"Mengungkap Keagungan Allah di Balik Pandangan terhadap Ka'bah: Sebuah Pengalaman Umroh yang Mendalam"

MK IDRISIYYAH • 28 Februari 2025

"Mengungkap Keagungan Allah di Balik Pandangan terhadap Ka'bah: Sebuah Pengalaman Umroh yang Mendalam"

Ada murid ( seorang ustadzah ) asal Cirebon bersama suaminya berangkat umroh bersama rombongan Umroh Travel Idrisiyyah. Ini adalah pengalaman pertama bagi mereka, dan ustadzah tersebut telah lama membayangkan keagungan dan keindahan Ka'bah. Dalam perjalanan dari hotel menuju Masjidil Haram, doa dan manasik dipandu oleh Syekh Akbar melalui transmitter. Ketika mereka turun dari tangga menuju Ka'bah, Syekh Akbar mulai memandu doa yang diikuti oleh jamaah:


اللّٰهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيْفًا وَتَعْظِيْمًا وَتَكْرِيْمًا وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ شَرَّفَهُ وَكَرَّمَهُ مِمَّنْ حَجَّهُ وَاعْتَمَرَهُ تَشْرِيْفًا وَتَكْرِيْمًا وَتَعْظِيْمًا وَبِرًّا.


“Ya Allah, tambahkanlah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini, dan tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya di antara mereka yang berhaji atau berumroh padanya, dengan kemuliaan, kehormatan, kebesaran, dan kebaikan.”


Namun, ketika menuju Ka'bah, ibu ustadzah itu merasa terkejut. Apa yang selama ini ia bayangkan sebagai Ka'bah yang agung dan penuh wibawa tiba-tiba terlihat kecil, lusuh, dan tidak berwibawa, berbeda dari yang ia harapkan. Ia merasa cemas dan khawatir ada kesalahan dalam dirinya yang menyebabkan gambaran ini muncul. Namun, saat melihat Syekh Akbar, justru sosoknya terlihat semakin besar, tinggi, dan penuh wibawa. Pandangannya terhadap Syekh Akbar tetap sama hingga sampai di Thaif.


Syekh Akbar menjelaskan bahwa pengalaman seperti itu pernah dialami oleh ulama-ulama besar, bahkan dirinya sendiri pernah mengalaminya. Ini adalah sebuah anugerah yang jarang terjadi, yang dikenal dengan istilah kasyaf, yaitu tersingkapnya tirai kegaiban di balik dimensi yang tampak. Kasyaf tersebut memberikan pandangan yang berbeda, seperti halnya yang dirasakan oleh si murid tersebut, yang melihat kemuliaan pada mursyidnya.


Ka'bah adalah simbol arah shalat dan petunjuk bagi umat manusia. Namun, Ka'bah hanya memberikan petunjuk secara umum dan tidak menyeluruh. Berbeda dengan mursyid, yang memberikan petunjuk lebih mendalam. Ka'bah tetaplah sebuah benda yang diberkahi, namun mursyid memiliki kedudukan yang lebih tinggi.


Kasyaf adalah anugerah dari Allah, bagian dari mawahib yang bukan hasil usaha, melainkan pemberian Allah yang datang tanpa diusahakan. Meskipun seseorang dianggap bodoh, jika Allah menghendaki, tidak ada yang bisa menghalangi. Kasyaf merupakan mutiara ibadah yang sangat mahal harganya.


Pengalaman ini mengingatkan kita pada kisah seorang sufi besar, Abu Yazid al-Bustami, yang juga pernah mengalami pandangan terhadap Ka'bah yang berbeda. Ka'bah yang selama ini diberkahi Allah, tiba-tiba tampak kecil dan tanpa haibah (wibawa). Ternyata, saat itu Abu Yazid sedang mengalami musyahadah (penyaksian langsung) terhadap Pemilik Ka'bah, sehingga pandangan lahirnya terhadap Ka'bah terhalang. Bagi orang awam, yang terlihat adalah kewibawaan Ka'bah, namun bagi mereka yang hatinya terbuka, yang mereka saksikan adalah Keagungan Allah SWT.

Perjalanan ini mengajarkan kita bahwa petunjuk sejati datang dari Allah, dan melalui mursyid, kita bisa mencapai pemahaman yang lebih dalam, yang tidak bisa diukur hanya dengan pandangan zahir. Keagungan Allah SWT lebih besar dari segala yang tampak di dunia ini.