Walikota Jakarta Timur Undang Syekh Akbar, Tausiyah Nuzulul Qur’an Diikuti ASN di Masjid Baitul Muhyi

KOMINFO IDRISIYYAH • 10 Maret 2026

Walikota Jakarta Timur Undang Syekh Akbar, Tausiyah Nuzulul Qur’an Diikuti ASN di Masjid Baitul Muhyi

Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur menggelar peringatan Nuzulul Qur’an 1447 H di Masjid Baitul Muhyi Jakarta Timur pada Senin (9/3). Kegiatan ini dihadiri oleh para aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Jakarta Timur yang memenuhi masjid untuk mengikuti rangkaian acara. Peringatan ini diselenggarakan atas undangan Walikota Jakarta Timur Bapak H. Munjirin, yang menghadirkan Syekh Akbar Muhammad Fathurahman sebagai penceramah utama.

 

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan serta pembacaan ayat suci Al-Qur’an sebelum memasuki sesi tausiyah. Dalam ceramahnya, Syekh Akbar mengangkat tema tentang keteladanan Nabi Muhammad ﷺ yang memiliki akhlak sebagaimana Al-Qur’an. Ia menjelaskan bahwa Rasulullah merupakan representasi nyata dari nilai-nilai Al-Qur’an yang hidup dalam perilaku sehari-hari. Oleh karena itu, umat Islam tidak cukup hanya membaca dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga dituntut untuk mengamalkan nilai-nilai moral dan spiritualnya dalam kehidupan sosial dan profesi masing-masing.

 

Keutamaan peristiwa Nuzulul Qur’an, yaitu momentum turunnya wahyu pertama yang menjadi awal petunjuk bagi umat manusia. Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci, tetapi juga pedoman kehidupan yang membentuk karakter, menata akhlak, serta menghadirkan prinsip keadilan dan amanah dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam perspektif keislaman, nilai-nilai Al-Qur’an seperti kejujuran, tanggung jawab, dan keadilan merupakan fondasi penting bagi tata kelola kehidupan yang baik.

 

Dalam konteks pemerintahan, kegiatan ini memiliki relevansi kuat bagi para ASN sebagai pelayan publik. Penguatan nilai-nilai Qur’ani di lingkungan birokrasi diharapkan dapat melahirkan budaya kerja yang berintegritas, profesional, dan berorientasi pada kemaslahatan masyarakat. Dengan demikian, peringatan Nuzulul Qur’an tidak hanya menjadi agenda seremonial keagamaan, tetapi juga momentum refleksi moral bagi aparatur negara dalam menjalankan amanah pemerintahan secara adil dan bertanggung jawab.