Hikmah Ketiga Tadabbur Alam di Galunggung "Waktu yang Tak Pernah Kembali"
KOMINFO IDRISIYYAH • 20 Agustus 2025
Pagi itu, selepas dzikir bersama setelah Sholat Shubuh dan cahaya matahari mulai merekah di lereng Gunung Galunggung, para pengurus duduk melingkar di bawah langit yang bening. Udara pegunungan yang sejuk membuat hati terasa lapang, seakan setiap hembusan angin membawa bisikan zikir. Di tengah suasana itu, Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag. kembali membuka hikmah ketiga dari rangkaian tadabbur alam.
Dengan suara tenang namun penuh ketegasan, beliau mengingatkan tentang hakikat waktu. “Hidupkan hati kita dengan dzikir, latih setiap tarikan napas agar bernilai di hadapan Allah,” ucap beliau. Kata-kata itu membuat para pengurus menunduk, merenungi betapa sering waktu berlalu tanpa isi.
Syekh Akbar menggambarkan waktu seperti arus deras yang tak mungkin dibendung. Jam memang bisa diatur ulang, tetapi kehidupan tidak. “Sekarang tanggal 16, tidak bisa kita kembalikan menjadi tanggal 15. Waktu terus bergerak, manusia tunduk kepada ketetapan Allah,” beliau menegaskan.
Seketika hening menyelimuti lingkaran itu. Matahari yang terus meninggi seolah menjadi saksi bisu bahwa kesempatan memang tak akan kembali.
Mengisi Kesempatan dengan Dzikir
Suasana menjadi semakin dalam ketika Syekh Akbar menekankan bahwa keberuntungan manusia hanya ada pada dzikir. “Setiap kesempatan, isi dengan dzikir. Kalau tidak, kita akan jadi orang yang rugi,” ujarnya.
Para pengurus merasakan getaran kalimat itu. Di tengah hiruk pikuk kehidupan dunia, seringkali manusia lupa bahwa setiap detik adalah titipan Allah. Di hadapan panorama Galunggung yang indah, nasihat ini hadir sebagai pengingat bahwa hati yang hidup dengan dzikir akan selalu menemukan jalan keberuntungan.
Syekh Akbar lalu membawa renungan lebih jauh, membahas tentang kehidupan manusia hanyalah giliran. “Dulu orang tua kita hidup di atas bumi ini, lalu digantikan kita. Kelak kita pun akan pergi, diganti anak cucu kita. Begitulah kehidupan yang Allah tetapkan,” tuturnya.
Kata-kata itu membuat hati sadar betapa singkatnya kehidupan. Gunung yang menjulang tegak menjadi saksi bisu dari pergiliran generasi, sementara manusia silih berganti meninggalkan dunia.
Setiap Manusia Akan Berserah di Hari Akhir
Hikmah ketiga ini ditutup dengan penegasan yang membuat hati bergetar mengingat kondisi di akhirat nanti, dimana manusia tidak lagi punya pilihan. “Semua urusan kita akan diputuskan oleh Allah. Tidak ada tempat untuk lari, semua tunduk kepada keputusan-Nya,” kata Syekh Akbar.
Simak juga berita lainnya pada link berikut » Hikmah Kedua Tadabbur Alam di Galunggung “Dzikir dan Tafakkur” - Tarekat Idrisiyyah
Kalimat itu menancap dalam, seperti palu yang mengetuk kesadaran dan melahirkan sebuah makna baru, bahwa hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan.
Di puncak tadabbur itu, langit Galunggung semakin cerah. Seolah semesta ikut membisikkan pesan yang sama: waktu adalah amanah, jangan biarkan ia lewat tanpa dzikir. Hikmah ketiga ini pun menjadi pengingat bahwa keberuntungan sejati hanyalah bagi hati yang hidup bersama Allah.