Tausiyah Syekh Akbar Fathurahman di Halal Bihalal Pulau Untung Jawa Mengungkap Pokok-Pokok Ajaran Tasawuf
KOMINFO IDRISIYYAH • 07 Mei 2025
Halal Bihalal Zawiyah Utama Jakarta | Pulau Untung Jawa, 4 Mei 2025 – Salah satu momen yang paling ditunggu dalam rangkaian acara Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh Tarekat Idrisiyyah di Pulau Untung Jawa adalah kajian yang disampaikan oleh Syekh Akbar M. Fathurahman, Mursyid Tarekat Idrisiyyah. Tausiyah ini menjadi pengingat bagi seluruh jama’ah mengenai pentingnya ajaran tasawuf dalam kehidupan sehari-hari, yang memiliki lima pokok ajaran dasar dalam kita Maqashid karangan Imam An Nawawi.
1. Takwa kepada Allah dalam Segala Keadaan
Syekh Akbar membuka tausiyah dengan menekankan pentingnya taqwa kepada Allah, bukan hanya saat di hadapan guru atau di lingkungan majelis ilmu, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, baik di keramaian maupun ketika sendiri. “Kunci utama ketakwaan adalah ketika hati kita merasa bersama Allah, bukan hanya ketika sedang sholat, tetapi dalam setiap langkah kehidupan kita,” ujar Beliau.
2. Mengikuti Sunnah Nabi sebagai Landasan Utama
Pokok ajaran tasawuf yang kedua dan ditekankan oleh Syekh Akbar adalah itba’us sunnah (mengikuti sunnah Nabi SAW). Bagi para pengikut tarekat, mengikuti guru mursyid adalah bentuk ketaatan kepada Nabi Muhammad SAW. “Mengikuti sunnah Nabi adalah kunci untuk menuju kepada Allah, dan mengikuti guru mursyid adalah jalan menuju ketaatan kepada Nabi,” jelasnya. Ajaran ini mengingatkan jama’ah untuk senantiasa mengikuti ajaran yang diturunkan oleh Nabi sebagai pedoman hidup.
3. I'radh Anil Kholqi: Menghindar Dari Makhluk
Tausiyah berlanjut dengan pembahasan mengenai i'rodh anil kholqi (berpaling dari makhluk). Syekh Akbar menegaskan pentingnya menjaga hati agar tidak tergoda oleh pujian atau penilaian orang lain. “Kita membantu orang lain, berbuat baik kepada orang tua, atau meringankan kesulitan sesama, tetapi kita tidak boleh mengharapkan pujian manusia. Segala amal perbuatan harus diniatkan semata-mata karena Allah,” ujarnya.
4. Ridho kepada Allah dalam Segala Takdir
Pokok ajaran tasawuf yang keempat adalah al Ridha ‘anillah (ridho kepada Allah). Syekh Akbar menekankan bahwa seorang Muslim sejati harus mampu menerima segala takdir dari Allah dengan hati yang lapang dan penuh keikhlasan. “Ketika Allah memberikan ujian atau ketentuan, kita harus ridho. Seperti halnya seorang ibu yang ridho dengan suaminya yang hanya di rumah, begitu pula kita harus ridho dengan takdir Allah,” jelasnya.
5. Kembali kepada Allah dalam Keadaan Senang dan Sakit
Syekh Akbar mengakhiri tausiyah dengan pembahasan mengenai ar ruju ilallah fis sirri wadh-dhorro’ (kembali kepada Allah dalam keadaan senang maupun susah). Beliau menekankan bahwa dalam segala keadaan, baik dalam kebahagiaan maupun kesusahan, kita harus senantiasa kembali kepada Allah. “Ketika kita senang, kita harus tetap bersyukur kepada Allah, dan ketika kita dalam kesulitan, kita harus kembali kepada-Nya dengan penuh harap dan tawakal,” ujarnya.
Penutupan Tausiyah: Cahaya Keimanan yang Menyinar di Hati
Syekh Akbar menutup tausiyahnya dengan mengingatkan jama’ah akan pentingnya menjaga cahaya keimanan dalam hati. “Apabila hati kita disinari oleh cahaya keimanan, maka akhirat akan terasa begitu dekat. Namun, jika hati kita gelap, maka kita akan merasa jauh dari akhirat,” tegasnya. Dalam kesempatan itu, beliau juga mengajak jama’ah untuk memperbanyak kalimat "la ilaha illallah" sebagai salah satu cara untuk memperkuat iman.
Dengan penuh khidmat, para jama’ah mengikuti tausiyah yang mengena di hati ini, disertai dengan lantunan nasyid dari The Sufi yang menyentuh jiwa. Melalui tausiyah ini, para jama’ah kembali diingatkan untuk selalu menjaga hati, memperkuat iman, dan mengamalkan ajaran tasawuf dalam kehidupan sehari-hari.