AJAL YANG DITANGGUHKAN: Kisah Karamah Tak Terlupakan
MK IDRISIYYAH • 24 Juni 2025
Kisah luar biasa yang dialami Syekh Akbar M. Fathurahman saat berdakwah ke Italia memiliki kemiripan dengan pengalaman Pak Hasbullah, BcHk, salah seorang pengurus di zaman Syekh Akbar Muhammad Dahlan Ra. Dikenal sebagai “macan mimbar” pada masanya, Pak Hasbullah tak segan berbagi kisah karamah yang ia dan para murid alami.
Kala itu, beliau baru saja kembali dari Tanah Suci bersama beberapa murid setelah menunaikan ibadah haji, dan mengisi pengajian malam Jumat di Batu Tulis.
Malam itu, Pak Hasbullah memulai kisahnya—sebuah anugerah luar biasa yang baru saya dengar secara langsung. Beliau bercerita, “Saat kami berpamitan di Batu Tulis, Syekh Akbar berdiri di depan pintu, seakan melepas kepergian kami ke tempat yang jauh. Beliau merestui keberangkatan kami. Namun satu hal yang membuat saya bertanya-tanya adalah ketika Beliau berlinang air mata, seakan mencerminkan raut kesedihan.” Kami pun melangkah mantap menuju Tanah Suci dengan bekal doa dari seorang Guru.
Singkat cerita, sebuah peristiwa menyedihkan terjadi saat kami berada di Mina. Jamaah haji tahun itu diuji dengan kebakaran besar yang melanda banyak pemukiman. Banyak yang tewas seketika. (Menurut catatan, sebanyak 1.426 jiwa meninggal dunia akibat kebakaran tersebut).
Anehnya, posisi kemah kami berada persis di sebelah kemah yang terbakar. Namun, api tidak menjalar ke kemah kami. Saat itu, saya dan murid-murid lainnya sedang tidak berada di perkemahan. Kami pun terkejut melihat kejadian tersebut dan akhirnya selamat dari musibah.
Peristiwa itu begitu membekas dalam ingatan, hingga saya berazam untuk menceritakannya kepada Syekh Akbar setibanya di tanah air.
Sekembalinya dari Tanah Suci, saya menceritakan kejadian tersebut kepada Syekh Akbar. Beliau lalu menjelaskan bahwa saat kami berpamitan untuk ke Tanah Suci, ruhani Rasulullah Saw datang mengabarkan bahwa salah satu muridnya akan mengalami musibah yang menyebabkan kematian.
Seketika itu juga, Syekh Akbar memohon kepada Rasulullah Saw agar ajal murid tersebut ditangguhkan, karena beliau masih membutuhkannya. Saat itu, sumber daya manusia yang handal dalam organisasi memang masih sangat terbatas. Permohonan beliau pun dikabulkan. Kebakaran yang seharusnya melanda kemah kami, dipindahkan ke perkemahan lain.
Simak artikel menarik lainnya tentang "Kaya yang sebenarnya" pada link berikut »
Tarekat Idrisiyyah - Artikel Kajian
Penjelasan dari Syekh Akbar Muhammad Dahlan ini membuat Pak Hasbullah dan para murid yang mendengarnya menangis haru, dipenuhi rasa syukur yang tak terhingga.
Kisah ini terus diceritakan kepada para murid sebagai bentuk tahadduts binni'mah (menceritakan nikmat Allah), agar manfaatnya menyebar dan menambah keyakinan kepada Guru Mursyid.
Melalui kisah ini, kita belajar bahwa siapa yang ingin dipanjangkan umurnya, maka perkuatlah perannya dalam khidmah. Sebab, khidmah dalam tarekat adalah karunia besar bagi seorang murid.