Hikmah Kedua Tadabbur Alam di Galunggung “Dzikir dan Tafakkur”
KOMINFO IDRISIYYAH • 19 Agustus 2025
Waktu shalat Shubuh semakin dekat namun hawa dingin Gunung Galunggung masih menyelimuti para jamaah Tarekat Idrisiyyah yang sedang mendengarkan untaian hikmah penuh makna selepas menunaikan shalat tahajud. Dibawah langit yang terbentang luas, bertabur bintang yang berkilau seakan membuat hati mendekat kepada Sang Pencipta. Dalam keheningan tersebut, Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag. kembali memberikan nasihat penuh makna.
“Bapak suka mengajak kalian ke pantai atau ke gunung supaya bisa bertafakkur,” ujar Syekh Akbar. “Seperti dalam firman Allah di surat Ali Imran, ...... wa yatafakkarūna fī khalqi as-samāwāti wal-arḍ, rabbanā mā khalaqta hādzā bāthilan" dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): 'Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia”
Beliau menjelaskan, ada dua hal yang harus selalu dilatih oleh seorang salik: dzikir dan tafakkur.
• Dzikir adalah mengingat Allah dalam hati dan lisan.
• Tafakkur adalah merenungkan ciptaan-Nya, menghubungkan keindahan dan kebesaran alam dengan Sang Pencipta.
“Coba bayangkan Galunggung ini, gunung yang besar diciptakan Allah tidakkah kita merasa kecil?. Lalu lihat ke atas, banyak bintang bertebaran di langit. Katanya, satu bintang saja ukurannya bisa lebih besar dari bumi yang kita tinggali. Nah, semua yang bisa kita lihat ini adalah makhluk Allah, yang menjadi dalil tentang keberadaan dan kebesaran-Nya.”
Mata jamaah menatap ke langit, mengikuti arah tangan Syekh Akbar yang melihat bintang-bintang. “Dari ciptaan Allah, kita bisa merasakan betapa agung dan besarnya Allah SWT. Masa dunia yang luas ini tidak ada yang menciptakan? Mustahil. Seharusnya manusia bisa berpikir, kalau ada ciptaan, pasti ada yang menciptakan.”
Beliau menekankan bahwa iman sejati bukan hanya hasil berpikir semata, tetapi cahaya hidayah dari Allah. “Walaupun otak manusia maju seperti orang-orang Jerman, tetapi kalau hati tidak disinari cahaya Allah, maka ia tidak akan mendapatkan hidayah.”
Nasihat itu membuat jamaah terdiam. Keindahan alam yang tadinya hanya dipandang dengan mata, kini terasa menyentuh hati. Gunung, langit, dan bintang seolah berubah menjadi ayat-ayat Allah yang terbentang.
Menghidupkan Hati dengan Dzikir dan Tafakkur
Malam itu di Galunggung, Syekh Akbar mengajarkan bahwa dzikir dan tafakkur adalah dua sayap ruhani. Dzikir menjaga hati agar senantiasa terhubung dengan Allah, sementara tafakkur membuka mata batin agar dapat melihat tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta.
Dengan dua hal ini, seorang salik tidak hanya menjadi hamba yang rajin beribadah, tetapi juga hamba yang dalam hatinya tumbuh rasa yakin dan tunduk kepada Sang Pencipta.
Simak juga berita lainnya pada link berikut » Hikmah Pertama Tadabbur Alam di Galunggung " Tahajud, Nafas Ruhani Seorang Pengurus" - Tarekat Idrisiyyah
Bagi para pengurus, pengalaman ini bukan sekadar perjalanan, melainkan bekal ruhani untuk menguatkan iman dan pengabdian mereka. Karena iman bukan sekadar logika, melainkan cahaya hidayah yang hanya Allah berikan kepada hati yang bersih dan mau merenung.
Di kaki Galunggung itu, pengurus Idrisiyyah belajar satu hal penting semakin dalam kita memandang ciptaan Allah, semakin dekat kita merasakan kebesaran-Nya.