Hukum Merokok dalam Pandangan Tokoh Idrisiyyah
MK IDRISIYYAH • 22 Agustus 2025
Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki dari penduduk Zainiyyah pernah terjatuh dari keledainya di ‘Aqabah pada malam hari. Ia bangkit dan duduk di samping keledainya dalam keadaan bingung serta takut dari perampok. Laki-laki itu merupakan pengikut tarekat Syekh Ahmad bin Idris Ra. Dalam keadaan sulit ia berdoa:
“Ya Allah, dengan barakah Syekh Ahmad bin Idris, selamatkanlah aku dari kesulitan ini dan berilah aku jalan keluar yang baik.”
Tiba-tiba datang seorang laki-laki membawa keledai putih, meletakkan beban di atasnya, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dikisahkan, sebab ia tidak mengucapkan salam adalah karena pemilik keledai itu seorang perokok. Hal ini karena menurut Syekh Ahmad bin Idris, anak-anak, dan murid-murid beliau, merokok adalah haram.
Sidi Muhammad asy-Syarif Ra pernah berkata:
“Seorang laki-laki datang kepada ayahku, as-Sayyid Abdul ‘Ali Ra, membawa uang seraya berkata: ‘Ini harga gandum, ini harga katun, dan ini harga tembakau.’
Mendengar itu, as-Sayyid Abdul ‘Ali sangat marah dan berkata:
‘Subhanallah! Wahai saudaraku, siapa yang memerintahkanmu menanam tembakau di tanah kami?’
Beliau tidak menerima uang dari hasil tembakau tersebut, bahkan memerintahkan agar tanah yang ditanami tembakau dibiarkan kosong selama enam tahun agar terlihat akibat buruknya.”
Diriwayatkan pula, Sidi Muhammad bin ‘Ali al-Bamahin Ra pernah diundang seorang laki-laki di Dongola ke rumahnya. Ia menjawab: “Insya Allah aku akan memenuhi undanganmu.” Namun ketika melewati pasar, ia mendapati bahwa laki-laki itu menjual tembakau. Maka beliau berkata:
“Subhanallah! Wahai saudaraku, engkau menjual tembakau? Makananmu haram, aku membatalkan undanganmu.”
Beliau pun tidak jadi memenuhi undangan tersebut.
Selain itu, Syekh Ahmad bin Idris Ra pernah didatangi seorang alim yang meminta agar beliau berdoa supaya dapat melihat Nabi Muhammad Saw dalam mimpi. Maka Syekh Ahmad menghadap Rasulullah Saw dan menyampaikan permintaan itu. Namun Nabi Saw berpaling. Hal itu terjadi sampai tiga kali.
Syekh Ahmad lalu merenung: “Ada apa dengan alim ini sehingga Nabi Saw berpaling ketika aku menyebut namanya?”
Kemudian beliau berkata dalam hatinya: “Orang ini merokok, dan aku tidak mendatangi orang yang merokok.”
Ketika alim tersebut datang, Syekh Ahmad menyampaikan kabar ini. Mendengar hal itu, ia pun menangis dan bertaubat dengan penuh penyesalan. Setelah taubatnya diterima, ia pun bermimpi melihat Nabi Saw yang datang menghampirinya dan mengucapkan salam.
Sidi Muhammad asy-Syarif Ra berkata:
“Itu karena ia telah bertaubat dari merokok dan menyesali perbuatannya. Maka Allah Ta’ala menerima taubatnya dengan barakah Syekh Ahmad bin Idris serta majelis beliau yang penuh berkah, semoga Allah menyambungkan rahmat-Nya kepada Nabi Saw.”
Ya Allah, ridhailah al-Quthb an-Nafis Maulana as-Sayyid Ahmad bin Idris.