Tarekat sebagai Jalan Kebahagiaan Hakiki di Tengah Krisis Spiritual Modern

KOMINFO IDRISIYYAH • 05 Mei 2026

Tarekat sebagai Jalan Kebahagiaan Hakiki di Tengah Krisis Spiritual Modern

Kehadiran Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag selaku Rois Idaroh Aliyah JATMAN dalam tabligh akbar di Palangka Raya tidak hanya menjadi momentum silaturahmi dakwah, tetapi juga menghadirkan penguatan mendalam tentang posisi tarekat dan tasawuf sebagai solusi atas krisis spiritual yang kian dirasakan masyarakat modern. Di tengah kehidupan yang semakin materialistik, manusia kerap mengalami kegelisahan batin meskipun secara lahir tampak berkecukupan.

 

Dalam kajiannya di Mushola Al-Fattah Pasir Panjang, Syekh Akbar menegaskan bahwa akar persoalan tersebut terletak pada jauhnya manusia dari pembinaan ruhani. Ia mengingatkan pentingnya kedekatan dengan ulama sebagai sumber keberkahan hidup. “Rezeki itu bukan sekadar banyak atau sedikit, tapi berkah atau tidak. Bisa jadi sedikit tapi berkah, bisa menyekolahkan anak, bisa ibadah. Tapi ada yang banyak, justru tidak membawa ketenangan,” ungkapnya.

 

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa tasawuf merupakan fondasi dalam membangun kepribadian manusia melalui nilai-nilai maqāmāt seperti kejujuran, amanah, tanggung jawab, hingga keikhlasan. Nilai-nilai ini, menurutnya, justru mulai terpinggirkan dalam sistem pendidikan modern yang lebih menitikberatkan aspek intelektual. “Yang mahal itu bukan sekadar ilmu, tapi kejujuran, amanah, dan akhlak dalam hati,” tegasnya, seraya mengajak jamaah untuk kembali memperhatikan pembangunan qalbu sebagai pusat karakter manusia.

 

Syekh Akbar juga menyoroti bahaya dominasi hawa nafsu dalam kehidupan manusia. Ia menggambarkan bahwa ketika nafsu duniawi menjadi “raja”, maka akal dan hati tidak lagi berfungsi sebagai penuntun kebenaran. Sebaliknya, manusia akan kehilangan arah hingga jatuh pada derajat yang rendah. Karena itu, tarekat hadir sebagai jalan untuk menata kembali posisi hati agar tetap menjadi pusat kendali kehidupan.

 

Dalam penjelasannya, beliau mengangkat konsep penting dalam tasawuf bahwa hati memiliki kebutuhan sebagaimana jasmani. Mengutip pandangan ulama, ia menyebutkan bahwa hati memerlukan “makanan ruhani” yang harus dipenuhi secara rutin. “Qolbu itu butuh makan. Makanannya dzikir, wirid, baca Al-Qur’an, shalawat. Kalau tidak diberi makan, hati akan lemah,” ujarnya. Prinsip ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur’an, “Ala bidzikrillahi tathma’innul qulub” (QS. Ar-Ra’d: 28), yang menegaskan bahwa ketenangan hati hanya dapat dicapai melalui dzikir kepada Allah.

 

Salah satu poin utama yang disampaikan adalah perbedaan antara kebahagiaan semu dan kebahagiaan hakiki. Syekh Akbar menjelaskan bahwa kebahagiaan yang bersumber dari materi bersifat sementara, sedangkan kebahagiaan sejati merupakan anugerah Allah yang diturunkan ke dalam hati. “Bahagia itu ada yang semu dan ada yang hakiki. Yang hakiki itu Allah yang turunkan ke dalam hati kita,” jelasnya.

 

Kebahagiaan hakiki tersebut, lanjut beliau, akan melahirkan kondisi nafs al-muthma’innah, yaitu jiwa yang tenang dan damai dalam berbagai keadaan. Bahkan dalam situasi sulit sekalipun, hati tetap stabil karena merasa dekat dengan Allah. Hal ini dicontohkan dari kisah Nabi Muhammad SAW saat berada dalam tekanan, namun tetap tenang karena keyakinan bahwa Allah selalu bersama-Nya.

 

Sebagai bentuk implementasi ajaran tarekat, pada akhir kajian Syekh Akbar juga memberikan ijazah wirid kepada jamaah berupa Tahlilul Makhsus. Amalan ini menjadi sarana praktis bagi jamaah untuk menjaga kontinuitas dzikir dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus memperkuat hubungan spiritual dengan Allah melalui sanad yang tersambung hingga Rasulullah SAW.

 

Melalui kajian ini, terlihat bahwa tarekat dan tasawuf bukan sekadar ajaran teoritis, melainkan sistem pembinaan ruhani yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan umat saat ini. Di tengah tantangan kehidupan modern, pendekatan tasawuf yang menekankan keseimbangan antara lahir dan batin menjadi jalan penting dalam membangun manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan berakhlak mulia.