Dzikir Makhsus Kembali Menggema di Jakarta Setelah 14 Tahun, Jamaah Penuhi Masjid Al Fattah Batu Tulis

KOMINFO IDRISIYYAH • 11 April 2025

Dzikir Makhsus Kembali Menggema di Jakarta Setelah 14 Tahun, Jamaah Penuhi Masjid Al Fattah Batu Tulis

Jakarta, 10 April 2025 — Untuk pertama kalinya setelah lebih dari satu dekade, Dzikir Makhsus kembali diselenggarakan di Jakarta. Masjid Al Fattah Batu Tulis yang merupakan kantor pusat Zawiyah Utama Jakarta dan menjadi saksi kenikmatan para jamaah dalam menikuti dzikir khas Tarekat Idrisiyyah yang selama ini identik dengan suasana batiniah yang mendalam. 


Majelis ilmu dan dzikir tersebut dipimpin langsung oleh Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag, mengingatkan kepada jamaah akan kenikmatan majelis dzikir di Masjid Al Fattah Batu Tulis yang dahulu pernah dilaksanakan oleh almarhum Syekh Akbar Muhammad Dahlan, yang rutin menghidupkan Dzikir Makhsus setiap malam Ahad. Selama kurang lebih 14 tahun, kegiatan ini tidak dilaksanakan di Jakarta dan fokus dilaksanakan di Tasikmalaya. Maka tak heran bila jamaah dari Jabodetabek menyambutnya dengan penuh haru dan antusias.


Dzikir dan Tausiyah yang Menggetarkan Hati


Dalam tausiyahnya, Syekh Akbar menekankan makna dzikir sebagai sarana pengosongan hati dari kecintaan dunia yang berlebihan, demi mengisi ruang batin hanya dengan Allah SWT:


"Kalau menyebut nama Allah, mengingat Allah, mengosongkan hati dari dunia, mengosongkan hati dari jabatan, mengosongkan hati dari uang — akan menjadi obat. Sehingga sehat hati kita, tenang hati kita."


Beliau juga menyoroti pentingnya keimanan yang tulus, dengan mencontohkan derajat iman Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq:


"Derajatnya iman sahabat pertama, Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq. Gelarnya saja ‘Ash-Shiddiq’ — apa artinya itu? Membenarkan apa saja yang dibawa oleh Nabi. Tidak ada keraguan sedikit pun. Bahkan kalau tidak masuk akal pun, beliau tetap membenarkan. Itulah keimanan yang murni, tidak terkontaminasi oleh keraguan."


"Kalau ditimbang imannya Sayidina Abu Bakar dengan seluruh kaum muslimin, para ulama mengatakan: yang lebih berat adalah imannya Abu Bakar."


Tausiyah ini menggugah banyak hati jamaah yang hadir. Banyak di antara mereka yang terlihat larut dalam tangis dan kekhusyukan, terutama saat dzikir Makhsus dilakukan bersama.


Antusiasme Tinggi dan Kehadiran Tokoh Masyarakat


Majelis ini turut dihadiri oleh para tokoh masyarakat, termasuk tiga Lurah dari wilayah Jakarta Selatan yang menunjukkan apresiasi terhadap dakwah spiritual yang menyejukkan ini. Suasana penuh kekhidmatan membuktikan bahwa dzikir dan penyucian hati tetap relevan dan dibutuhkan, bahkan di tengah kehidupan urban yang serba cepat.


Tim Markom Jakarta juga menyelenggarakan live streaming untuk jamaah di luar kota yang tidak dapat hadir langsung, melalui kanal resmi Tarekat Idrisiyyah. Ribuan jamaah dari berbagai penjuru Indonesia mengikuti majelis ini secara daring.


Melangkah Menuju Kebangkitan Dzikir Perkotaan


Majelis Dzikir Makhsus ini tidak hanya menjadi nostalgia spiritual, namun juga tanda kebangkitan majelis dzikir di tengah masyarakat kota. 


Dengan demikian, Zawiyah Utama Jakarta bukan hanya menjadi pusat pembelajaran tasawuf, tetapi juga akan berperan penting dalam membumikan dzikir sebagai energi utama peradaban yang berakar dari hati yang bersih dan terhubung dengan Ilahi.