Bedah Buku Negeri 5 Menara, Santri Idrisiyyah Diajak Berani Bermimpi Tinggi

KOMINFO IDRISIYYAH • 26 Mei 2026

Bedah Buku Negeri 5 Menara, Santri Idrisiyyah Diajak Berani Bermimpi Tinggi

Pesantren Idrisiyyah | Tasikmalaya, 26 Mei 2026 - Dalam rangka memperingati World Book Day 2026, Pesantren Idrisiyyah bekerja sama dengan Bank Indonesia Tasikmalaya menggelar kegiatan bedah buku Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi di Aula Musyahadah pada Selasa (26/5). Kegiatan ini dihadiri oleh santri putra, santri putri, serta para mahasantri Ma'had Aly Idrisiyyah dengan antusiasme tinggi mengikuti jalannya acara sejak awal hingga akhir.

 

Kegiatan bedah buku ini merupakan bagian dari program penguatan literasi yang diinisiasi Bank Indonesia melalui rangkaian World Book Day 2026 bertema “Connected by Literacy: Building Future-Ready Communities”. Berbagai kegiatan literasi yang digelar BI di sejumlah daerah menjadi bagian dari upaya membangun kualitas sumber daya manusia yang adaptif, kritis, dan siap menghadapi tantangan masa depan melalui budaya membaca dan menulis.

 

Dalam pemaparannya, Ahmad Fuadi menekankan pentingnya keberanian untuk bermimpi tinggi serta kesungguhan dalam berusaha. Ia menyampaikan bahwa perjalanan hidup tidak akan berubah tanpa keberanian keluar dari keterbatasan dan keyakinan untuk terus belajar. Melalui kisah Negeri 5 Menara, Ahmad Fuadi mengajak para santri agar tidak takut memiliki cita-cita besar meskipun berasal dari lingkungan pesantren

 

Selain itu, Ahmad Fuadi juga menyoroti pentingnya budaya menulis di kalangan santri. Menurutnya, menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan kata, melainkan bagian dari membangun peradaban dan menyebarkan manfaat ilmu kepada masyarakat luas. "Dengan menulis maka akan membuatmu lebih panjang melebihi umurmu", Beliau mendorong para santri untuk mulai menulis pengalaman, gagasan, dan nilai-nilai kehidupan pesantren agar dapat menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.


Suasana semakin hidup dalam sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Banyak santri mengajukan pertanyaan mengenai perjalanan pendidikan Ahmad Fuadi selama mondok di pesantren, proses terbentuknya karakter tokoh Alif dalam novel, hingga perjuangannya menempuh pendidikan dan meraih mimpi hingga ke luar negeri. Kedekatan pengalaman kehidupan pesantren membuat para santri merasa kisah Negeri 5 Menara sangat relevan dengan kehidupan mereka saat ini.

 

Melalui kegiatan ini, Pesantren Idrisiyyah berharap budaya literasi di lingkungan pesantren semakin tumbuh kuat, sekaligus menjadi bagian dari proses transformasi pendidikan pesantren yang terus berkembang menghadapi tantangan zaman. Literasi tidak hanya dipandang sebagai kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga sebagai fondasi membangun pola pikir kritis, wawasan global, dan karakter kepemimpinan generasi muda.


Kegiatan bedah buku ini juga menjadi refleksi semangat Pesantren Idrisiyyah dalam mewujudkan generasi santri yang bertasawuf, maju, unggul, dan mendunia. Dengan memadukan kekuatan spiritual, intelektual, dan budaya literasi, pesantren diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya kuat secara akhlak dan ruhani, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan peradaban global.


Menutup sesi bedah buku, Ahmad Fuadi menyampaikan rasa syukurnya dapat hadir langsung di Pesantren Idrisiyyah dan bertemu dengan para santri.


“ Saya bersyukur bisa berkunjung ke Pesantren Idrisiyyah, bertemu dengan para santri. Semoga di hari Arafah ini kita panjatkan doa agar para santri bisa lebih maju lagi dan mewujudkan cita-citanya,” tutupnya.