Bukti Keyakinan di Masa Lalu

MK IDRISIYYAH • 04 September 2025

Bukti Keyakinan di Masa Lalu

Sosok almarhumah istri P. Ruslan adalah pilar keyakinan yang teguh bagi suaminya. Pengalaman batin yang mendalam menuntun dirinya, serta keluarganya, untuk mantap meyakini kemursyidan Tarekat Idrisiyyah.


Rumahnya yang sederhana di pinggir Juanda III bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sebuah oasis persinggahan bagi murid-murid dari berbagai latar belakang. Setiap tamu yang datang selalu disambut dengan kehangatan dan kenyamanan. Tak ada satu pun murid yang singgah tanpa disuguhi makanan, minuman, atau jajanan khas dari depan rumahnya. Keikhlasan dan kemurahan hatinya membuat siapa pun merasa betah dan diterima.


Sebuah Isyarat dari Mimpi


Tahun 1970, ketika Syekh Akbar M. Fathurahman belum lahir, almarhumah mengalami sebuah mimpi istimewa yang tak terlupakan. Kala itu ia masih gadis, belum menikah. Dalam mimpinya, ia didatangi empat sosok Mursyid Idrisiyyah. Saat menceritakan mimpi ini, ia baru mengenal dua orang Mursyid. Namun, dalam mimpinya ia sudah diperlihatkan empat orang Syekh Akbar yang saling bergandeng tangan, seakan memperlihatkan ketersambungan satu dengan lainnya.


Dua di antaranya belum ia kenal. Yang satu berpostur tinggi, sedangkan yang lainnya agak pendek. Ciri-ciri dan gerak-geriknya begitu jelas ia ingat, hingga ia penasaran ingin menemuinya secara langsung. Mimpi itu terjadi pada masa kepemimpinan Syekh Akbar Muhammad Dahlan.


Puluhan tahun kemudian, saat Syekh Akbar M. Fathurahman baru diangkat menjadi Mursyid dan hendak ta’aruf di Jakarta, almarhumah menawarkan rumahnya sebagai tempat singgah. Ada maksud tersembunyi: ia ingin memastikan apakah beliau adalah sosok yang dilihat dalam mimpinya. Jika sosok ketiga (Syekh Akbar M. Daud) sudah dikenalnya, maka yang tersisa tinggal sosok keempat.


Keinginannya terkabul. Syekh M. Fathurahman akhirnya mampir ke rumahnya. Saat itu, ia terus-menerus memperhatikan sang Syekh dengan saksama. Ketika Syekh beranjak ke belakang, ia perlahan mengikutinya. Dari depan dan belakang, ia mencermati penampilan beliau, mencoba mencocokkan dengan ingatan mimpinya.


Akhirnya, ia menceritakan secara diam-diam tentang isyarat mimpi yang pernah dialaminya di masa Syekh Akbar Muhammad Dahlan. Pengakuan itu menjadi penanda yang menguatkan keyakinannya.


Dakwah dan Jalinan Ekonomi


Melalui suaminya, P. Ruslan, dakwah Idrisiyyah pernah menjangkau wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Saat itu ia tengah giat menjalankan usaha air isi ulang, yang ternyata menjadi "warisan" berharga dari perjalanan khidmatnya di Idrisiyyah.


Tak disangka, usaha air isi ulang ini menjadi primadona di kalangan Idrisiyyah. Hasilnya bahkan mampu menopang keberlangsungan usaha tarekat lainnya, seperti Qini Mart. Keberhasilan ini menunjukkan potensi ekonomi yang dapat bersinergi dengan dakwah.


Seiring perkembangannya, mesin air isi ulang milik Cak Ruslan menarik perhatian sebuah ormas besar di Solo, yaitu Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA). Minat ini kemudian berujung pada kunjungan Syekh Akbar M. Daud bersama beberapa pengurus ke pusat MTA di Solo, dalam rangka menjajaki kerja sama sekaligus berdakwah.


Di hadapan 500 ketua cabang MTA dari seluruh Indonesia, mereka diperkenalkan dan diberi kesempatan menyampaikan tausiyah. Melalui wasilah usaha air isi ulang pula, Syekh Akbar dapat bersilaturahmi ke pesantren Gus Mad di Pasuruan, seorang Mursyid Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyah. Pesantren Gus Mad yang memiliki sumber mata air alami tertarik untuk mengembangkan usaha serupa.


Di lain kesempatan, terjalin balas kunjungan. Pihak MTA yang diketuai KH Ahmad Sukino, serta Gus Mad, datang ke Idrisiyyah di Tasikmalaya. Mereka merasakan hangatnya hubungan yang terjalin melalui kerja sama usaha ekonomi. Hal ini membuktikan bahwa persaudaraan dapat diperkuat tidak hanya melalui dakwah, tetapi juga melalui sinergi ekonomi yang saling menguntungkan.