STC Latih 3 Batch di Bank Indonesia, Dorong Kepemimpinan Ruhani di Tengah Tantangan Ekonomi
KOMINFO IDRISIYYAH • 11 Mei 2026
Sufi Training Center | 8 Mei 2026, Jakarta — Sufi Training Center (STC) terus menunjukkan konsistensinya dalam pengembangan kepemimpinan berbasis nilai dengan dipercaya melatih tiga batch program Spiritual Revival di Bank Indonesia. Program ini mencakup jenjang SESTABI dan SESMABI yang telah dilaksanakan pada April 2026, serta SESMUBI yang berlangsung pada Mei 2026.
Kepercayaan berkelanjutan ini menjadi indikator kuat bahwa pendekatan Sufistic Wellness yang diusung STC relevan dalam menjawab kebutuhan pengembangan pemimpin di institusi strategis. Di tengah dinamika ekonomi global dan tantangan terhadap stabilitas rupiah, penguatan aspek mental, emosional, dan spiritual menjadi fondasi penting dalam membentuk kepemimpinan yang tangguh dan berintegritas.
Dalam rangkaian pelatihan, peserta mendapatkan berbagai materi kunci seperti 5 Human Dimensions, urgensi tafakur dan dzikir, serta tazkiyatun nafs dan muhasabah. Materi-materi ini dirancang untuk membantu peserta memahami manusia secara utuh—tidak hanya dari sisi intelektual, tetapi juga ruhani, emosional, dan makna hidup—yang sangat memengaruhi kualitas pengambilan keputusan dan gaya kepemimpinan.
Lebih jauh, STC menegaskan bahwa kepemimpinan ruhani (spiritual leadership) menjadi inti dalam membangun sacred governance. Sejatinya, kemampuan memimpin tidak cukup hanya bertumpu pada Book Smart (kepintaran pengetahuan) dan Street Smart (kepintaran pengalaman), sebagaimana yang ditekankan oleh Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. Para calon pemimpin juga perlu menguatkan dimensi Spiritual Smart sebagai fondasi karakter dan integritas.
Melalui pendekatan 3S tersebut, para pemimpin diharapkan mampu menghadirkan keputusan yang tidak hanya tepat secara strategi, tetapi juga jernih secara hati, beretika, serta berorientasi pada kemaslahatan yang lebih luas.
Melalui pendekatan ini, STC dan Bank Indonesia menunjukkan bahwa transformasi kepemimpinan modern tidak cukup hanya bertumpu pada kompetensi teknis, tetapi juga pada kekuatan batin sebagai penuntun arah di tengah kompleksitas tantangan zaman.