Kebangkitan Islam dari Timur Jauh, Pesan Syekh Akbar di Hadapan Murid Syekh Walid Ibrahim Al Malik

KOMINFO IDRISIYYAH • 07 Oktober 2025

Kebangkitan Islam dari Timur Jauh, Pesan Syekh Akbar di Hadapan Murid Syekh Walid Ibrahim Al Malik

 Tarekat Idrisiyyah | Malaysia, 29 September 2025 — Kunjungan dakwah Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag. ke Malaysia kali ini membawa makna yang mendalam bagi dunia tasawuf. Berawal dari agenda pribadi untuk mengantarkan putrinya melanjutkan pendidikan di salah satu universitas internasional, kunjungan tersebut berubah menjadi momentum besar persaudaraan ruhani antar masyaikh sufi, ketika beliau diminta menyampaikan tausiyah di hadapan para murid Syekh Walid Ibrahim Al Malik, Mursyid Tarekat Sathariyyah Malaysia.

 

Pertemuan itu berlangsung dalam suasana hangat dan penuh penghormatan. Para ustadz dan ustadzah dari berbagai negeri bagian di Malaysia hadir memenuhi majelis, ingin mendengar langsung taujihat dari Mursyid Tarekat Idrisiyyah. Seolah waktu terhenti, selama dua jam tanpa terasa, Syekh Akbar menyampaikan taujihat tentang hakikat iman, Islam dan ihsan — tiga dimensi keberagamaan yang harus hidup bersamaan dalam diri seorang salik. Beliau menegaskan bahwa tasawuf bukan sekadar zikir atau ibadah tambahan, melainkan inti dari penyempurnaan akhlak dan perjalanan menuju Allah.

 

Momentum tersebut menjadi istimewa karena kehadiran Syekh Akbar bukan semata atas undangan formal, melainkan sebagai “pencurian waktu” oleh para ikhwan Sathariyyah yang begitu rindu bertemu dengan Mursyid Idrisiyyah. Dalam majelis itu, Syekh Walid Ibrahim Al Malik menyampaikan pernyataan yang mengejutkan sekaligus menggugah hati. Di hadapan para murid dan pengurusnya, beliau berkata dengan penuh keikhlasan bahwa bila suatu saat dirinya telah tiada, maka Syekh Muhammad Fathurahman akan menjadi penerus estafet spiritual mereka.

 

Pernyataan itu menggambarkan keluasan hati seorang mursyid sejati — yang tidak takut kehilangan pengikut, tidak terikat oleh batas tarekat, dan hanya tunduk kepada kebenaran ilahi. Hubungan antara Tarekat Idrisiyyah dan Tarekat Satariyyah tampak semakin erat, dilandasi oleh semangat ukhuwah ruhaniyah yang melampaui sekat organisasi dan asal usul thariqah.

 

Menariknya, pertemuan dua mursyid besar ini juga memiliki akar sanad yang bersumber sama. Berdasarkan keterangan dalam kitab Salsabil Mu‘in fi Tharaiq al-Arba‘in, karya Syekh Muhammad bin Ali as-Sanusi—pendiri Thariqah Sanusiyyah yang juga memiliki hubungan ilmiah dengan jalur Idrisiyyah—beliau memiliki keterhubungan dengan Tarekat Syathariyyah melalui jalur Syekh Ahmad Asy-Syanawi, dari Maulana Sayyid Nizhamuddin Al-Hindi dan seterusnya. Hal ini menunjukkan adanya titik temu sanad spiritual antara Idrisiyyah dan Syathariyyah yang bersumber dari mata air ruhani yang sama, yakni warisan para wali Allah yang menjaga kemurnian ilmu tasawuf dari masa ke masa.


Simak juga berita lainnya pada link berikut » Workshop Penguatan Kelembagaan STAI Idrisiyyah: Menuju Transformasi yang Lebih Kokoh - Tarekat Idrisiyyah

 

Dalam penutup tausiyahnya, Syekh Akbar menyampaikan kabar gembira yang memberi harapan baru bagi dunia Islam. Beliau menyatakan bahwa tasawuf akan kembali bangkit dan salah satu titik kebangkitannya akan muncul dari wilayah Timur Jauh, termasuk kawasan Nusantara. Di wilayah inilah, kata beliau, Allah menyiapkan generasi yang memiliki keseimbangan antara ilmu, amal, dan adab; yang akan menyalakan kembali pelita spiritual Islam di tengah kegelapan materialisme modern.

 

Pesan tersebut disambut penuh haru oleh jamaah yang hadir dan merasakan pancaran ketenangan dan keyakinan yang dalam. Majelis itu pun menjadi saksi bahwa persaudaraan antar thariqah bukan hanya warisan sejarah, melainkan tanda-tanda kebangkitan ruhani umat Islam yang sedang tumbuh dari bumi Asia Tenggara.