Kisah Bapak Didit, Ketua DPRD Babel yang Tersentuh Dakwah Syekh Akbar

KOMINFO IDRISIYYAH • 21 Mei 2025

Kisah Bapak Didit, Ketua DPRD Babel yang Tersentuh Dakwah Syekh Akbar

Tarekat Idrisiyyah | Pangkalpinang, 17 Mei 2025 — Ada hal yang tak biasa terjadi di sela rangkaian Safari Dakwah Syekh Akbar Muhammad Fathurahman di Pulau Bangka. Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Bapak Didit Srigusjaya, secara khusus menyambut kehadiran Syekh Akbar dan bahkan menghadiri langsung majelis dakwah dan kajian beliau, sebuah sikap yang menurut para sahabat dekatnya sangat jarang terjadi.


Silaturahmi di Tengah Sajian Pempek Melayu

Pertemuan hangat itu berlangsung di salah satu rumah makan khas Pangkalpinang pada Sabtu siang (17/5). Dalam suasana santai, Bapak Didit bercengkrama dengan Syekh Akbar sambil menikmati pempek khas Melayu, sembari membahas peran spiritualitas dalam pembangunan masyarakat dan bangsa.


Ternyata, Bapak Didit memiliki kedekatan khusus dengan Masjid Al-Fatah Batutulis, Jakarta—yang juga merupakan markas utama Zawiyah Utama Jakarta (ZUJ) Tarekat Idrisiyyah. Berdasarkan kesaksian jamaah dan pengurus ZUJ, beliau kerap hadir dalam program GAMIS (Gerakan Memakmurkan Masjid) Idrisiyyah dan istiqamah mengikuti shalat berjamaah.


Dalam dialognya dengan Syekh Akbar, Bapak Didit menyampaikan dukungan penuh terhadap dakwah Idrisiyyah, khususnya peran Syekh Akbar dalam menyebarkan ajaran tasawuf yang menyejukkan dan membangun.


Menurut penuturan pak Didit, dari sekian ulama dan pendakwah yang pernah hadir di bangka, baru kedatangan Syekh Akbar yang membuatnya terdorong berjumpa langsung


Kesaksian ini turut diperkuat oleh Ustadz Subhan dan Bapak Sapar yang menyatakan bahwa baru kali ini mereka melihat Bapak Didit hadir langsung, menyambut, dan mendampingi ulama secara penuh selama kegiatan dakwah berlangsung.


Kesaksian yang Menggugah

Pengalaman ini bukan hanya mencerminkan dampak ruhani dari dakwah yang bersumber dari adab dan hati, tetapi juga menunjukkan bahwa pintu hidayah Allah dapat mengetuk siapa saja—termasuk para pemimpin yang sebelumnya mungkin hanya mengamati dari kejauhan.


“Baru kali ini kami mantap untuk masuk tarekat,” ungkap Ustadz Subhan yang telah lama melayani para pendakwah, ungkapan serupa juga disampaikan oleh Bapak Sapar.