Saat Hati Bertemu Guru, Kisah Ibu Ghani Menjadi Murid Tarekat Idrisiyyah
KOMINFO IDRISIYYAH • 15 Agustus 2025
Malam itu, langit Tasikmalaya terasa teduh. Angin berhembus lembut di halaman Pesantren Idrisiyyah. Jamaah mulai memenuhi Masjid Al Fattah untuk mengikuti Majelis Dzikir Makhsus yang rutin diadakan setiap malam Jumat. Di antara mereka, hadir seorang tamu istimewa — Hj. Roziana Ghani, Direktur Utama Rumah Sakit Ridhoka Salma, Bekasi.
Meski jadwalnya di bulan Agustus sangat padat, malam itu Ibu Ghani datang dengan satu niat: mencari guru Mursyid dan mengambil talqin dzikir langsung dari Syekh Akbar Muhammad Fathurrahman, M.Ag.
Keinginan ini tidak muncul begitu saja. Perjumpaan pertama dengan Syekh Akbar terjadi beberapa waktu lalu di Bekasi, saat beliau mengisi kajian MUI. Sejak saat itu, benih keinginan untuk lebih dekat kepada Allah melalui bimbingan guru mursyid mulai tumbuh. Niat itu semakin kuat ketika sang putra, Ilham, belajar di Idrisiyyah dan merasakan kedamaian yang berbeda.
Malam Talqin di Pesantren Idrisiyyah
Usai dzikir makhsus, sekitar pukul 21.30, Ibu Ghani dipersilakan menemui Syekh Akbar di kediaman beliau. Suasana ruang tamu sederhana itu terasa hangat, diterangi senyum dan sambutan yang penuh kasih.
Syekh Akbar menyapa hangat dan berbincang tentang cita-cita ibu ghani yang ingin mengabdi kepada Allah melalui jalan kesehatan, diakhir perbincangan Syekh Akbar memulai talqin dzikir, membimbing Ibu Ghani dengan perlahan dan penuh kelembutan, memastikan setiap lafaz yang dibacakan bisa dihayati sepenuh hati. Di momen itu, Ibu Ghani menundukkan kepala, merasakan getaran kalimat yang mengalir dari lisannya seakan menembus hingga ke relung jiwa.
Laa ilaaha illallaah Muhammadar Rasulullah, fii kulli lamhatin wa nafasin ‘adadamaa wasiahu ‘ilmullaah.
Kalimat ini diucapkan berulang, penuh kesadaran, seakan setiap lafaznya menembus lapisan-lapisan hati yang terdalam.
Meskipun malam telah larut, seluruh hati yang hadir tetap terjaga, siap menerima bimbingan, dan berkomitmen untuk menempuh perjalanan menuju Allah di bawah tuntunan mursyid.
Syekh Akbar kemudian memberikan lima wirid utama yang menjadi pegangan setiap murid:
1. Membaca Al-Qur’an satu juz setiap hari.
2. Membaca shalawat 100 kali.
3. Membaca istighfar 100 kali.
4. Membaca Ya Hayyu Ya Qayyum 1000 kali.
5. Membaca tahlil makhsus 300 kali.
Sebuah Awal, Bukan Akhir
Bagi Ibu Ghani, talqin dzikir malam itu adalah pintu masuk menuju dunia batin yang lebih luas. Dunia yang tidak diukur oleh keuntungan materi atau kesuksesan duniawi, melainkan oleh kedekatan dengan Allah dan kebersihan hati.
Simak juga berita lainnya pada link berikut » Pemilik Rumah Sakit Ridhoka Salma Bekasi, Tulus Menjadi Murid Tarekat Idrisiyyah - Tarekat Idrisiyyah
Seperti halnya rumah sakit yang ia bangun dengan penuh perjuangan untuk melayani masyarakat, kini ia juga membangun “rumah” di dalam hatinya — sebuah tempat di mana dzikir akan terus hidup dan membimbing langkahnya.
Malam itu, Tasikmalaya menjadi saksi, bahwa ketika hati menemukan guru, perjalanan menuju Allah menjadi lebih terang, lebih terarah dan penuh cinta.