Tergerak Kajian Syekh Akbar di YouTube, KH Encep Subandi Datang Langsung untuk Talqin Tarekat Idrisiyyah

KOMINFO IDRISIYYAH • 11 Februari 2026

Tergerak Kajian Syekh Akbar di YouTube, KH Encep Subandi Datang Langsung untuk Talqin Tarekat Idrisiyyah

Hidayah kerap datang melalui jalan yang sederhana, namun menghunjam ke relung hati. Bagi KH Encep Subandi, Pimpinan Pondok Pesantren Nur Antika Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, panggilan itu hadir melalui kajian-kajian Syekh Akbar yang beliau ikuti secara rutin melalui kanal YouTube. Kajian yang tidak hanya menyentuh nalar, tetapi juga menghidupkan kesadaran batin. Hal serupa dirasakan sang istri, yang turut setia menyimak kajian-kajian tersebut. Dari layar gawai, tumbuh kerinduan untuk mendekat, bukan sekadar memahami, tetapi mengalami langsung bimbingan ruhani.

 

Kerinduan itu akhirnya menjelma langkah nyata. Pada Senin (9/2), KH Encep Subandi dan istri berangkat secara pribadi menuju Pesantren Idrisiyyah. Tanpa menghubungi jamaah Idrisiyyah satu pun, tanpa pengantar resmi, mereka hanya berbekal petunjuk lokasi yang diperoleh dari internet. Menjelang waktu Maghrib, KH Encep tiba di Pesantren Idrisiyyah dan diterima oleh pengurus Pusat Informasi. Awalnya, pembicaraan berputar pada dunia pendidikan pesantren, hingga kemudian mengalir pada pembahasan tentang tarekat dan tasawuf yang disampaikan oleh Ustadz Dodi Hilman.

 

Dalam perbincangan tersebut, KH Encep menyampaikan bahwa selama ini beliau mengikuti kajian Syekh Akbar melalui media sosial, merasakan kedalaman makna yang berbeda, dan menemukan pencerahan batin yang menenangkan. Dari dialog yang hangat dan terbuka itulah, tumbuh keinginan untuk menerima talqin dzikir sebagai bentuk kesungguhan dalam menempuh jalan tasawuf. Setelah mendapat penjelasan awal mengenai tarekat, niat tersebut pun semakin mantap.

 

Bertemu dengan Mursyid Tarekat Idrisiyyah

 

Karena kedatangannya bersifat pribadi, KH Encep Subandi menginap di sebuah Hotel di Tasikmalaya. Ustadz Dodi kemudian menyampaikan kepada Syekh Akbar tentang maksud kedatangan KH Encep, termasuk latar belakang beliau sebagai pimpinan pesantren dengan keilmuan yang luas. Menyikapi hal tersebut, pada Selasa (10/2) ba’da Subuh, KH Encep diterima langsung oleh Syekh Akbar di mihrab Masjid Al Fattah Pesantren Idrisiyyah. Di tempat yang sarat makna itu, Syekh Akbar kembali menjelaskan hakikat tasawuf, tarekat dan urgensi bermursyid dalam perjalanan dzikir, sehingga semakin menguatkan keyakinan KH Encep untuk menempuh jalan ini dengan penuh kesadaran.

 

Pada pukul 08.00 WIB, KH Encep Subandi dan istri resmi menerima talqin Tarekat Idrisiyyah di ruang talqin. Dalam prosesi tersebut, Syekh Akbar menyampaikan silsilah sughra sebagai silsilah utama Tarekat Idrisiyyah, serta silsilah kubra sebagai bentuk tabarruk dan perluasan wawasan keilmuan. Syekh Akbar juga menegaskan bahwa dzikir talqin yang telah diterima menjadi amalan pokok yang wajib dijaga, sementara wirid-wirid yang sebelumnya diamalkan tetap bernilai sebagai tambahan kebaikan.

 

Dalam suasana talqin, Syekh Akbar menyampaikan kisah perjalanan Imam Al-Ghazaliseorang ulama besar yang dikenal dengan keluasan ilmunya dan tetap berguru kepada mursyid untuk membimbing dzikir dan penyucian hatinya. Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa setinggi apa pun keilmuan seseorang, bimbingan ruhani tetaplah kebutuhan mendasar dalam perjalanan menuju Allah SWT.

 

Talqin Dzikir dan Komitmen Suluk

 

Usai menerima talqin, KH Encep Subandi mengungkapkan kebahagiaan dan ketenteraman batin yang mendalam. Beliau mengakui bahwa dzikir dan wirid harian sejatinya telah lama diamalkan, namun dilakukan tanpa bimbingan mursyid, sehingga sering kali terasa hampa. Melalui penjelasan Syekh Akbar, beliau memahami bahwa bimbingan talqin dzikir membuka pintu pengalaman spiritual berupa dzauq, kenikmatan, dan kelezatan dalam berdzikir. Sebuah pengalaman yang menguatkan tekad untuk bersungguh-sungguh menapaki jalan tasawuf.

 

Sebagai bekal perjalanan ruhani, Syekh Akbar memberikan beberapa kitab tasawuf kepada KH Encep, di antaranya Tasawuf Lil Hayah, Risalah Muhimmah, buku Tarekat Idrisiyyah beserta ajarannya, Pengantar Tasawuf, serta kitab wirid Tarekat Idrisiyyah Hadiqatur Riyahin. Sebelum berpamitan kembali ke Tangerang, KH Encep juga berdialog dengan Ustadz Ahmad Faqih dari Majelis Ketarekatan terkait kaifiat wirid dzikir. Dijelaskan bahwa kaifiat wirid harian menyesuaikan dengan aktivitas masing-masing murid, dengan penekanan bahwa hati senantiasa terhubung dan berdzikir kepada Allah SWT.

 

Menutup perjumpaan, disampaikan pula kegiatan rutin Tarekat Idrisiyyah, mulai dari dzikir makhsus mingguan setiap malam Jumat, pengajian Arbain bulanan di Tasikmalaya dan Jakarta, hingga Qini Nasional yang dilaksanakan pada bulan Rabiul Awal, Rajab, dan Dzulhijjah. KH Encep Subandi menyatakan kesiapan untuk hadir dalam momentum-momentum tersebut sebagai bagian dari ikhtiar berjumpa dengan mursyid dan mendalami ilmu pengelolaan hati melalui jalan tasawuf.