Menguatkan Sanad Ruhani, Syekh Akbar Bahas Biografi Mursyid Idrisiyyah dalam Kajian Subuh Ramadan

KOMINFO IDRISIYYAH • 28 Februari 2026

Menguatkan Sanad Ruhani, Syekh Akbar Bahas Biografi Mursyid Idrisiyyah dalam Kajian Subuh Ramadan

Tarekat Idrisiyyah | 28 Februari 2025 Tasikmalaya — Momentum Ramadan dimanfaatkan secara intensif oleh Syekh Akbar Muhammad Fathurrahman untuk menghidupkan kajian rutin ba’da Subuh di Pesantren Idrisiyyah. Dalam rangkaian Pesantren Ramadan 1447 H/2026 M, kajian tersebut secara khusus membahas biografi mursyid-mursyid Tarekat Idrisiyyah sebagai bagian dari penguatan sanad ruhani dan transmisi nilai tasawuf.

 

Setiap pagi, jamaah dan santri mengikuti kajian di Masjid Al Fattah sampai dengan waktu Isyroq tiba. Tidak sekadar mengulas sejarah, Syekh Akbar menekankan dimensi spiritual dari keberadaan seorang mursyid dalam perjalanan suluk seorang salik.

 

Mursyid dan Tujuan Ibadah

 

Dalam salah satu penjelasannya, Syekh Akbar menegaskan bahwa memiliki mursyid bukan sekadar untuk memperoleh ilmu atau keberkahan lahiriah.

 

“Pentingnya punya mursyid itu bukan sebatas kita mendapat ilmu, tetapi sampai ibadah kita wushul kepada Allah. Mursyid bukan hanya soal doa dikabulkan, tetapi sampainya tujuan kita.”

 

Beliau mengaitkan hal tersebut dengan firman Allah dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 56 tentang tujuan penciptaan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah yang dimaksud, menurut penjelasan beliau, bukan hanya formalitas lahiriah, melainkan ibadah yang benar-benar menghadirkan penghambaan dan kedekatan kepada Allah.

 

Melalui bimbingan mursyid, seorang murid memperoleh wasilah agar ibadahnya terarah, lurus dan diterima. Ketika hati telah sampai kepada Allah, maka ketenangan dan kedamaian akan hadir sebagai buah dari perjalanan ruhani tersebut.

 

Tasawuf dan Tradisi Salaf hingga Khalaf

 

Dalam kajian itu pula, Syekh Akbar menegaskan bahwa tasawuf bukan ajaran yang terpisah dari Islam, melainkan bagian integral dari warisan keilmuan umat sejak generasi awal.

 

Merujuk pada kitab Madarijus Salikin karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dijelaskan bahwa seorang murid wajib menghubungkan batinnya dengan mursyidnya agar terbimbing sampai kepada Allah. Keterhubungan ruhani ini bukan bentuk pengkultusan, melainkan mekanisme pendidikan spiritual agar perjalanan suluk tetap berada dalam bimbingan.

 

Teladan Para Sahabat

 

Syekh Akbar juga mengajak jamaah untuk meneladani para sahabat Nabi. Ketika muncul pertanyaan apakah ibadah para sahabat diterima, jawabannya jelas dalam Al-Qur’an: radhiyallahu ‘anhum wa radhu ‘anhu — Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah.

 

Keberhasilan spiritual para sahabat, menurut beliau, tidak lepas dari bimbingan langsung Rasulullah ﷺ. Mereka tidak beribadah secara mandiri tanpa arahan, melainkan berada dalam pendidikan dan pengawasan Nabi.

 

Dalam konteks tasawuf, hal ini menunjukkan urgensi hubungan guru dan murid. Mengingat nasihat guru, menjaga adab, serta senantiasa menghadirkan mursyid dalam ingatan ruhani menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju Allah.

 

Ramadan sebagai Momentum Penguatan Sanad

 

Kajian subuh ini menjadi salah satu pilar Pesantren Ramadan Idrisiyyah 2026 dalam memperkuat fondasi spiritual jamaah. Biografi para mursyid tidak hanya dipaparkan sebagai catatan sejarah, tetapi sebagai inspirasi praksis tentang keteladanan, istiqamah, dan kesungguhan dalam ibadah.

 

Melalui penguatan sanad ruhani, diharapkan jamaah tidak hanya memahami tasawuf secara konseptual, tetapi juga menghayatinya sebagai jalan pembinaan hati yang terhubung, terbimbing, dan berorientasi pada ridha Allah.