5 Amalan Tarekat Idrisiyyah disampaikan Oleh Mursyid Idrisiyyah dalam Kajian Shubuh Qini Nasional 159
Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag. • 30 Mei 2025
Qini Nasional 159| Masjid Al-Fattah, Jum’at, 30 Mei 2025 — Dalam keheningan pagi yang sarat keberkahan, Qini Nasional ke-159 menghadirkan suasana ruhani yang mendalam melalui kajian Subuh bersama Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag. Disampaikan langsung dari Masjid Al-Fattah dan disiarkan secara daring melalui kanal YouTube resmi Tarekat Idrisiyyah, momen ini menjadi santapan awal bagi ruhani para jamaah yang hadir dan menyimak dari berbagai penjuru.
Mengawali tausiyahnya, Syekh Akbar mengajak seluruh hadirin untuk menghidupkan qolbu dengan rasa syukur yang tulus. Dalam kerangka tauhid yang dalam, beliau mengingatkan bahwa segala rizki bersumber dari Allah—bukan dari usaha duniawi atau pemberian manusia. “Rizki bukan hanya yang lahiriah, tapi juga batiniah. Yang satu memenuhi jasmani, yang satu menghidupi ruhani,” tegas beliau.
Dengan merujuk pada warisan para nabi, Syekh Akbar menjelaskan bahwa ilmu adalah warisan utama yang tak pernah habis, bahkan menyatukan para pewarisnya dalam ukhuwah. “Ulama adalah pewaris nabi. Dan warisan ini bukan sumber cekcok, melainkan sumber persaudaraan yang mendalam,” ujarnya penuh makna.
Kajian ini juga menyentuh dimensi tertinggi perjalanan spiritual, yakni wushul ilallah—sampainya hati dan kehendak manusia hanya kepada Allah. “Tanda wushul adalah saat seluruh keinginan dan pancaindra seseorang beroperasi hanya karena Allah. Inilah orientasi hidup yang diajarkan tsrekat,” terang Syekh Akbar, seraya mengutip hikmah dari Syekh Ibnu Athoillah.
Dalam bagian akhir kajian, Syekh Akbar menguraikan lima amal wirid yang menjadi asupan utama rizki batin:
1. Tilawah Qur’an satu juz per hari, dengan menghayati setiap isi dan pesan dari Al Qur'an;
2. Istighfar 100 kali, sebagai wujud taubat dan pembersih jiwa;
3. Tahlilul makhsus, sebagai bentuk dzikir mendalam dan warisan dari Rasulullah;
4. Sholawat 100 kali, sebagai bentuk cinta kepada Nabi;
5. Yā Ḥayyū Yā Qayyūm 1000 kali, wirid yang menjaga kewaspadaan hati dan meminta pertolongan kepada Allah.
“Mari tumbuhkan ruhani, bukan hanya jasmani. Jangan hanya kejar limpahan rizki dzohir dan melupakan rizki batin. Karena hakikat bahagia bukan pada apa yang tampak, melainkan pada kedekatan dengan Allah,” pesan beliau sebelum menutup kajian dengan dzikir dan doa bersama.
Momen ini menjadi pengingat bahwa Qini bukan sekadar acara, tetapi perjalanan ruhani untuk menyegarkan kembali niat, tujuan, dan arah hidup: hanya untuk Allah dan akhirat.