PARADOKS IDENTITAS: KETIKA WAHABI MEMBUNUH HANBALI
Ibnu Zaki Al Idrisiy • 17 Desember 2025
Prolog: Ironi di Jantung Klaim Ortodoksi
Ada sebuah paradoks yang menggelikan sekaligus tragis dalam sejarah pemikiran Islam kontemporer, yang langsung menusuk jantung sebuah gerakan yang mengklaim dirinya sebagai pembela kemurnian ajaran Islam, gerakan Wahabi. Alih-alih mereka jujur dengan dirinya sendiri, justru mereka malah memulai proyek purifikasinya dengan membantai tradisi yang diklaim sebagai induknya. Telaah kali ini bukan soal pertentangan intelektual biasa—, ini adalah parricide ideologis, semacam pembunuhan ayah kandung dalam teater pemikiran keagamaan, yang dilakukan oleh anak haram ideologisnya sendiri.
Muhammad bin Abdul Wahhab, sang arsitek gerakan yang kini menguasai narasi keislaman di sebagian besar dunia Sunni, memulai revolusinya dengan pernyataan yang bombastis: "Kebanyakan isi al-Iqnâ' dan al-Muntahâ menyimpang dari mazhab Imam Ahmad dan keseluruhan teksnya " (ad-Durar as-Saniyyah, 1:45). Pernyataan ini lebih dari sekadar kritik akademis—, prakteknya adalah dekonstruksi total terhadap genealogi intelektual yang diklaim kaum Wahabi sebagai akar legitimasinya yang paling genuine.
Bagaimana mungkin seseorang mengklaim sebagai pengikut mazhab Hanbali, namun kemudian menyatakan bahwa kitab-kitab utama mazhab tersebut—yang disusun oleh para ulama Hanbali terkemuka sepanjang berabad-abad—justru menyimpang dari Imam Ahmad? Ini seperti seseorang yang mengaku sebagai ahli waris, namun dengan kedunguannya, justru membakar wasiat yang menjadi dasar klaim kewarisannya.
Genealogi yang Terputus: Anatomi Sebuah Klaim Palsu
Mari kita bedah secara metodologis. Al-Iqnâ’ karya al-Hajjâwi adalah ringkasan dari al-Muqni' karya Muwaffaq ad-Din Ibnu Qudamah al-Maqdisi—seorang yang diakui sebagai "syaikh al-Hanabilah". Kemudian, Al-Iqnâ’ ini disyarahi oleh Manshur al-Buhuti dalam Kasyaf al-Qinâ', yang dianggap sebagai "miknasah al-madzhab" (baca: sapu jagat mazhab) karena mengompilasi hampir keseluruha al-Furu' karya Ibnu Muflih, al-Mubdi', dan berbagai referensi lainnya.
Dimana letak ironinya? Wahabi sendiri, pada masa Mufti Muhammad bin Ibrahim Alu asy-Syaikh, menjadikan Kasyaf al-Qinâ' sebagai rujukan resmi dalam sistem peradilan mereka. Lalu, bagaimana bisa menjelaskan kontradiksi tersebut? Satu sisi, Wahabi mengadopsi kitab syarah dari sebuah teks yang diklaimnya menyimpang dari Imam Ahmad. Di sisi lain, mereka masih berpura-pura berafiliasi kepada mazhab hanâbilah. Lagi dari sebatas inkonsistensi—, ini adalah skizofrenia metodologis [!]
Begitu pula dengan al-Muntahâ karya Ibnu an-Najjâr. Kitab ini diringkas oleh Mar'i al-Karmi dalam Dalîl ath-Thâlib, yang kemudian disyarahi oleh Ibnu Dhuyan dalam Manâr as-Sabil. Dan siapa gerangan yang menakhrij hadis-hadis Manar as-Sabil? Al-Albani, yang merupakan salah satu ikon intelektual gerakan Wahabi kontemporer dalam kitabnya, Irwâ' al-Ghalîl.
Jadi, di level praksis, Wahabi sebenarnya sangat bergantung pada rantai transmisi keilmuan Hanbali yang mereka klaim telah "menyimpang". Namun sejatinya, mereka ini mirip anak durhakan yang memaki ibunya sebagai “pelacur”, dan tetap masih turus menyusu darinya setiap pagi.
Retorika Takfîr: Ketika Perbedaan Menjadi Syirik
Yang lebih berbahaya dari inkonsistensi metodologis adalah retorika takfîr yang menjadi trademark gerakan ini. Muhammad bin Abdul Wahhab tidak berhenti pada kritik intelektual, namun sejatinya ia terus melompat langsung pada klaim dan/atau tuduhan syirik. Dalam ad-Durar as-Saniyyah, ia menyatakan bahwa siapa pun yang mengikuti pendapat ulama mazhab tanpa merujuk langsung pada dalil-asal [maksudnya mungkin Al Qur’an dan As Sunnah] adalah seperti "mengambil ulama sebagai tuhan-tuhan baru selain Tuhan" (ittikhadz al-'ulama arbaban).
Tentu saja, hal tersebut serupa lompatan logika yang mengerikan. Dari ranah epistemologi fiqih, tiba-tiba melompat ke tuduhan kesyirikan teologis. Taqlid, yang sepanjang sejarah Islam dipahami sebagai metode epistemologis untuk kaum awam saat mengakses hukum syariat—, tiba-tiba ditransformasi menjadi dosa teologis yang mengancam keimanan seseorang. Ini telak, merupakan kedunguan yang sangat vulgar.
Anehnya, Hamad bin Nashir bin Mu'ammar, salah satu murid Muhammad bin Abdul Wahhab, turut melanjutkan tradisi itu dengan cara menyerang Hanbali, juga Syafi'i dan Maliki sekaligus. Ia menulis: "Mereka pada hakikatnya adalah pengikut al-Hajjâwi dan Ibnu an-Najjâr, bukan pengikut Ahmad. Begitu pula Syafi'iyyah mutaakhkhirîn, mereka sesungguhnya pengikut Ibnu Hajar al-Haitami... begitu pula Malikiyyah mutaakhkhirîn, mereka pengikut Khalil..." (ad-Durar as-Saniyyah, 4:7).
Mari kita perhatikan pola argumentasinya, bahwa setiap mazhab seringkali harus direduksi menjadi pengikut satu atau dua ulama mutaakhkhirîn, seolah-olah tak ada kontinuitas metodologis yang menghubungkan mereka dengan imam-imam pendiri mazhab. Hamad, pada intinya, telah melakukan simplifikasi yang mengkhianati kompleksitas sejarah intelektual Islam. Dungu!
Permainan Identitas: Retorika "Kami Hanbali" vs. "Kami Mengikuti Dalil"
Yang paling menarik adalah permainan identitas ganda yang dimanfaatkan oleh Wahabi. Di satu sisi, ketika menghadapi kritik dari ulama mainstream, mereka berlindung di balik klaim "kami adalah Hanbali". Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab menulis: "Kami dalam furû' mengikuti mazhab Imam Ahmad bin Hanbal, dan kami tidak mengingkari siapa pun yang ber-taqlid kepada salah satu dari empat imam..." (ad-Durar as-Saniyyah). Namun di sisi lain, ketika berhadapan dengan orang awam, mereka menggunakan retorika berbeda, umpamanya, mereka biasa mengakata begini; "Apakah kalian mengikuti mazhab Muhammad saw atau mazhab Syafi'i?" Seolah-olah, ber-taqlid kepada mazhab adalah sesuatu yang bertentangan dengan ittiba’ kepada Nabi. Absurd.
Jadi itu sebetulnya merupakan dualisme strategis. Mirip praksime nifaq untuk mengelabui kejujuran. Identitas "Hanbali" yang digunakan, tampaknya cukup untuk memperoleh legitimasi di hadapan para ulama, sementara retorika "langsung ke dalil" lebih digunakan untuk menarik massa awam yang tidak memiliki tools intelektual mumpuni untuk memverifikasi klaim-klaim tersebut.
Al-Mardawi vs Muhammad bin Abdul Wahhab: Pertarungan Otoritas Epistemik
Salah satu kritik paling tajam yang pernah diutarakan oleh para ulama berkaitan dengan perbandingan antara otoritas epistemik al-Mardawi dengan Muhammad bin Abdul Wahhab. Al-Mardawi, dalam al-Inshâf, telah menetapkan metodologi yang ketat dalam men-tarjih pendapat-pendapat fiqh dalam konteks mazhab Hanbali. Ia memiliki akses komprehensif terhadap kitab-kitab para ulama Hanbali, memahami berbagai riwayat dari Imam Ahmad, dan menguasai ushûl at-ta'lif (prinsip-prinsip penulisan kitab fiqih) dalam tradisi Hanbali. Sementara itu, Muhammad bin Abdul Wahhab. Samasekali tidak memiliki sepersekian pun dari kualifikasi Al-Mardawi. Itu berarti, Muhammad bin Abdul Wahhab tidak memiliki spektrum ittila' (pengetahuan luas) terhadap kitab-kitab ulama Hanbali, pengetahuan tentang riwayat-riwayat Ahmad, maupun pemahaman yang canggih tentang ushûl at-ta'lîf-nya Imam Ahmad.
Dengan kritik epistemologis yang fundamental seperti ini, maka bagaimana seseorang yang tidak menguasai corpus tekstual sebuah tradisi intelektual mazhab Hanabilah, bisa melakukan koreksi mati-matian terhadap tradisi hebat tersebut? Ini layaknya seseorang yang baru belajar bahasa Arab selama dua tahun, lalu tiba-tiba mengklaim bisa mengkoreksi Sibawaih dalam koridor keilmuan an-Nahw. Memalukan.
Ketika Realitas Memaksa Kompromi: Kembali ke Kitab-Kitab Mazhab
Yang paling ironis dari semua itu adalah apa yang terjadi pada generasi Wahabi kontemporer. Setelah menyadari bahwa metode "kembali langsung ke dalil" tanpa kualifikasi ijtihad yang memadai justru dapat menghasilkan chaos intelektual yang brutal, mereka pada akhirnya, secara terpaksa kembali pada kitab-kitab mazhab yang dulu mereka kritik. Hanya saja, ada tambahnya, mereka malah mensyarahinya dengan "tanpa petunjuk yang qualified"—meminjam diksi Qur'ani untuk menggambarkan kesesatan kaum Wahabi yang agaknya hobi melakukan keculasan akademik. Mereka memenuhi syarah-syarah tersebut dengan tarjîhât yang prematur, mengubah pola tamazhub (bermadzhab) menjadi sekedar urusan ijtihad semata, bahkan sejak tahap awal pembelajaran fiqih. Padahal mereka sendiri, memiliki kekurangan yang sangat parah dalam memahami madârik (sumber-sumber rujukan) dan ma'khaz (tempat pengambilan hukum) mazhab Hanabilah.
Lebih parah lagi, bahkan terkadang, kita bisa menemukan sebagian dari tokoh-tokoh besar kaum wahabi berfatwa, mengkritik mazhab imamnya sendiri, Ahmad bin Hanbal, dengan menggunakan ushûl mazhab lain, yang tentu saja ini mreupakan kejahatan eklektisisme metodologis yang tidak terkontrol—, sebuah talfiq (pencampuran liar) yang justru diharamkan oleh para ulama ushul fiqh tradisional.
Epilog: Dekolonisasi Intelektual sebagai Jalan Keluar
Apa yang kita saksikan pada episode kali ini adalah sebuah proyek yang dimulai dengan klaim purifikasi, namun berakhir dengan fragmentasi absurd. Sebuah gerakan yang mengaku "kembali ke sumber awal", namun justru memutus mata rantai transmisi keilmuan yang menghubungkan umat dengan sumber legitemate tersebut.
Kritik dalam tulisan ini lebih keras dari sebatas polemik sektarian. Esensi ajakannya mutlak, sebuah panggilan untuk kembali pada kejujuran akademik. Jika harus mengklaim Hanbali, maka hormatilah tradisi Hanbali. Jika harus mengklaim sebagai mujtahid mutlak yang dapat langsung merujuk ke dalil, maka buktikanlah kualifikasi ijtihadnya setara dengan para aimmah. Jangan bermain di dua medan sekaligus, mengambil legitimasi dari suatu tradisi yang dalam waktu bersamaan, sekaligus dihina, dinista, dan bahkan dibunuh sebelum mekar.
Yang dibutuhkan umat hari ini bukan retorika takfir dan tabdî'. Umat hari ini sedang membutuhkan rekonsiliasi dengan warisan intelektual yang telah dipelihara berabad-abad oleh para ulama. Persetan dengan segala macam simplifikasi yang mereduksi kompleksitas syariat menjadi slogan-slogan populis. Coba lakukanlah penghormatan khidmat barang sejenak, untuk sekedar mengenang kedalaman metodologis yang telah dikembangkan oleh para imam mazhab beserta al Ashâb, di masa lalu.
Ini adalah proyek dekolonisasi intelektual yang berupaa membebaskan pemikiran Islam dari hegemoni sebuah gerakan yang mengaku sebagai pembela ortodoksi, namun justru menjadi penghancur tradisi. Tulisan ini bukan tentang membenci sekelompok orang, lebih luhur dari itu, coba menyoal tentang pemulihan integritas intelektual dalam diskursus keislaman kontemporer.
Quo Vadis Wahabi al Mutahanbilah?
Wallahu a'lam bi ash-shawab. [Izy]