Dari Vatikan ke Masjid Agung Roma, Perjalanan Safari Dakwah Eropa

KOMINFO IDRISIYYAH • 13 Juni 2025

Dari Vatikan ke Masjid Agung Roma, Perjalanan Safari Dakwah Eropa

Safari Dakwah Eropa | Roma, 12 Juni 2025 – Usai melangsungkan dialog spiritual yang mendalam di Vatikan, Syekh Akbar melanjutkan perjalanannya menuju titik penting lainnya dalam peta keberagamaan Eropa: Masjid Agung Roma (Grande Moschea di Roma). Langkahnya menyusuri dua wajah peradaban—Katolik dan Islam—yang di hari itu saling menyapa dalam damai.


Masjid Agung Roma bukan sembarang tempat ibadah. Ia adalah masjid terbesar di Eropa, dibangun di atas lahan seluas 30.000 meter persegi di kawasan Parioli, Roma Utara. Gagasan pembangunannya muncul sejak awal 1970-an sebagai hasil inisiatif kerjasama antara negara-negara mayoritas Muslim, termasuk Indonesia, Arab Saudi, Maroko, Turki, dan lainnya. Proyek ini secara resmi dimulai tahun 1984 dan rampung pada 1995. Masjid ini kemudian diresmikan oleh Presiden Italia dan Raja Arab Saudi.


Arsitekturnya memadukan unsur Islam klasik dan gaya Mediterania modern—dengan kubah utama setinggi 20 meter dan menara menjulang setinggi 43 meter. Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kebudayaan Islam, dengan ruang kelas, perpustakaan, galeri, dan aula pertemuan.


Dalam sejarahnya, Syekh Abdul Wahid, ayah dari Syekh Yahya (Presiden EULEMA), pernah menjadi salah satu pengurus utama masjid ini, namun dengan berjalannya waktu pengelolaan masjid saat ini berada di bawah koordinasi Kedutaan Besar Maroko, yang secara aktif memfasilitasi kegiatan ibadah, pendidikan, serta silaturahmi komunitas Muslim dari berbagai latar belakang negara.


Liputan Lainnya tentang SAFARI DAKWAH EROPA tersedia pada tautan berikut »


Tiba di Roma, Syekh Akbar Disambut Mursyid Tarekat Idrisiyyah Italia

>> Tarekat Idrisiyyah - Artikel Kajian


Mengunjungi Jantung Katolik Dunia, Syekh Akbar Menjalin Dialog Spiritual di Vatikan

>> Tarekat Idrisiyyah - Artikel Kajian


Di tengah suasana yang khusyuk, Syekh Akbar melaksanakan salat Dzuhur berjamaah bersama komunitas Muslim lokal. Tak ada sambutan resmi. Yang hadir hanyalah sapaan sunyi arsitektur Islam di tengah peradaban Barat, dan doa-doa yang naik dari hati yang berserah.