Nasihat Syekh Akbar: Dari Sarapan, Santap Siang, hingga Bandara Kota Kinabalu
KOMINFO IDRISIYYAH • 26 Agustus 2025
Tarekat Idrisiyyah | Kota Kinabalu – Ada suasana yang berbeda dalam kehangatan Kota Sufi Se-Nusantara 3.0 di Sabah, Malaysia. Di balik megahnya forum internasional yang dihadiri ratusan ulama sufi dari berbagai negara, terdapat momen-momen sederhana namun sarat makna yaitu nasihat seorang mursyid kepada panitia yang dengan takzim mendampinginya
Sejak kedatangan hingga hari kepulangan, Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag., Mursyid Tarekat Idrisiyyah dan Rais Idarah Aliyyah JATMAN, tidak hanya tampil di podium memberi pidato dan menyampaikan gagasan, tetapi juga membuka ruang di sela-sela waktu santai untuk menanamkan pesan ruhani.
Pagi yang Penuh Arahan
Saat sarapan, beberapa panitia dengan penuh adab mendekat untuk memohon nasihat. Syekh Akbar menatap mereka dengan lembut, lalu berpesan bahwa dakwah tasawuf harus dibangun di atas keteladanan, bukan sekadar kata-kata. "Dakwah sejati lahir dari hati yang ikhlas, yang ditunjukkan dengan amal, bukan hanya ucapan," ucap beliau lirih namun tegas
Bagi panitia, kalimat itu bukan sekadar nasihat, melainkan pegangan hidup. Mereka menunduk penuh takzim, menyadari bahwa bimbingan mursyid adalah cahaya yang menuntun jalan mereka.
Santap Siang dan Pesan tentang Mursyid
Di Tanjung Aru, kala santap siang berlangsung, empat orang panitia inti kembali meminta arahan. Kali ini Syekh Akbar menegaskan tentang kedudukan mursyid. "Seorang murid tidak boleh memiliki dua mursyid. Mursyid adalah pintu menuju Allah, dan melalui mursyidlah seorang salik dibimbing menuju kesucian jiwa," pesannya.
Beliau juga mengingatkan tentang strategi dakwah sufistik yang menyeimbangkan ibadah, pendidikan ruhani, dan khidmat kepada umat. Pesan itu seakan menyentuh inti peran panitia: bukan hanya mengurus teknis acara, melainkan turut menjaga keberlangsungan dakwah melalui adab dan niat yang lurus.
Pesan Perpisahan di Bandara
Menjelang keberangkatan di Bandara Internasional Kota Kinabalu, beberapa panitia kembali mendekat. Mereka tahu, momen bersama mursyid akan segera berakhir. Dengan mata berkaca-kaca, mereka memohon doa dan petuah terakhir. Syekh Akbar pun berpesan agar mereka terus istiqamah dalam khidmat, menjaga hati agar tetap bersih dan menjadikan setiap langkah sebagai ibadah.
Momen itu sunyi, hanya dipenuhi getar hati dan takzim. Panitia memahami, nasihat seorang mursyid bukan sekadar petunjuk praktis, tetapi jalan ruhani yang membekas sepanjang hayat.
Jejak yang Tertinggal
Dari sarapan hingga bandara, dari kata-kata singkat hingga doa perpisahan, nasihat Syekh Akbar menjadi bagian dari perjalanan spiritual Kota Sufi 3.0. Kehadiran beliau bukan hanya sebagai tokoh internasional, melainkan sebagai pembimbing ruhani yang menanamkan cahaya di hati para pengikutnya.
Bagi panitia, pengalaman ini lebih dari sekadar tugas mendampingi seorang tamu kehormatan ini adalah perjalanan ruhani, sebuah pelajaran hidup dan warisan adab yang akan terus mereka kenang.