menjalani mujahadah (perjuangan batin) dan riyadhah (latihan spiritual). Tiga tingkatan utama yang sering dijumpai adalah mubtadi (pemula), mutawasith (pertengahan), dan muntahi (tinggi). Setiap tingkatan memiliki tantangan dan ujian yang berbeda, mirip dengan perbedaan antara jenjang pendidikan yang satu dengan yang lainnya—seperti perbedaan antara PAUD dan sekolah menengah, atau antara SD dan perguruan tinggi.
Seorang muntahi, yang telah mencapai tingkat spiritual yang tinggi, tidak akan terhijab oleh kesenangan duniawi. Bagi mereka, makanan, pakaian, kendaraan, atau jabatan tidak akan menghalangi semangat mereka dalam beribadah dan berdakwah. Hal ini berbeda dengan mubtadi dan mutawasith, yang masih sering bergelut dengan godaan duniawi. Misalnya, makanan yang berlebihan bisa menjadi ujian berat bagi mereka, namun bagi muntahi, itu tidak lagi menjadi masalah. Kunci dari hal ini adalah zuhud.
Zuhud: Bukan Kehidupan Miskin, Melainkan Sikap Terhadap Dunia
Zuhud sering disalahpahami sebagai hidup miskin atau fakir. Padahal, zuhud lebih merupakan sikap batin terhadap dunia. Artinya, jika dunia ini dijadikan sarana untuk beribadah, maka dunia tidak akan memengaruhi hati seseorang. Yang menjadi masalah adalah ketika dunia masuk ke dalam hati. Mobil, rumah, tanah, jabatan, atau harta lainnya, jika hanya berada di tangan dan tidak dalam hati, tidak akan menjadi masalah. Namun, jika dunia ini masuk ke dalam hati, maka itu bisa menjadi hijab atau penghalang bagi hubungan seseorang dengan Allah.
Salah satu contoh terbaik tentang konsep zuhud ini dapat ditemukan dalam diri Syaikh Abul Hasan Asy-Syadzili, seorang tokoh sufi besar. Meskipun ia mengenakan pakaian mahal dan berkuda dengan kuda yang sangat mewah, ia tetap dikenal sebagai sosok yang zuhud. Suatu ketika, seorang muridnya bertanya mengapa Syaikh Asy-Syadzili mengenakan selendang mahal jika ia mengajarkan zuhud. Syaikh menjawab dengan bijaksana, "Zuhud itu adalah menjauhkan hati dari dunia. Meskipun selendang ini mahal dan bagus, ia tidak ada dalam hatiku. Namun, jika itu ada dalam hatimu, maka itulah masalahnya."
Tasawuf: Dunia Sebagai Sarana Ibadah
Tasawuf mengajarkan agar dunia tidak menggelapkan hati seseorang, melainkan menjadi sarana untuk mendapatkan ridha Allah. Ulama-ulama besar dalam tradisi tasawuf mengatakan bahwa seorang guru atau syekh yang memiliki tubuh gemuk menunjukkan ketenangan hati, yang merupakan buah dari dzikir yang terus-menerus. Tubuh yang gemuk bukanlah tanda bahwa seseorang makan berlebihan, melainkan makan untuk kebutuhan dakwah dan jihad. Dengan dzikir yang kontinyu, hati seorang sufi akan tetap tenang, tidak terhijab, baik dalam keadaan sempit maupun lapang.
Contoh Nyata dari Kehidupan Para Sufi
Ibnu Arabi, seorang tokoh besar dalam tasawuf, pernah merasakan kecintaan yang sangat mendalam terhadap gurunya hingga ia tidak lagi merasa membutuhkan makan dan minum. Namun, meskipun ia tidak lagi memikirkan kebutuhan fisiknya, tubuhnya justru menjadi gemuk. Sebaliknya, Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, yang dikenal sangat zuhud, memiliki pandangan yang berbeda terkait dengan makan. Beliau pernah memerintahkan para muridnya untuk berlapar agar perjuangan mereka dalam meraih ilmu menjadi lebih mudah. Suatu ketika, seorang bangsawan yang melihat anaknya menjadi kurus karena berlapar bertanya pada Syaikh Abdul Qadir mengapa beliau sendiri tampak sehat dan kenyang. Syaikh Abdul Qadir lalu menunjukkan tulang ayam yang ia makan, yang kemudian dengan izin Allah, tulang itu berubah menjadi ayam hidup yang berkokok. Beliau berkata, "Jika anakmu ingin mendapatkan ilmu seperti ini, maka ia harus bersusah payah terlebih dahulu."