Keteladanan Tiga Hari Berbagi

MK IDRISIYYAH • 19 Agustus 2025

Keteladanan Tiga Hari Berbagi

Alkisah, suatu ketika putra kedua Ali dan Fatimah, Hasan atau Husain, jatuh sakit. Hati orang tua mana yang tak pilu melihat buah hatinya menderita? Dengan penuh harap, Sayyidina Ali bernazar kepada Allah SWT: ia akan berpuasa selama tiga hari berturut-turut demi kesembuhan sang anak. Doa tulus itu pun diijabah, atas karunia Allah sang anak pulih kembali.


Tibalah saatnya bagi Sayyidina Ali dan Fatimah untuk menunaikan nazar mulia tersebut.


Pada hari pertama, mereka berpuasa. Seharian menahan lapar dan dahaga, tentu terbayang kenikmatan berbuka di penghujung hari. Namun, sesaat sebelum berbuka, ketukan pintu terdengar. Di hadapan mereka berdiri seorang lelaki berpenampilan lusuh, dengan wajah kelaparan. Ia meminta makanan.


Tanpa ragu, Ali dan Fatimah saling berpandangan. Meski roti di tangan mereka adalah satu-satunya santapan setelah seharian berpuasa, mereka memilih memberikannya kepada tamu tersebut. Akhirnya, pasangan mulia ini hanya berbuka dengan seteguk air putih.


Keesokan harinya, mereka kembali berpuasa. Perut semakin kosong, namun niat menunaikan nazar tetap teguh. Menjelang berbuka hari kedua, kejadian serupa terulang. Seorang anak yatim datang mengetuk pintu, menceritakan kisah pilunya ditinggal sang ibu bekerja dan harus meminta-minta karena kelaparan.


Hati Ali terasa tercubit mendengar kisah itu. Sekali lagi, tanpa berpikir panjang, ia menyerahkan rotinya. Fatimah pun dengan keikhlasan yang sama mengikuti jejak suaminya. Lagi-lagi, mereka hanya berbuka dengan air putih.


Tak disangka, di hari ketiga puasa nazar, peristiwa itu kembali terulang. Beberapa saat sebelum magrib, seorang tawanan perang yang baru saja dibebaskan datang menghampiri. Tubuhnya ringkih, matanya cekung menahan lapar yang amat sangat.


Ali dan Fatimah saling menatap. Sudah tiga hari mereka berpuasa, dan tak sebutir kurma pun menyentuh perut mereka. Selama tiga hari itu, hanya air putih yang menjadi pelepas dahaga. Namun demikian, mereka tetap menyerahkan makanan terakhir yang mereka miliki kepada sang tawanan.