Makna Tawakal dalam Ibadah: Sesi Materi Syekh Akbar Muhammad Fathurahman di Sufi Training Center Ramadhan

KOMINFO IDRISIYYAH • 25 Maret 2025

Makna Tawakal dalam Ibadah: Sesi Materi Syekh Akbar Muhammad Fathurahman di Sufi Training Center Ramadhan

Sufi Training Center | Tasikmalaya, 22 Maret 2025 – Dalam sesi Sufi Training Center (STC) Ramadhan yang bertajuk "Seribu Bulan, Seribu Rahasia", Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag. menyampaikan materi tentang meraih lailatul qadar dan menyinggung tentang makna tawakal dalam ibadah. Beliau menegaskan bahwa tawakal bukan berarti meninggalkan usaha, melainkan menggantungkan segala urusan hanya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar maksimal.


Syekh Akbar menjelaskan konsep dasar tawakal. "Tawakal itu apa? Dia menggantungkan urusannya kepada Allah. Di balik ikhtiar yang maksimal, tetapi hatinya hanya Allah yang bisa mentakdirkan," jelasnya.


Beliau mengingatkan agar manusia tidak bertawakal kepada usahanya sendiri atau kepada makhluk mana pun. Ketika seseorang menyandarkan keberhasilannya kepada usaha semata, maka ada dua kemungkinan: jika berhasil, ia menjadi sombong, dan jika gagal, ia akan kecewa dan frustrasi.


"Kalau target tercapai, ia bangga dengan dirinya sendiri. Tapi kalau tidak tercapai, ia seperti kerupuk kena air—lemas, frustrasi, dan putus asa," lanjutnya. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa tawakal harus kepada Allah semata agar hati tetap tenang dan kehidupan menjadi lebih indah.


Dalam pemaparannya, Syekh Akbar juga menjelaskan bahwa orang yang bertawakal memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Ada yang berada di tingkat rendah, menengah, dan tinggi. Semakin tinggi derajat tawakal seseorang, semakin kuat pula keyakinannya kepada Allah.


Selanjutnya Syekh Akbar mengupas tentang Lailatul Qadar salah satunya apa saja keutamaan Lailatul Qadar. Beliau menyampaikan bahwa tanda seseorang mendapatkan Lailatul Qadar adalah hatinya dipenuhi kebahagiaan dan syukur, yang kemudian meningkatkan kualitas ibadahnya.


"Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar itu hatinya bergembira, khusyuk, dan puas dengan ibadahnya. Ia merasa tidak ingin menyia-nyiakan sisa umurnya dan semakin semangat dalam beribadah," jelasnya.


Beliau mengingatkan bahwa satu malam Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan. Seorang Muslim yang memanfaatkannya dengan shalat, sedekah dan ibadah lainnya akan mendapatkan pahala yang setara dengan ibadah selama 83 tahun lebih.


"Umur kita mungkin baru 50 tahun, tapi Allah memberikan Lailatul Qadar sebagai hadiah yang bisa kita dapatkan setiap tahun," Beliau mengingatkan kepada seluruh peserta STC agar memperhatikan setiap ibadah di akhir Ramadhan


Sesi ini ditutup dengan pesan bahwa tawakal yang benar akan membawa ketenangan hati dan kebahagiaan sejati. Ketika seseorang berserah diri sepenuhnya kepada Allah setelah berusaha maksimal, ia akan terbebas dari kesombongan dan kekecewaan. Selain itu, tawakal yang benar juga menjadi kunci dalam meraih keutamaan malam Lailatul Qadar.


Dengan pemahaman ini, para peserta diharapkan semakin teguh dalam tawakal dan semakin semangat dalam mencari keutamaan Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.