Motivasi dalam Menjalani Ibadah

MK IDRISIYYAH • 25 Maret 2025

Motivasi dalam Menjalani Ibadah

Imam Al-Ghazali pernah menuturkan bahwa ada dua hal utama yang mampu menggerakkan hati manusia untuk beribadah, yaitu surga dan neraka. Surga membangkitkan semangat dan gairah (targhib), sementara neraka menumbuhkan rasa takut dan kehati-hatian (tarhib).


Salah satu gambaran surga yang sering disebutkan dalam Al-Qur'an adalah keberadaan bidadari yang menawan bagi kaum pria saleh. Namun, sering muncul pertanyaan dari kaum wanita: "Lalu, apa yang menanti kami di surga?" Pertanyaan ini kerap dilontarkan, terutama oleh wanita modern yang merasa seolah-olah Islam kurang adil terhadap mereka.


Padahal, Islam adalah agama yang adil dan memahami fitrah manusia. Syahwat utama pria adalah wanita, sehingga Islam memperbolehkan poligami dengan syarat yang ketat. Sebaliknya, wanita tidak diperbolehkan poliandri karena bertentangan dengan hukum positif.


Allah SWT, dalam kebijaksanaan-Nya, menyediakan surga dengan segala kenikmatannya, termasuk bidadari bagi pria dan perhiasan bagi wanita. Ini karena kecenderungan wanita lebih kepada perhiasan dan harta dibandingkan dengan pasangan. Fenomena ini terbukti dalam kehidupan nyata, di mana banyak wanita bersedia menikah dengan pria lanjut usia yang kaya raya atau dipoligami asalkan kebutuhan materi mereka terpenuhi. Di sisi lain, pria tetap memiliki hasrat menikah meski di usia senja, sementara wanita cenderung kehilangan hasrat tersebut setelah melewati usia tertentu.


Al-Qur'an, dalam lebih dari delapan surat, menggambarkan keindahan surga dan bidadari secara rinci. Allah SWT sengaja melakukannya untuk membangkitkan motivasi beribadah. Dalam surat Al-Waqi'ah, misalnya, dijelaskan bahwa bidadari diciptakan langsung oleh Allah SWT, memiliki wangi semerbak seperti minyak misik dan kafur, serta merupakan istri-istri yang suci, terbebas dari haid, ingus, belekan, dan kotoran lainnya.


Imam An-Nawawi, seorang ulama besar yang mengabdikan hidupnya untuk ilmu agama, bahkan memilih untuk tidak menikah. Beliau terpesona dengan gambaran bidadari di surga sehingga syahwatnya terhadap wanita dunia meredup.


Bidadari digambarkan sebagai makhluk yang selalu perawan, muda, dan cantik jelita. Kulit mereka begitu halus sehingga air minum tampak mengalir di kerongkongan mereka. Mata mereka indah, dan tubuh mereka membangkitkan gairah. Dalam surat An-Naba', bidadari digambarkan memiliki dada yang menonjol, usia yang sebaya, serta selalu menundukkan pandangan mereka. Ucapan mereka sopan dan lembut, berbeda dengan wanita dunia yang lebih mudah tersulut emosi. Pakaian mereka terbuat dari sutra halus dan tebal. Begitu indahnya gambaran bidadari sehingga seorang pria yang termotivasi olehnya tidak akan mudah tergoda oleh wanita dunia.


Kisah seorang sahabat Nabi SAW yang memilih untuk berperang di jalan Allah dibandingkan menghabiskan malam pertamanya menjadi bukti betapa kuatnya motivasi surga. Dikisahkan bahwa bidadari bahkan turun dari surga untuk menjemputnya saat ia syahid.


Bagi kaum wanita, Ummu Salamah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang bagaimana kedudukan wanita di surga. Rasulullah SAW menjawab bahwa wanita yang tua di dunia akan kembali muda di surga, bahkan lebih cantik dari bidadari. Mereka akan mendapatkan perhiasan emas dan permata, rumah dari emas, serta minuman dari madu dan khamar yang tidak memabukkan.


Namun, kenikmatan tertinggi di surga bukanlah bidadari atau perhiasan, melainkan kesempatan untuk memandang wajah Allah SWT. Kenikmatan ini begitu agung hingga semua kenikmatan surga lainnya terasa pudar. Para wali Allah merindukan momen ini lebih dari surga itu sendiri. Semakin besar cinta seseorang kepada Allah SWT, semakin lama ia akan mendapatkan kesempatan menatap wajah-Nya.


Semoga kita semua diberi kekuatan untuk terus beribadah dengan penuh keikhlasan dan harapan akan rahmat Allah SWT. Aamiin.