Syekh Akbar Jelaskan Jalan Menuju Ma’rifatullah dalam Kajian Ramadan di Masjid Istiqlal

KOMINFO IDRISIYYAH • 16 Maret 2026

Syekh Akbar Jelaskan Jalan Menuju Ma’rifatullah dalam Kajian Ramadan di Masjid Istiqlal

Tarekat Idrisiyyah |Jakarta, 14 Maret 2026 - Suasana malam-malam terakhir Ramadan di Masjid Istiqlal dipenuhi jamaah yang datang untuk menghidupkan ibadah dan majelis ilmu. Dalam rangkaian kegiatan menjelang shalat tarawih, Syekh Akbar Muhammad Fathurahman menyampaikan kajian bertema “Jalan Menuju Ma’rifatullah” atas undangan Badan Pengelola Masjid Istiqlal. Ribuan jamaah tampak memadati area masjid terbesar di Asia Tenggara tersebut untuk menyimak tausiyah yang berlangsung selepas shalat Isya.

 

Dalam pembukaannya, Syekh Akbar mengajak jamaah untuk mensyukuri nikmat hidayah yang mengantarkan langkah menuju rumah Allah. Menurut Syekh Akbar, berkumpulnya umat Islam di masjid pada malam-malam Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi bagian dari perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Beliau juga menekankan bahwa perjalanan menuju ma’rifatullah (mengenal Allah) merupakan puncak dari kehidupan ruhani seorang hamba.

 

Dua Jenis Ilmu: Zahir dan Batin

 

Dalam kajiannya, Syekh Akbar menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan dalam tradisi Islam dapat dipahami melalui dua pendekatan. Pertama, ilmu yang diperoleh melalui akal dan proses intelektual seperti belajar, membaca dan penelitian. Dari pendekatan ini lahir berbagai disiplin ilmu zahir seperti fikih, tafsir, hadis, maupun ilmu pengetahuan umum.

 

Adapun yang kedua adalah ilmu yang diperoleh melalui kalbu, yaitu ilmu batin yang dalam tradisi tasawuf dikenal sebagai ma’rifat. Menurut Syekh Akbar, ma’rifatullah adalah pengetahuan tentang Allah yang tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi dirasakan melalui kedalaman hati.

 

“Ma’rifatullah adalah pengetahuan tentang Allah dan rahasia-rahasia-Nya yang dirasakan melalui kalbu,” ungkapnya di hadapan para jamaah.

 

Penyucian Hati sebagai Jalan Awal

 

Syekh Akbar menegaskan bahwa jalan menuju ma’rifatullah dimulai dari tazkiyatun nafs, yaitu proses penyucian jiwa dan pembersihan hati. Ia menjelaskan bahwa hati manusia pada dasarnya bersih, tetapi dapat ternodai oleh dosa serta penyakit-penyakit batin.

 

Menurutnya, dosa dan maksiat menjadi salah satu penyebab hati menjadi gelap. Karena itu, Nabi Muhammad SAW mencontohkan pentingnya memperbanyak istighfar sebagai sarana membersihkan hati.

 

Selain dosa, Syekh Akbar juga mengingatkan bahaya penyakit hati seperti ujub (bangga diri), takabur, hasad dan hubbud dunya atau cinta dunia. Ia menegaskan bahwa kecintaan berlebihan terhadap dunia dapat membuat hati jauh dari Allah.

 

“Kalau dunia diparkir di hati, maka hati itu tidak akan pernah menghadap kepada Allah,” nasihat Syekh.

 

Mengendalikan Nafsu dan Melatih Ruhani

 

Setelah proses penyucian hati, langkah berikutnya adalah mujahadatun nafs, yaitu mengendalikan hawa nafsu. Syekh Akbar menjelaskan bahwa nafsu manusia tidak pernah merasa cukup terhadap kenikmatan dunia. Oleh karena itu, seorang hamba harus mampu menundukkan nafsunya agar tidak terjebak dalam orientasi dunia semata.

 

Selanjutnya, perjalanan menuju ma’rifatullah juga memerlukan riyadhah atau latihan spiritual. Bentuknya antara lain dengan memperbanyak puasa, menjaga lisan, memperbanyak ibadah malam, serta melakukan uzlah atau menyendiri untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.

 

“Riyadhah adalah latihan untuk hati, agar kalbu kita terbiasa dekat dengan Allah,”

 

Ma’rifatullah dan Kedekatan dengan Allah

 

Di bagian akhir kajian, Syekh Akbar menjelaskan bahwa puncak dari perjalanan spiritual seorang hamba adalah ma’rifatullah, yaitu keadaan ketika hati benar-benar merasakan keagungan dan kedekatan dengan Allah.

 

Ia menggambarkan bahwa orang yang mengenal Allah secara hakiki akan merasakan getaran dalam hatinya setiap kali nama Allah disebut. Kedekatan tersebut melahirkan ketenangan batin serta mendorong seseorang untuk meningkatkan amal saleh dan akhlak mulia.

 

“Semakin seseorang mengenal Allah, maka semakin besar rasa takut dan cintanya kepada Allah,”.

 

Kajian tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan keagamaan yang menyemarakkan malam-malam akhir Ramadan di Masjid Istiqlal. Bagi para jamaah yang hadir, majelis ilmu ini tidak hanya menjadi sarana menambah pengetahuan, tetapi juga momentum untuk memperdalam perjalanan spiritual dalam mengenal Allah SWT.