Syekh Akbar Ajak Masyarakat Menyucikan Hati dan Meneladani Semangat Hijrah dalam Safari Dakwah Bangka Belitung

KOMINFO IDRISIYYAH • 22 Juni 2026

Syekh Akbar Ajak Masyarakat Menyucikan Hati dan Meneladani Semangat Hijrah dalam Safari Dakwah Bangka Belitung

Tarekat Idrisiyyah | Pangkalpinang 19-22 Juni 2026 — Safari Dakwah Syekh Akbar Muhammad Fathurahman, M.Ag di Kepulauan Bangka Belitung telah berlangsung selama empat hari, 19–22 Juni 2026, Syekh Akbar mengisi rangkaian tabligh akbar dan kajian di empat masjid yang tersebar di tiga wilayah, yakni Kabupaten Bangka, Kabupaten Bangka Selatan, dan Kota Pangkalpinang.


Kegiatan dakwah tersebut meliputi Tabligh Akbar di Masjid Agung Sungailiat, Kabupaten Bangka, Tabligh Akbar di Masjid Raya Tuatunu, Kajian Subuh di Masjid Al-Iman, serta Tabligh Akbar di Masjid Jamik Pangkalpinang. Ratusan jamaah dari berbagai kalangan memadati setiap majelis untuk mengikuti tausiyah yang disampaikan oleh Mursyid Tarekat Idrisiyyah tersebut.


Mengangkat tema tasawuf dan refleksi Tahun Baru Islam 1448 Hijriah, Syekh Akbar mengajak jamaah untuk menjadikan pergantian tahun sebagai momentum memperbaiki diri dan mendekatkan hati kepada Allah SWT. Menurut beliau, perjalanan spiritual seorang muslim harus diawali dengan upaya membersihkan hati dari berbagai penyakit yang menghalangi datangnya cahaya ilahi.


"Hati manusia bagaikan wadah. Agar cahaya Allah bisa masuk, wadah tersebut harus dibersihkan dari kotoran," ujar Syekh Akbar dalam salah satu kajiannya.


Beliau menjelaskan bahwa dalam ilmu tasawuf terdapat dua tahapan penting yang harus ditempuh oleh setiap pencari jalan menuju Allah. Tahap pertama adalah takhliyah, yaitu mengosongkan hati dari berbagai sifat buruk dan penyakit hati yang dapat merusak kehidupan spiritual seseorang. Setelah itu, dilanjutkan dengan tahliyah, yakni menghiasi hati dengan sifat-sifat terpuji dan akhlak mulia sehingga hati menjadi tempat yang layak bagi hadirnya cahaya dan petunjuk Allah SWT.


Selain membahas penyucian jiwa, Syekh Akbar juga mengajak jamaah memahami makna mendalam di balik penetapan Tahun Baru Islam. Dalam tabligh akbar di Masjid Jamik Pangkalpinang, beliau mengisahkan proses penetapan kalender Hijriah pada masa para sahabat Rasulullah SAW.


Syekh Akbar menjelaskan bahwa ketika para sahabat bermusyawarah menentukan titik awal kalender Islam, Sayyidina Ali bin Abi Thalib memberikan pandangan yang berbeda. Beliau mengusulkan agar kalender Islam dimulai dari peristiwa Hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah, bukan dari kelahiran, kenabian, maupun kemenangan besar umat Islam.


Menurut Syekh Akbar, pilihan tersebut mengandung pesan yang sangat mendalam. Peristiwa Hijrah merupakan fase yang penuh ujian, pengorbanan, ancaman, dan perjuangan dalam mempertahankan keimanan. Dengan menjadikan Hijrah sebagai awal kalender Islam, generasi muslim diharapkan selalu mengingat bahwa kejayaan tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari kesabaran dan pengorbanan dalam memperjuangkan kebenaran.


"Sayyidina Ali berharap generasi Islam setelahnya selalu mengingat perjuangan para pendahulu dalam menjaga iman. Kalender Islam tidak dimulai dari peristiwa yang menyenangkan, tetapi dari momentum pengorbanan dan perjuangan," terang beliau.


Melalui rangkaian Safari Dakwah ini, Syekh Akbar tidak hanya mengajak masyarakat memperingati datangnya Tahun Baru Islam 1448 Hijriah secara seremonial, tetapi juga menjadikannya sebagai momentum hijrah batin; membersihkan hati, memperbaiki akhlak, dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Pesan-pesan tasawuf yang disampaikan mendapat sambutan hangat dari jamaah yang memadati berbagai majelis dakwah di Bangka Belitung.


Safari Dakwah tersebut menjadi salah satu rangkaian syiar Islam yang mempererat ukhuwah sekaligus menumbuhkan semangat pembinaan ruhani di tengah masyarakat Bangka Belitung dalam menyambut tahun baru Hijriah.