Ekonomi Ala Sufi: Mengintegrasikan Iman, Islam, dan Ihsan dalam Kehidupan

MK IDRISIYYAH • 07 Februari 2025

Ekonomi Ala Sufi: Mengintegrasikan Iman, Islam, dan Ihsan dalam Kehidupan

Ekonomi Ala Sufi: Mengintegrasikan Iman, Islam, dan Ihsan dalam Kehidupan


Banyak orang yang mengatasnamakan tasawuf atau tarekat, namun pemahamannya justru mengarah pada penolakan terhadap ekonomi. Salah satu yang sering menjadi sorotan adalah konsep zuhud. Pada umumnya, orang mengartikan zuhud sebagai meninggalkan dunia, padahal sebenarnya zuhud adalah mengeluarkan dunia dari hati. Dunia tidak seharusnya disimpan di dalam hati, tetapi harus digenggam dengan bijaksana. Jika dunia masuk ke dalam hati, maka itu berarti hubbud dunya atau kecintaan terhadap dunia, yang oleh Nabi Muhammad Saw. diprediksi sebagai penyebab kehancuran umat di akhir zaman.


Konsep zuhud yang benar adalah “Carilah dunia dengan cara yang halal untuk akhirat.” Dunia, dalam hal ini, bukanlah tujuan, tetapi sarana untuk beribadah kepada Allah. Pemahaman ini menjadi dasar dalam membangun fiqih ekonomi (iqtishadiyah). Menurut Syekh Fathurahman, ekonomi dapat dibangun dengan mengintegrasikan iman, Islam, dan ihsan. Artinya, berekonomi juga sekaligus bertasawuf, berbisnis bukan hanya sekadar mencari keuntungan, tetapi juga mencerminkan akhlak yang baik.


Sejarah Islam menunjukkan bahwa para Sahabat terdiri dari berbagai lapisan ekonomi, baik yang miskin maupun yang kaya. Ahlus Shuffah, misalnya, adalah kelompok fakir yang ketika hijrah ke Madinah tidak memiliki apa-apa lagi. Mereka tinggal di pinggiran masjid untuk memakmurkan masjid sekaligus belajar kepada Nabi Muhammad Saw. 24 jam sehari. Ahlus Shuffah melaksanakan zuhud dengan tidak meminta-minta dan tidak menyusahkan orang lain.


Sementara itu, Sahabat yang kaya seperti Abu Bakar Ra. menginfakkan seluruh hartanya, Umar Ra. setengahnya, Usman Ra. sepertiganya, dan Abdurrahman bin Auf Ra. bahkan menginfakkan 500 ekor unta. Apakah mereka yang kaya ini bukan pengamal tasawuf? Justru merekalah yang mengamalkan tasawuf sejati, dengan menghilangkan kecintaan terhadap harta dalam hati mereka. Dengan demikian, mereka bisa bersikap dermawan, dan ini merupakan bentuk zuhud yang sesungguhnya.


Puncak kejayaan Islam terjadi ketika seluruh elemen masyarakat, baik yang kaya maupun miskin, berkontribusi besar dalam memakmurkan masjid dan menegakkan ekonomi yang berbasis pada nilai-nilai spiritual. Mereka yang kaya memberikan sumbangan materi, sedangkan yang miskin memakmurkan masjid dengan doa dan pengabdian mereka.


Namun, pada masa kini, pemahaman tentang tasawuf sering kali disalahartikan. Banyak yang beranggapan bahwa kata "Sufi" hanya merujuk pada kelompok Ahlus Shuffah yang miskin dan tidak memiliki pekerjaan selain beribadah di masjid. Ini adalah pandangan yang sempit. Padahal, pengetahuan tentang tauhid, fiqih, dan tasawuf itu berkembang kepada semua Sahabat, baik yang kaya maupun yang miskin. Jika tasawuf hanya diidentikkan dengan kemiskinan, maka akan terjadi kesalahpahaman yang besar tentang makna tasawuf itu sendiri.


Berekonomi dalam pandangan tasawuf bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai bentuk pelaksanaan perintah Allah untuk mencari karunia-Nya, seperti yang tercantum dalam Al-Qur'an: "wabtaghū min fadhlillāh" (Carilah sebagian karunia Allah!) [Q.S. Al-Jumu'ah (62): 10]. Fiqih ekonomi mengajarkan kita untuk menjalankan aktivitas ekonomi sesuai dengan prinsip-prinsip syariat, sementara tasawuf mengajarkan kita untuk selalu beretika dalam setiap transaksi ekonomi. Bukan hanya mencari keuntungan, tetapi juga saling membantu dalam proses mu’amalah, seperti prinsip ta'awwun (saling menolong) yang diajarkan dalam Islam.


Ekonomi adalah jantung kehidupan. Sayangnya, umat Islam telah tertinggal dalam bidang ekonomi jika dibandingkan dengan umat lain. Salah satu akar masalahnya adalah kesalahpahaman dalam memahami zuhud. Oleh karena itu, kita perlu menghadirkan kembali konsep tasawuf yang relevan dengan kehidupan modern, yang bukan hanya sekadar retorika, tetapi bisa diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.