Hikmah Pertama Tadabbur Alam di Galunggung " Tahajud, Nafas Ruhani Seorang Pengurus"
KOMINFO IDRISIYYAH • 18 Agustus 2025
Malam itu, hawa dingin Gunung Galunggung menusuk kulit, namun justru menghadirkan ketenangan yang sulit digambarkan. Di bawah langit bertabur bintang, para jamaah Tarekat Idrisiyyah baru saja menunaikan shalat tahajud bersama mursyid tercinta, Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag. Api unggun kecil menyala di antara tenda-tenda, sementara aroma tanah basah dan desiran angin gunung menjadi saksi kebersamaan yang penuh keberkahan.
Selepas shalat tahajud dan witr, suasana hening itu pecah oleh suara lembut Syekh Akbar. Beliau duduk bersila, dikelilingi para pengurus dan jamaah yang khusyuk mendengarkan. Kata-kata beliau mengalir tidak sekadar sebagai nasihat, melainkan seperti tetesan air jernih yang menyejukkan hati dan menguatkan jiwa.
Hadis Qudsi Ketika Allah Menyapa Hamba di Sepertiga Malam
Dengan suara tenang, Syekh Akbar mengingatkan bahwa shalat tahajud bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan kebutuhan ruhani yang seolah-olah wajib sehingga tidak boleh ditinggalkan.
“Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat istimewa,” tutur beliau. “Dalam hadis qudsi, Nabi ﷺ bersabda bahwa Allah turun ke langit dunia. Jangan bayangkan turunnya Allah seperti makhluk, dari atas ke bawah. Tidak! Itu bukan sifat Allah. Turunnya Allah berarti Allah mendekatkan diri kepada hamba-Nya, membuka pintu doa, pintu ampunan, dan pintu kasih sayang.”
Beliau lalu mengulang sabda Rasulullah ﷺ:
“Siapa yang berdoa kepada-Ku, pasti Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, pasti Aku beri. Dan siapa yang memohon ampun, pasti Aku ampuni.”
Kata-kata itu membuat hati para jamaah bergetar. Seolah malam di kaki Galunggung yang sunyi itu dipenuhi cahaya rahmat yang turun dari langit.
Jejak Awal Dakwah Nabi
Syekh Akbar kemudian mengingatkan bahwa sejak awal, dakwah Nabi Muhammad ﷺ dimulai dengan kekuatan shalat malam. Beliau membacakan ayat dari Surat Al-Muzzammil:
“Wahai orang yang berselimut, bangunlah di malam hari, kecuali sedikit darinya…”
Dan dari Surat Al-Muddatsir:
“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan kepada kaum…”
Syekh menatap para pengurus tarekat dengan penuh kasih dan melanjutkan,
“Tahajud ini adalah kebutuhan kita, terlebih bagi para pengurus yang tidak hanya mengurus diri sendiri, tetapi juga mengurus orang lain. Karena itu, dirinya harus lebih kuat, sebab memiliki tugas khidmah untuk membantu mursyid dalam mengurus umat. Maka bapak tekankan, jangan pernah tinggalkan tahajud, meskipun hanya dua rakaat.”
Beliau menegaskan, wali Allah tidak pernah meninggalkan tahajud kecuali karena uzur. Bahkan bila terbangun menjelang subuh, sempatkanlah dua rakaat sebelum adzan. Lebih baik sedikit tapi istiqamah, daripada banyak namun terputus-putus.
Tahajud sebagai Tanda Istiqamah
Ada kalimat yang sangat membekas malam itu:
“Kalau seseorang terbiasa tahajud lalu ia meninggalkannya, siangnya akan merasa bingung. Sampai merasakan hati yang tidak tenang, gelisah seperti kebingungan. Itu tanda bahwa tahajud sudah menjadi bagian dari hidupnya. Maka kalau setiap hari bingung, berarti setiap hari ia lalai dari tahajud.”
Kata-kata ini membuat beberapa jamaah menunduk merenung. Ada yang mungkin sering terlelap, ada pula yang masih memandang tahajud hanya sebagai sunnah biasa. Namun malam itu, nasihat mursyid terasa seperti cahaya yang menyadarkan bagaimana tahajud adalah kebutuhan jiwa, bukan beban.
Simak juga berita lainnya pada link berikut » Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju — Pondok Pesantren Idrisiyyah Gelar Upacara HUT RI ke-80 dengan Khidmat - Tarekat Idrisiyyah
Angin gunung berhembus lembut, seakan mengamini setiap kalimat yang terucap. Jamaah yang hadir benar-benar merasakan kedekatan Allah di sepertiga malam. Keheningan Galunggung menjadi saksi, bahwa nasihat seorang mursyid bukanlah kata-kata semata, tetapi cermin dari perjalanan para wali Allah yang tak pernah meninggalkan tahajud.
Karena, seperti yang diingatkan Syekh Akbar, wali Allah tidak pernah meninggalkan tahajud kecuali karena uzur. Dan siapa pun yang istiqamah bangun malam, akan merasakan buahnya ketenangan hati, kejernihan pikiran, serta kedekatan dengan Allah yang tak tergantikan oleh apa pun.